Halo Semuanya ✨
Apa kabar nih? lama ya kita gak ketemu 😙 Gendis rindu kalian semua 🤗
Buat kakak semuanya selamat Natal ( bagi yang merayakannya) dan selamat tahun' baru untuk kakak semua 🥰 Salam Sayang dari Gendis ✨
Semoga di tahun ini semua doa kita dikabulkan Tuhan dan diberi umur yang panjang dan rezeki yang melimpah ruah Amin✨✨✨
Maaf Ya Baru update lagi 🙃😭 karena beberapa bulan lalu memang gak konsen untuk update karena ada masalah keluarga 🙃🥰
Oke deh segitu dulu, besok kita ketemu lagi ya ✨
------
" ini tu disini ayah, ayah lupa ya?" Tanya Zira membantu Pram menyusun Lego yang telah dimainkan beberapa kali oleh zira dan gendis di waktu luang seperti ini Pram memang menyempatkan untuk menghabiskan waktu bersama keluarga kecil nya dirumah, setelah menyusun beberapa lego Pram mengulurkan tangan nya untuk menggoyangkan ayunan si kembar yang tertidur pulas di dalam ayunan saat ini umur si kembar sudah 7 bulan bayi kembar Pram tersebut sudah pandai berceloteh dan aktif menjilati semua barang yang ia pegang.
" Duhh ayah pusing mbak mainnya, mbak main sendiri ya? Ayah mau ke kamar mandi sebentar" ujar Pram yang di anguki Zira.
" Acalamualaikum, endis ulang" suara nan cempreng yang seharian ini tidak terdengar akhirnya terdengar, zira bangkit menyalami tangan Aluna yang bebas dari kantong asoy dan mencubit pipi gembul gendis.
" Wa'allaikum salam, Assalamualaikum Gendis pulang!" Ujar Zira mengulang ucapan gendis yang masih cadel terkadang zira memang geram dengan adik nya ini yang belum terlalu fasih dalam berbicara di umurnya yang sudah 5 tahun'.
" Ayah Mana Mbak? " Tanya Aluna pada Zira yang kembali duduk di tempat semula dan gendis ikut bermain dengan sang kakak .
" Ayah ke kamar mandi Ma, oh iya ma besok mbak ada acara Pramuka di sekolah" ujar zira menatap Aluna yang sudah bersih bersih dan melihat kearah si kembar yang masih nyenyak tertidur.
" Terus disuruh nginep gitu"
" Berapa lama?" Tanya Aluna mengangkat alis nya satu
" Paling 2 malam 3 hari mah, persiapan jambore Nasional nanti" ujar zira Yang di anguki Aluna.
" Ya udah nanti mamah siapin barang yang mau mbak Bawak, oh ini tadi mama ada beli siomay di makan gih kalau udah dingin gak enak" ujar Aluna menurun kan plastik putih yang berisi 7 bungkus siomay
" Endis au catu mama, endak au Edes" ujar Gendis semangat ia dengan sigap berdiri mengangkat tubuh nya yang gembul dan berlari ke arah aluna takut sang mbak akan mengambil milik nya.
Pertumbuhan anak kedua Pram ini memang cukup pesat terlihat di umurnya yang baru menginjak angka 5 berat badan nya sudah lebih dari bobot anak seusia itu, Aluna pernah membicarakan hal ini pada Pram untuk mengurangi berat badan Gendis namun baru satu kali dicoba anak semok nya itu langsung jatuh sakit dan dilarikan ke Puskesmas semenjak itu lah aluna tetap membebaskan Gendis untuk ini itu tetapi Aluna tetap mengontrol nya.
" Loh sudah pulang mah? Ayah kira pulang nya sore" ujar Pram yang baru keluar dari kamar mandi.
" Sudah Yah.. Pertemuan nya endak lama lama soalnya buk Rt kata nya mau pergi keluar kota" ujar Aluna menyiapkan siomay untuk Pram memang tadi ia meninggalkan rumah beberapa saat karena ada kegiatan rutin ibuk - ibuk Rt setempat yang rutin aluna ikuti.
" Hujan to? Jemuran tadi pagi udah ayah angkat kan? " tanya Aluna yang telah memberi pesan sebelum ia pergi tadi kepada Pram.
" Sudah Mah, sudah sekalian ayah kasih mbah inem untuk di setrika " ujar Pram menyantap makanan yang di beli Aluna tadi.
" Adik embal angun uda ciang " ucap Gendis iseng megayun kedua adik kembar nya agak keras.
" Mamah endis au eli baju belenag yang ada ekor ikan nya" ujar gendis mengingat sesuatu yang belum ia punya.
" Pasti lihat di hp iku mah, mamah si Gendis masih kecil gitu moso di kasih hp " Ucap Pram sedikit berbisik pada Aluna yang belum menyantap makanan nya karena tengah menyusui salah satu bayi kembar nya merengek-rengek.
" Yowes nanti beli nya sama ayah' saja, kalau pesan online pasti lama dateng nya " Ujar Aluna tau mau memperpanjang masalah.
Beberapa Minggu belakang desa ini dilanda hujan disertai angin kencang membuat beberapa titik di desa ini terjadi longsor dan pohon tumbang maklum nama nya desa, Pram pun yang bekerja diluar kota terpaksa cuti beberapa waktu mengingat alam yang tidak mendukung dan pram hanya mengelola pekerjaan yang ia punya di dalam desa.
" Harga sembako kok makin hari makin naik, cabai merah saja satu ons 10 RB" dumel Aluna mengulek cabai merah dengan beberapa bumbu dapur untuk membuat sambal terasi sedangkan Pram yang tengah membaca koran di kursi meja makan hanya menanggapi sesekali.
" Yo maklum toh mah naik wong akses nya masuk ke desa kita itu susah" ujar Pram menyeruput kopi panas nya.
" Jadi kepengen punya kebun sendiri" gungam Aluna pelan tanpa sadar.
" Mamah....Mbak boleh mandi hujan Ndak?"
" Endisss uga mama"
Suara teriakan nan menggelegar milik zira dan gendis membuat aluna meringis, ke-dua anaak Nya itu hanya perlu persetujuan dari Aluna saja karena kalau meminta izin pada sang ayah pasti tidak akan diberi.
Aluna berdecak pinggang, bagaimana mau menolak kalau kedua anak nya itu sudah menganti pakaian yang sering di pakai untuk berenang, lihat Gendis ... dengan tubuh yang semok dan baju berenang yang memang pada dasarnya tidak muat lagi menutup perut sang anak yang membuncit dan lipatan di beberapa bagian tubuh anak nya.
" Main nya sebentar saja, endak usah lama jangan sampai ke sungai sana, mbak liatin gendis.. gendis iku suka kesana kemari kalau tidak dilihat"
" Ote bos" ucap Gendis hormat setelah itu berlari dengan tubuh yang bergerak kesana-kemari.
" Uhh anak ku makin semok" Ujar Aluna gemas sendiri melihat tingkah Gendis dan Zira yang sudah mulai beranjak remaja.
" Anak Ayah Pram mah subur semua wong ayah subur gini" ujar Pram bangga memperlihatkan otot tangan nya yang sedikit berbentuk.
" Subur opo? Subur lemak ne? " Ejek aluna mengusap perut pram yang buncit hanya ditutupi kaos kutang putih.
---
Jangan lupa like dan komen ✨🥰
KAMU SEDANG MEMBACA
Terjerat Cinta Mas Duda 🔞 (End)
Spiritual" Buk....mas Pram semalam megang dada ku" bisik Aluna di telinga Rahma, Rahma yang tengah menyusun piring itu melihat ke arah Aluna. Aluna dengan wajah memalas menatap ibu nya. " Terus kenapa toh nduk??" " Yo itu pelecehan bukk" Aluna merengek Deng...
