Bagian 9

879 107 3
                                    

Leo bukanlah maniak party, tapi tak juga menolak jika diajak bersenang-senang. Kepribadiannya yang supel menguntungkannya untuk mudah bergaul dengan orang lain. Sejak memasuki rumah Lex yang berubah fungsi menjadi aula pesta, ia tak menyangka akan berakhir beradu mulut dengan orang lain.

Leo tengah terhanyut di lantai dansa dengan seorang gadis berambut pendek yang mengajaknya. Gadis itu memegangi bahunya dan Leo balas merangkul pinggangnya. Mereka menari bersama dengan alunan musik DJ yang mengisi seluruh ruangan. Terlalu ramai dan menyesakkan tapi tak jadi masalah. Inilah saat yang paling tepat untuk menghilangkan stress. Sesekali pandangannya mengedar ke sekeliling, tak jauh darinya ada Gyumin dan Davin yang tengah asik menari juga. Sedangkan dua temannya yang lain, Beomsoo dan Wain tak terlihat dalam jangkauannya.

Leo merasakan tangan gadis di hadapannya mulai meraih leher belakangnya dan mendekatkan wajahnya. Leo sempat terkesiap namun tak juga protes. Namun senggolan dari arah belakang menggagalkan cumbuan itu. Leo mendengus kesal pada siapa pun yang merusak momennya. Ia menghadap belakang hendak menegur orangnya, namun pandangannya justru mengarah pada hal yang lain, ia mendaratkan penglihatannya pada pemuda yang sedang terduduk di sofa bersama seorang pria tak begitu jauh dari lantai dansa.







Itu Zayyan


Leo memicingkan matanya dan memfokuskan pandangannya pada mereka berdua. Dari kejauhan terlihat Zayyan yang merasa tidak nyaman dengan perlakuan lelaki di sampingnya. Matanya semakin membola saat lelaki itu meraba leher Zayyan dengan sensual. Leo sudah benar-benar berhenti menari saat lelaki itu mulai membawa Zayyan ke arah tangga menuju lantai atas.

Seingatnya, Lex menyediakan beberapa kamar untuk para tamu yang ingin menghabiskan malam panjang yang Leo paham apa maksudnya.

"Leo-ssi, kenapa berhenti?"

Leo kembali menghadap gadis di depannya, gadis itu memegangi kedua pipinya hendak melanjutkan kegiatan mereka yang tertunda, tapi wajah Zayyan justru mengusiknya. Leo mundur menjauh dari gadis itu.

"Maaf" dengan itu Leo pergi meninggalkannya yang tercenung di tempat.

Leo menghampiri Zayyan yang terlihat pasrah dirangkul oleh pria tadi. Untung saja Leo datang tepat waktu saat sedikit lagi lelaki itu mendaratkan bibirnya pada Zayyan.

Leo bergegas menarik lengan Zayyan dan merebutnya, sempat adu mulut namun Leo beruntung karena pria itu tak memperpanjang persoalannya.

Leo dengan susah payah membopong Zayyan, meletakkan tangan kanannya pada pinggang Zayyan dan menuntunnya keluar. Ia sempat kalang kabut saat Zayyan mual dan ingin muntah, untung saja ia berhasil menahannya sampai di luar.

Leo memandangi Zayyan yang terduduk menyedihkan usai muntah. Efek dari mabuk yang membuat Zayyan tak menyadari apapun yang terjadi. Apa dia juga akan melupakan semua kejadian malam ini jika sudah sadar? Tangannya reflek memijat tengkuk Zayyan, membantunya memuntahkan semua.

Setelah bersusah payah membawanya pulang, mereka akhirnya tiba di apartemen Zayyan. Leo beruntung Zayyan masih bisa merespon pertanyaannya mengenai kode pintu mereka lantaran setelah memencet bel beberapa kali, Sing tak terlihat membuka pintu, ternyata dia tak ada.

Leo membaringkan tubuh Zayyan di atas kasur dan bergerak melepaskan sepatunya. Sejenak ia termangu memandang Zayyan yang tidur lelap seperti tak terjadi apa-apa. Leo tersadar dengan perbuatannya, tak mengerti kenapa ia begitu panik saat melihat Zayyan hampir ternodai tadi.

Bukannya mereka saling bermusuhan?
Lalu kenapa ketakutan itu sangat menyesakkan?

Leo menggeleng gusar, ia menyelimuti Zayyan dan beranjak pergi.




One For Two | ZaLeSingTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang