NEPATIN JANJI!
Dua part sesuai janji, tapi part ini gak janji loh tembus 1000 kata, kudet soalnya.
HAPPY READING
AND
SORRY FOR TYPO
•••
Naufal duduk termangu sendirian, sudah lebih dari 30 menit pandangannya hanya tertuju pada luar jendela kamar inapnya, pandangannya yang melihat kedepan tak selaras dengan hatinya yang jauh berkelana ke masa-masa belakang, Ia kembali rindu masa-masanya bersama Bunda, ayah, Revan, dan nofal bermain bersama untuk menghibur nofal yang berada di rumah sakit.
Memang sedikit egois, tapi jika boleh, Naufal ingin kembali ke waktu itu, dimana hanya ada kehangatan.
Air matanya kembali meluruh, sekarang ia sedang mempertimbangkan hal yang tak pernah ia bayangkan. Sekarang, Naufal akan memutuskan untuk berhenti berharap, berhenti menganggu hidup etry, dan berhenti untuk memperjuangkan kasih etry untuknya lagi.
"Semoga dengan Nana gak ganggu bunda, hidup bunda bisa jauh lebih baik." Dilepasnya infus yang melekat pada tangannya, dan keluar kamar inap sembari menenteng jaket Nofal yang kebetulan ada di sofa.
Setelah berada di luar rumah sakit, matanya meliar dengan tatap bingung, Naufal bingung harus kemana, dan apa tujuannya. Tapi dia tak peduli, yang terpenting adalah jangan menganggu hidup etry lagi.
Beberapa menit menunggu, akhirnya sebuah taksi lewat, segera ia naik dan mengatakan tempat tujuannya.
Ia, akan pergi ke rumah Haekal. Naufal tau, dia sudah terlalu banyak merepotkan Haekal di hidupnya, namun Naufal merasa hanya Haekal yang dapat menjadi tempat pulangnya sekarang.
Setelah sampai, Naufal membayar pada supir, untung saja ada beberapa lembar uang di dalam saku jaket nofal.
diketuknya pintu itu tiga kali. Tak selang lama, wanita yang nampak anggun membukakan pintu untuk Naufal, dengan segera Naufal menyaliminya. Dia karina, bunda Haekal. Melihat wajah Karina yang terdapat tepung, ia yakin bahwa sekarang Karina sedang membuat kue. Menyadari bahwa sedari tadi Karina mengajaknya masuk, dengan segera ia melepas sandal dan masuk ke rumah Haekal.
"Duduk dulu sana Nanti bunda.., eh tunggu." Mata Karina menatap tubuh Naufal dengan seksama, menyadari baju yang dikenakan Naufal merupakan baju pasien, Karina baru menyadari terdapat perban di pelipis Naufal.
Dengan wajah khawatir yang mendominasi, Karina duduk disebelah Naufal dan menyentuh wajah Naufal pelan. "kamu oke? kenapa kok bisa luka?"
Naufal menunduk, dia selalu merasa lemah jika sudah dihadapkan dengan suara lembut dan kasih Karina.
andai saja, andai etry memperlakukan hal yang sama padanya sebagaimana Karina memperlakukannya, mungkin Naufal akan berteriak keras dan menyebut bahwa ia orang paling beruntung di dunia.
Namun tetap saja, itu hanya andai.
Karina yang menyadari bahwa Naufal menangis, dengan pelan dia memeluk Naufal, menepuk pelan punggung tegap naufal yang membuat Naufal kian ingin mengeraskan tangisnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Abu (End)
Ficção Adolescente"Bukankah kita hanya sebatas senja dan daratan?saling melihat tapi tak terikat, saling menatap namun tak menetap". -S.k "Gue usahain asal itu bikin Lo ba...
