41. Sesal yang tak berarti

615 31 1
                                        

HEHEHE

Halo!!

HAPPY READING

AND

SORRY FOR TYPO GUYS!

•••

Dingin malam yang kini menembus seonggok kain yang menutupi tubuh tak lagi mampu memberikan hangatnya. Hembusan nafas hangat yang kini ditiupkan ke telapak tangan mengerahkan sedikitnya rasa yang dapat mengurangi dingin malam. 

Naufal, Haekal, beserta teman-temannya yang lain tidak memutuskan untuk tidur setelah kericuhan yang di sebabkan oleh Langit dan temannya. Dengan kata lain, mereka malah membakar sedikitnya 15 pack sosis yang ada di kulkas dapur mereka. Ditemani oleh kopi buatan Naufal, mereka semua berkumpul di halaman rumah, beralaskan tikar kecil yang mereka jejerkan hingga membentuk tempat yang dijadikan alas duduk.

Tak sedikit dari mereka yang mengeluhkan gigitan serangga yang selalu menganggu dengan suara dengungan kencang di dekat telinga. Salah satunya Haekal, sedari tadi ia hanya sibuk mengibaskan sarung yang ia gunakan untuk mengusir serangga berisik itu. "Brengsek lo nyamuk, gue doain perjaka tua lo!"

"Nyamuk yang ngambil darah itu katanya cuma nyamuk cewek bang!" Saut salah satu anggota javiero yang juga ikut mengusir nyamuk, bedanya ia menelungkupkan tubuhnya untuk ditutup oleh sarung.

"PERAWAN TUA LO SIALAN!" Teriak Haekal menyauti ucapan temannya, lantas gelak tawa terdengar.

Naufal yang juga ikut memanggang sosis kini terkekeh mendengar umpatan Haekal yang hanya untuk nyamuk.

Ponselnya bergetar, tanda sebuah pesan masuk.

Keningnya mengernyit, melihat sebuah nomor tak tersimpan mengirimnya sebuah pesan teks. Ingatannya kembali pada pesan-pesan yang dahulu di kirim Satria. Tak ingin menyesal, Naufal membuka pesan itu.

: Nayaka, itu nama yang pengen kamu dengar dari orang yang manggil kamu kan?
Ini ..., bunda.

Nafas Naufal terasa tercekat sebelum melanjutkan membaca pesan, ia mengusap matanya berulang kali, mencoba menyadarkan diri bahwa ini memang benar kenyataan.

Air matanya mengenang, tangannya terangkat kembali melihat layar ponsel.

: Mungkin apa yang bunda ketik di ruang chat ini gak sebegitu berarti buat kamu, tapi perlu kamu tau, bunda nulis ini dengan keadaan sadar dan sehat. Bunda minta maaf, maaf yang bunda gak tau sebesar apa maaf itu. Bunda merasa buta akan segala dendam yang bunda pendam untuk kamu, bunda menutup mata dari fakta, bunda salah, salah besar. Kalau kamu berkenan ..., pulang ya? tapi sekarang bunda lagi gak dirumah, bunda mau beli bahan makanan kalau aja kamu berkenan pulang dan nerima maaf bunda yang bunda yakin gak pantas itu. Bunda tunggu ya? bunda akan beri kamu kasih yang selama ini kamu harap itu. Jika butuh, bunda akan dengan senang hati bersujud meminta maaf dari kamu Na, bunda menyesal. Untuk sekedar menjawab yang mungkin menjadi kebingungan kamu, bunda dapat nomor kamu dari Bian, tolong sampaikan terima kasih bunda ke bian kalau kamu gak keberatan..

Air mata Naufal mengalir deras, dengan segera ia berlari ke arah Bian.
Bian yang sedang bermain gitar menatap terkejut Naufal yang datang padanya dengan wajah basah.

Abu (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang