35. sembuh?

533 20 4
                                        

MAT MALAM SEMUA

Gabut nih, jadi lanjut ngetik aja

semoga suka yaw!

•••


Naufal berjalan dengan langkah yang tergesa dan jantung yang berdegup dengan ritme yang jauh lebih cepat dari normalnya, rasa tak karuan kini menggebu kuat di hatinya.

saat sampai pada tempat tujuannya, ia menendang pintu rumah itu dan menatap sekeliling dengan tatapan aneh.

"Haekal mana!?" Anggota javiero yang melihat bos mereka yang nampak tak karuan itu segera menunjuk dapur, tempat Haekal berada.

segera, ia berlari ke dapur.

"CHAN!!GUE PUNYA BERITA BAIK." Jauh, sangat jauh dari bayangan anggota javiero sehingga mereka semua cengo.

Saat melihat ekspresi Naufal tadi, seakan akan terjadi suatu adegan pukul memukul antara keduanya. Namun kini keadaannya sangat jauh berbeda dari dugaan mereka. Keduanya malah saling memeluk dengan teriakan menggema.

"SERIUS!?" Haekal menatap tak percaya Naufal yang menatapnya semangat, sebelum tubuh bongsor Naufal memeluknya erat.

"BENERAN!GUE SEMBUH CHAN!!" Sungguh, ini hal yang tak pernah Naufal bayangkan.

hidup dalam bayang-bayang penyakit keras kini sirna dari pikirannya. Naufal yang dulunya tak punya semangat untuk sembuh kini mendapat keajaiban dengan surat yang menyatakan bahwa dirinya bebas dari sel mengerikan itu.

Naufal tak menyangka, ia kembali bisa hidup sehat dan menjalani hidup layaknya orang normal lagi.

"Kita bisa sampai di jenjang kuliah itu dong!?" Naufal mengangguk semangat dan kembali memeluk Haekal. Naufal berbalik, dan menatap semua anggota javiero yang tampaknya ikut antusias dari kabar yang bahkan mereka tak tahu.

"KITA PESTA!!" Teriakan menggema pada rumah minimalis itu. Naufal tersenyum lebar, harapannya pada hidup bahagia kini bagai bunga yang dipupuk kembali.

Ia ditelepon oleh dokter yang merawatnya selama menjalani pengobatan untuk penyakit yang dideritanya. Dalam percakapan singkat mereka, dokter mengatakan ada hal yang harus ia beri tahu pada Naufal yang tentu saja membuat perasaan Naufal kalau balau.

Namun, ia jauh diluar dugaannya.

Ia kira penyakitnya memburuk dan tak ada harapan lagi untuknya bertahan. Namun nyatanya Tuhan lebih tau apa yang Hamba-nya butuhkan.

Tuhan yang selalu mengatur jalan takdir, dan Tuhan yang selalu adil.

Kini, dia akan jauh lebih menghargai waktu yang ia punya, waktu bersama keluarganya dan waktu untuknya berjuang lagi untuk membuat keluarganya kembali layak, bukan seperti sekarang.

Malam itu mereka habiskan untuk berpesta, dengan banyak makanan cepat saji dan beberapa botol minuman. Mereka menjalani hidup layaknya pemuda normal, yang selalu haus akan validasi dan selalu mengharapkan dunia yang menyenangkan. Suara musik bergema dengan nyanyian Haekal dan Bian yang bernyanyi sembari menggerakkan tubuh dengan gerakan abstrak.

Naufal duduk di sofa ruangan itu, ia memperhatikan gerak gerik anggotanya, semuanya seolah baik-baik saja. Namun nyatanya, mereka tak selalu baik, takdir selalu tak berpihak pada mereka.

Keadaan yang memaksa mereka untuk terlihat baik-baik saja walau nyatanya mereka ingin berteriak pada takdir yang tak adil pada mereka, mereka ingin marah, namun pada siapa? pada siapa mereka bisa marah? Tuhan? memangnya mereka siapa yang berhak untuk menyalahkan Tuhan? apa mereka sepenting itu? apa mereka sesakit itu? Hanya hal itu yang dapat ditekan pada jiwa mereka.

Hal itu, yang membuat mereka menjadi bom waktu. bom yang saat tiba waktunya akan meledak dan memporak-porandakan sesuatu yang menjadi pemantiknya.

Naufal, menjadi salah satu dari 'mereka'

Naufal seolah menjadi bom waktu saat ia menekan banyak amarah pada jiwanya, rasa ingin meluapkan itu ia tekan kuat pada jiwanya, membuat mentalnya juga ikut menderita.

Wajah Naufal menampilkan ekspresi tak terbaca setelah melihat layar ponselnya yang menampilkan sebuah ruang chat.

bunda

jangan mencoba mati.
kamu masih punya dua bulan untuk hidup bebas.
kamu gak lupa, kan?

bunda kayak alarm.
selalu ngingetin tepat waktu.

kekehan kecilnya teredam oleh suara nyaring Haekal.

Naufal tau, rasa senang berlebihan memang tak pernah berakhir baik untuknya. entah lah, Naufal merasa ia tak berhak mendapatkan bahagia.

"Percuma Lo sembuh na, lo bakal tetap mati dengan takdir yang jauh lebih mengenaskan." ia tertawa keras, membuat atensi beralih sejenak padanya.

mereka yang mengira Naufal tertawa bersama mereka pun lantas ikut tertawa di gelapnya malam itu. Ia belajar, mungkin dengan tak terlalu cepat merespon kebahagiaan akan membuat kebahagiaan itu jauh lebih membahagiakan.

ia bingung. Sekarang, ia sembuh atau justru kembali sakit?

"bunda doanya kurang khusyuk kayaknya nih, Nana malah sembuh dari kanker." Nada ceria itu sama sekali tak selaras dengan air mata yang mengantri jatuh dari kelopak matanya.

Malam itu, Naufal kembali disakiti semestanya.

•••

hari yang lalu tak perlu dimanjakan, hari yang akan datang tak perlu di khawatirkan. Tuhan lebih tau apa yang harus ia berikan.

untuk part ini maaf pendek ya!

besok janji tembus 1000 kata deh

suer!

TBC

Abu (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang