"Asyara peduli karena Asya hawatir Gus! Asya sayang sama Gus" Jelas Asya dirinya seakan-akan menjatuhkan harga diri di depan suaminya.
"Kamu hanya buang-buang waktu karena mencintai seseorang yang di hatinya sudah ada perempuan lain!" Ucap Gus Rafa...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
احبّللنّاسماتحبّلنفسك
"Cintailah mereka sebagaimana kamu mencintai dirimu sendiri".
"""
Di pagi hari Asya duduk terdiam di kasur, rasa pusing di kepalanya terus menerus mengganggu bahkan untuk sekedar berjalan ke luar pun Asya tak mampu. Asya berusaha sedikit-sedikit untuk berjalan namun nihil bayang-bayang hitam seakan-akan muncul di hadapannya hingga ia hendak terjatuh namun seseorang sigap menahannya.
"Asya kamu gak papa"Tanya Zahira masih menahan Asya yang sempoyongan.
"Asya gak papa, lepasin Asya Ustadzah"Asya sedikit meninggikan bicaranya sembari menghempaskan tangan Zahira. Sungguh perlakuan Asya mampu membuat Zahira keheranan .
"Ustadzah bantuin yah" Bujuk Zahira kembali memegang lengan Asya.
"Asya bisa sendiri Ustadzah. Asya bukan anak kecil!"Kali ini perkataan Asya mampu membuat Zahira terdiam kaku. Asya berusaha menyeimbangkan tubuhnya, perlahan ia berjalan dengan menelusuri tembok sampai tiba di depan pintu tangan Asya tak mampu berpegangan kuat hingga membuatnya terjatuh.
"Asya"Panik Zahira kembali menghampiri Asya.
"Asya gak lemah Ustadzah, Asya bisa sendiri hiks"Tangis Asya menatap kosong di depannya.
"Asya kali ini nurut sama Ustadzah yah, biar Ustadzah bantu."
"Ustadzah gak perlu baik sama Asya, Asya malu hiks"
"Kenapa kamu malu Asya, ini sudah kewajiban Saya untuk jaga Kamu" Jelas Zahira memegang pundak Asya.
"Maafin Asya Ustadzah karena sudah lancang suka sama Gus Rafa. Padahal Gus Rafa sudah berniat melamar Ustadzah"
Deg
Bagaimana Asya mengetahuinya "Asya Perasaan yang datang ke Kita itu tidak bisa di hindari dan ini juga bukan kesalahan Kamu."Tutur lembut Zahira menenangkan Asya, sungguh di posisinya ia sangat bingung harus bagaimana selain memberikan hal positif pada Asya.
"Sekarang Asya yang do'ain yah semoga Ustadzah bisa dengan Gus Rafa"Tutur Asya pelan.
"Hal itu tidak penting, yang terpenting sekarang adalah Kamu sembuh"Zahira segera membantu Asya untuk berdiri dan membawanya ke tempat tidur kembali.