"Asyara peduli karena Asya hawatir Gus! Asya sayang sama Gus" Jelas Asya dirinya seakan-akan menjatuhkan harga diri di depan suaminya.
"Kamu hanya buang-buang waktu karena mencintai seseorang yang di hatinya sudah ada perempuan lain!" Ucap Gus Rafa...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
قدننسىالالملكنلاننسىمنغرزه
"Kita boleh melupakan suatu luka, tetapi kita tidak boleh melupakan siapa yang melukainya."
"""
"Zahira."
"Itu Zahira, ini yang kedua kalinya aku melihat dia berpakaian seperti ini. Apakah mereka memiliki hubungan?"
"Mas ini buburnya sudah siap." Panggil tukang bubur. Rafa langsung menghampirinya.
"Makasih bang. Ini uangnya."
"Sama-sama Mas."
Rafa kembali mencari Fael dan Zahira di sebrang tetapi tidak menemukannya.
"Aku gak salah lihat, itu pasti Zahira. Tetapi apa alasan dia harus berpakaian seperti itu kembali."
Rafa benar-benar bingbang sehingga ia memilih untuk kembali ke pesantren. Saat sudah tiba di pesantren perasaannya tak enak hati. Terus memikirkan kejadian tadi yang ia lihat.
"Mas." Panggil Asya saat Rafa membuka pintu ndalem. "Loh Kamu kok di sini?" Tanya Rafa, padahal ia menyuruh Asya menunggunya di ndalem.
"Asya denger suara motor, makanya ke sini." Jelas Asya, matanya tertuju pada baju yang Rafa kenakan sedikit kebasahan mungkin karena hujan di luar sana.
"Baju Mas basah, maaf Mas gara-gara Asya Mas kehujanan." Lirih Asya merasa tak tega pada Rafa.
"Gak papa kok Sayang, yang penting makanannya ada." Rafa memperlihatkan sebuah plastik di tangannya. Tentu Asya tersenyum kegirangan.
"Yey, Buburnya ada." Rafa tersenyum lalu sedikit mencubit gemas pipi Asya yang sangat menarik bagi dirinya. Hari-hari ini Asya terlihat beda. Bahkan berat badannya seperti bertambah.
"Gemess bangett sih, kita makan yuk." Ajak Rafa menggandeng lengan Asya untuk ia bawa ke ruang tv.
"Mas tunggu di sini aja, biar Asya bawain baju ganti." Rafa mengangguk sebagai jawaban.
Asya lalu sedikit berlari untuk mengambil baju. Rafa juga menyiapkan makanan dan membawanya ke ruang tv. Setelah selesai Asya menghampiri Rafa yang sudah duduk di kursi menunggunya.