"Asyara peduli karena Asya hawatir Gus! Asya sayang sama Gus" Jelas Asya dirinya seakan-akan menjatuhkan harga diri di depan suaminya.
"Kamu hanya buang-buang waktu karena mencintai seseorang yang di hatinya sudah ada perempuan lain!" Ucap Gus Rafa...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"""
Siang ini Asya dan Rafa sedang menuju tempat peresmian butik milik Asya.
"Tempatnya masih jauh?" Tanya Rafa, sembari memegang lengan Asya. "Sebentar lagi juga sampai Gus."
"Kalau dari sini berarti tidak terlalu jauh dari rumah Saya, emm kamu sengaja memiliki butik dekat sini?"
"Iya, soalnya biar Asya gampang kalau ada apa-apa."
"Bagus, nanti kita bakalan menempati rumah itu kalau urusan Saya di pesantren sudah selesai."
"Urusan apa yang harus Gus selesaikan di pesantren?" Tanya Asya, bukankah jika mereka berdua menempati rumah itu tidak akan terjadi apa-apa. Bahkan Rafa juga bisa menyelesaikan urusannya walau harus menempati rumah itu. Lagian rumah dan pesantren juga tidak terlalu jauh.
"Saya hanya ingin menikmati kebersamaan bersama Umma dan Abi sebelum pindah ke rumah"
"Maafkan Saya telah berbohong kepadamu. Sebenarnya Saya tidak berani meninggalkan pesantren karena ingin mengawasi Zahira." Ucap Rafa dalam hati. Dia memang takut Zahira akan dekat dengan siapapun di pesantren, Ia belum rela. Bahkan jika suatu saat nanti bisa melepaskan Zahira dan mencintai Asyara. Mungkin Rafa masih teringat Zahira.
"Kalau Kita menempati rumah baru Gus, boleh Asya minta satu hal."Rafa melirik sekilas Asya lalu kembali melihat ke depan.
"Apa yang akan Kamu minta?"
"Asya mau mengubah kamar kita, sebenarnya Asya suka warna biru. Tapi, Asya gak mau Gus teringat tentang Ustadzah Zahira hanya karena warna kesukaan nya juga." Jelas Asya sumringah, ia yaqin kali ini Rafa tidak akan menolak. Ia juga tidak mungkin menempati kamar yang Rafa buat untuk Zahira bersamanya dulu. Itu sama saja akan membuatnya sakit hati.
"Saya akan pikirkan tentang itu." Jelas Rafa. Ia juga melepaskan tangan Asya dari genggamannya.
Deg
Asya yang melihat itu tidak bisa berkata-kata lagi, apakah Rafa masih mengingat Zahira. Beberapa menit hanya keheningan yang terjadi diantara mereka berdua, hingga mereka tiba di tempat acara.
"Ini tempatnya?" Tanya Rafa. Ternyata sudah banyak orang yang mengantri disana bahkan butik ini saja baru akan diresmikan.
"Banyak orang ternyata." Ucap Rafa merasa heran dari mana orang-orang mengetahuinya.
"Pasti mereka para pengikut di sosial media Asya, soalnya Beberapa hari Asya posting tentang peresmian butik."
"Ternyata kamu diam-diam sudah merencanakan ini semua."