"Asyara peduli karena Asya hawatir Gus! Asya sayang sama Gus" Jelas Asya dirinya seakan-akan menjatuhkan harga diri di depan suaminya.
"Kamu hanya buang-buang waktu karena mencintai seseorang yang di hatinya sudah ada perempuan lain!" Ucap Gus Rafa...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
أحيانايبدوجميلايكونلهعمليهليستسهلة
"Terkadang sesuatu yang terlihat indah memiliki proses yang tidak mudah."
"""
"Fael." Ucap Rafa, ternyata lelaki tersebut adalah Fael. Melihat itu juga Fael langsung mengambil dompet miliknya.
"Terima Kasih." Ucap Fael hendak berjalan meninggalkannya. Namun tiba-tiba terdengar suara Rafa.
"Kenapa Kamu masih menyimpan poto bersama Istri Saya." Tegas Rafa, Fael Membalikan badan. "Ini hanya masalalu, dan Saya hanya menyimpannya saja." Jelas Fael, ia tidak mau membesar masalah.
"Untuk hari ini dan seterusnya, jangan simpan poto atau apapun tentang istri Saya. Kamu tidak berhak akan itu!" Tegas Rafa. Tentu membuat Fael merasa kesal.
"Istri? Suami mana yang rela membiarkan Istrinya pulang sendirian?" Tanya Fael, dirinya benar-benar kecewa dengan sikap Rafa karena tidak bisa menjaga Asya dengan baik.
"Tau apa Kamu tentang pernikahan Saya?" Tegas Rafa. Ia tidak mau ada seseorang ikut campur tentang pernikahannya.
"Anda sendiri memperlakukan Istri Anda tidak sesuai yang agama perintahkan. Gus macam apa Anda ini!" Kesabaran Fael sudah di atas rata-rata. Sudah lama ia menahan rasa kesal pada lelaki di hadapannya.
"Anda tidak berhak mencampuri urusan rumah tangga Saya!"
"Saya berhak! Anda sudah bilang untuk berjanji akan menjaga Asya bukan? Tetapi kenyataannya Anda masih terikat dengan perempuan di masalalu Anda!"
Deg
Rafa terdiam saat Fael berani mengatakan itu.
"Kenapa Anda diam? Bisakah sedikit saja menghargai Asya di dalam hidup Anda?" Rasanya benar-benar rapuh serta kecewa. Walau tidak sepantasnya Fael berbicara seperti itu. Namun kesabarannya tidak bisa lagi di pendam.
"Apakah Asya mengadu tentang persoalan seperti ini?" Tanya Rafa.
"Asya bukan tipikal orang yang gampang menceritakan masalah hidupnya!" Tegas Fael. Dari dulu memang Asya orang yang tidak mudah menceritakan tentang permasalahan hidupnya.
"Lalu?" Tanya Rafa , ia sedikit terdiam sebelum berucap kembali "Apakah Kamu mengantarkan Asya ke rumahnya?"