"Asyara peduli karena Asya hawatir Gus! Asya sayang sama Gus" Jelas Asya dirinya seakan-akan menjatuhkan harga diri di depan suaminya.
"Kamu hanya buang-buang waktu karena mencintai seseorang yang di hatinya sudah ada perempuan lain!" Ucap Gus Rafa...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
هوطيبولكنعنداللهالأفضل
"Dia baik, tetapi Allah punya yang terbaik"
"""
(1,30 Vote dan 3K coment)🤍
***
"Baik, atas nama Buk Asyara Ellena Zannetta baru saja memeriksa di-"
Suara nada dering telephone Rafa berbunyi sehingga suara tersebut tak terdengar. "Bentar kak." Ucap Rafa mengambil handphone dan sedikit menjauh.
"Nak, Kamu dimana? Ini istrimu kok pulang sendiri?" Tanya Aisyah di sebrang sana, mendengar itu Rafa merasa tenang.
"Emm Rafa sekarang ke sana Umma."
"Baiklah Umma tunggu, assalamu'alaikum"
"Wa'alaikum salam Umma" Saat Rafa ingin kembali ke tempat pelayananan, ia melihat banyak orang mengantri disana jadi memilih untuk pulang. Karena Asya juga sudah ada di ndalem.
Beberapa menit menempuh perjalanan Gus Rafa sudah sampai di ndalem. Ia langsung berlari ke kamar nya untuk menemui Asya.
"Sayang" panggil Rafa segera mendekati Asya yang pokus pada laptopnya.
"Mas tadi jemput Kamu, tapi katanya Kamu sudah pulang. Maafin Mas yah"
Asya sama sekali enggan menjawab perkataan Rafa ia hanya pokus dengan pekerjaannya.
"Kamu gak marah kan Sya?" Tanya Rafa kembali karena melihat reaksi Asya yang terdiam bahkan sama sekali tak menjawab perkataanya.
"Asya pasti sering keluar untuk pekerjaan, Mas gak perlu hawatir. Besok Asya akan bawa mobil dari rumah." Jelas Asya, di pesantren memang terdapat tiga mobil, milik Rafa, milik Imran satunya lagi di gunakan khusus untuk para santri jika ada kebutuhan mendadak.
"Loh kenapa Sya? Mas kan bisa antar Kamu, walaupun kalau Mas gak bisa Kamu bisa di antar pak yanto atau pak sumardi." Rafa merasa tak enak hati dengan pilihan Asya.
"Mungkin akan lebih mudah dan tidak perlu merepotkan orang"
"Kamu pikir-pikir lagi yah"
"Itu sudah menjadi pilihan Asya" Dengan tangan bergetar ingatannya masih membayangkan tadi siang yang ia lihat. Asya berusaha menenangkan seakan-akan tidak terjadi apa-apa.