"Asyara peduli karena Asya hawatir Gus! Asya sayang sama Gus" Jelas Asya dirinya seakan-akan menjatuhkan harga diri di depan suaminya.
"Kamu hanya buang-buang waktu karena mencintai seseorang yang di hatinya sudah ada perempuan lain!" Ucap Gus Rafa...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"""
"Asya Lo tenang, mungkin ini cuman berita hoak aja" Asya mencoba menenangkan dirinya sambil berjalan terburu-buru ke ndalem.
Saat sudah tiba di ndalem ia tidak mendapati Aisyah dan Imran, ia pun segera berjalan ke kamar Rafa. Di situ Asya menemukan Rafa sedang asik memainkan handphone.
"Gus" panggil Asya berdiri di hadapannya, matanya sudah tidak bisa menahan tangis.
"Ada apa?" Jawab Rafa singkat walau melihat Asya terlihat akan menangis.
"Gus tega banget yah!" Tegas Asya ternyata air mata nya sudah tidak bisa di bendung lagi. Rafa yang merasa heran pun menyimpan handphone lalu menatap Asya serius.
"Kenapa Gus lakuin ini! Asya sudah berusaha luluhin hati Gus, tapi kenapa Gus lakuin ini tanpa melihat Asya akan sehancur apa jika semuanya terjadi Gus."
Rafa urung untuk mengatakan apapun, ia tak tahu apa yang Asya bicarakan. "Maksudmu apa Asyara? Saya tidak mengerti apa yang Kamu bicarakan"Jawab Rafa berdiri menatap Asya yang perlahan memundurkan langkahnya.
"Asya mau pulang!" Tegas Asya memilih meninggalkan Rafa, namun Rafa langsung menahan lengan Asya agar tidak pergi.
"Apa yang sedang Kamu bicarakan?" Tanya Rafa berusaha menenangkan Asya.
"Gus gak usah pura-pura gak tahu deh, Asya tahu Gus akan menikahi Ustadzah Zahira tanpa sepengetahuan Asya kan?" Matanya menatap sorot mata Rafa. Kenapa lelaki yang memiliki mata teduh itu bisa menyakitinya seperti ini.
Dari mana berita itu? Bahkan Rafa sendiri tidak mengetahui akan hal itu. Yah walaupun tadi Imran membicarakan tentang dekoran pernikahan.
"Asyara maafkan Saya" Ucap Rafa perlahan membawa tubuh Asya ke dalam dekapannya. Asya tak bisa menahan tangisnya lagi, apakah semua ini benar.
Asya mendongakkan kepala menatap Rafa lekat. "Gus, bilang ke Asya semuanya gak benar kan?"
"Asya Saya tidak bisa melupakan Zahira tapi di sisi lain Saya juga tidak bisa melepaskanmu Asyara, Kamu mungkin berhasil meluluhkan hati Saya. Tetapi, Kamu belum bisa menggantikan Zahira di hati Saya" Jelas Rafa terus terang, ia tidak bisa membohongi perasaannnya.Rafa tidak rela jika harus meninggalkan Asya tapi ia juga tidak bisa melihat Zahira jika harus dengan lelaki lain.
"Gus jangan poligami Asya" Lirih Asya tangannya sudah bergetar seiring isak tangis. Rafa menggeleng sebagai jawaban.
"Apakah Gus bisa memilih antara Asya dan Ustadzah Zahira?" Tanya Asya kembali, itu pertanyaan yang sulit untuk Rafa.