"Asyara peduli karena Asya hawatir Gus! Asya sayang sama Gus" Jelas Asya dirinya seakan-akan menjatuhkan harga diri di depan suaminya.
"Kamu hanya buang-buang waktu karena mencintai seseorang yang di hatinya sudah ada perempuan lain!" Ucap Gus Rafa...
"Pada dasarnya yang bertanggung jawab atas rasa bahagia dan rasa sedihmu adalah dirimu sendiri, jadi berhentilah berekspetasi pada manusia."
"""
Rafa mengangguk, Melihat itu Zevan tentu kaget.
"Saya belum bisa mencintai Asya sepenuhnya, tapi Saya juga tidak bisa kehilangan Asya." Ucap Rafa kembali.
"Bukankah itu suatu keegoisan?"Tanya Zevan, bagaimana bisa Rafa bersama Asya tetapi belum bisa mencintainya bahkan masih teringat Zahira.
"Tentu ini egois, tapi coba Kamu bayangkan seseorang yang selalu menemani kita 7 tahun tapi saat penantian itu tiba semuanya berujung sia-sia, Saya tidak bisa bayangkan akan sesakit apa Zahira. Saya melukai hatinya."
"Kecewa memang, tapi jika Gus tidak melepas Zahira dalam ingatan, Gus sama saja akan menyakiti hati yang baru yaitu Asyara."
Rafa terdiam. Ucapan Zevan ternyata benar. Zahira sudah cukup sakit hati untuk ini. Apakah ia akan melukai seseorang kembali karena masih teringat Zahira. Ia tidak mau kehilangan Asya. Tapi bagaimana ia bisa melupakan Zahira.
"Lambat laun Saya juga pasti akan melupakan Zahira dan menerima Asyara."
Mendengar itu Zevan menepuk pundak Rafa memberi dukungan. "Semoga masalah ini cepat di selesaikan dan tidak ada orang yang sakit hati lagi."
"Aamin Makasih sudah membantu Saya dalam hal apapun." Ucap Rafa, memang mereka berdua selalu bersama sejak kecil, karena kedua orang tua Zevan telah meninggal saat usianya menginjak 10 tahun. Jadi Zevan di rawat oleh Imran yang merupakan pamannya sendiri.
"Sama-sama, kalau gitu Saya akan ke asrama."
"""
Hari ini Asya tidak perlu ke butik untuk melihat keadaan, dirinya akan menghabiskan waktu di pesantren. Siang ini Asya menikmati suasana di balkon kamar rasanya benar-benar sejuk. Beberapa menit Asya menikmati kesendirian tiba-tiba Rafa muncul di sisi tubuhnya.
"Astagfirullah Mas." Kaget Asya, Rafa hanya tersenyum lalu memegang lengannya.