"Asyara peduli karena Asya hawatir Gus! Asya sayang sama Gus" Jelas Asya dirinya seakan-akan menjatuhkan harga diri di depan suaminya.
"Kamu hanya buang-buang waktu karena mencintai seseorang yang di hatinya sudah ada perempuan lain!" Ucap Gus Rafa...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"""
"Apakah Gus akan meninggalkan Asya sebelum 365 hari?" Tanya Asya karena Rafa mengatakan itu setelah Zahira mengetahui pernikahan mereka.
"Saya kebingungan Asyara. Disisi lain Saya sangat menginginkan Zahira, tapi kalau Saya memutuskan pernikahan ini bagaimana dengan keluarga Kita" Ucap Rafa, tidak tahu hal apa yang akan di lakukannya setelah ini. Asya juga terdiam tak bisa menjawab perkataan Rafa.
"Beri Asya 365 hari Gus" Jelasnya memberanikan diri. "Bagaimana dengan Zahira Asya? Saya tidak bisa seperti ini" Tegas Rafa sambil berdiri dan membelakanginya.
"Luluh atau engga nya Gus Rafa, setelah 365 hari Asya akan memberi kesempatan Gus bersama Ustadzah Zahira" ini memang terlihat egois, namun Asya tidak bisa melepaskan Rafa. Dirinya juga memikirkan keluarga mereka jika harus berpisah.
"Apa yang Kamu tunggu Asyara, Saya benar-benar tidak bisa menerimamu di kehidupan Saya! Bisakah Kamu membicarakan ini lalu pergi dari kehidupan Saya?" Tegas Rafa. Asya mendengar itu merasa tertekan seakan-akan ini semua kesalahannya.
"Kenapa Gus tidak bisa menerima ketetapan Tuhan? Bukan kah ini sebuah takdir yang tidak bisa kita hindari?" Jelas Asya yang membuat Rafa membalikan badan lalu meliriknya kembali.
"Gus bukan tidak sebentar mempelajari ilmu agama. Kenapa Gus tidak bisa memahami semua itu? Apakah ilmu Gus hanya sekedar hapalan tidak dengan amalan?" Tanya Asya, walaupun dirinya belum penuh mempelajari ilmu agama. Tetapi apakah pantas seorang lelaki di hadapannya terus saja menghindari takdir.
"Asya" tatap Rafa tak suka. "Kenapa Gus, mau menyalahkan Asya lagi tentang semua ini?"Tanya Asya penuh dengan kekecewaan dalam dirinya. Dalam keadaan seperti ini kenapa harus Asya yang merasa terpojokan.
"Saya tidak punya waktu berdebat denganmu! Jika takdir bisa di tolak tentu Saya akan menolak takdir ini secara mentah-mentah." Rafa langsung keluar dari kamar, Asya benar-benar bingung tentang semua ini. Harus kah ia menyerah, atau berjuang kembali?
"""
Setelah pelajaran selesai Asya berjalan ke ruang Asatidz untuk menemui Zevan. "Assalamu'alaikum" Ucap Asya masih berdiri di depan pintu masuk.
"Wa'alaikum salam" Jawab orang-orang yang berada di sana yaitu Zevan, Rafa, Zahira dan beberapa Ustadz dan Ustadzah lainnya.
"Eh maaf Asya ganggu yah" Tanya Asya gelagalan.
"Enggak kita di sini lagi rapat tentang perlombaan" Jawab Zevan tersenyum ramah pada Asya dan menghampirinya. "Ada hal yang ingin di bicarakan?" Tanya Zevan kembali yang di angguki Asya.