"Asyara peduli karena Asya hawatir Gus! Asya sayang sama Gus" Jelas Asya dirinya seakan-akan menjatuhkan harga diri di depan suaminya.
"Kamu hanya buang-buang waktu karena mencintai seseorang yang di hatinya sudah ada perempuan lain!" Ucap Gus Rafa...
"Semua luka akan sembuh seiring berjalannya waktu, namun trauma akan selalu di kenang meski lukanya sudah sembuh"
(Aku usahaianup buat kalian yang udah usahain votes dan coment dan makasih udah setia di sebelum akhir cerita hihi)
1K votes 1 K coment yuk🦋
"""
Hazel dan Liam sudah kembali ke rumah sakit tentu mereka berdua juga membawa hadiah untuk Fael. "Kemarin Kamu menandatangani surat apa?" Tanya Hazel karena semalam Liam sempat berbincang berdua dengan Fael .
"Itu surat pendonor darah" Ucap Liam.
Hazel kebingungan memangnya Fael mendonorkan darah untuk siapa. "Mendonorkan darah untuk?"
"Untuk Asyara, Ayah sempat menolak tetapi dia tetap ingin mendonorkannya." Jelas Liam kembali.
Tentu ini tidak masuk akal kenapa Asya tiba-tiba kekurangan darah. Bahkan darah mereka tidak sama. Ini sangat janggal, tetapi bukankah pagi tadi Asya sedang melakukan operasi pendonor mata. Siapa orang yang mendonorkan mata. Atau? Tidak!
"Ayah kita harus cepat ke ruangan Fael" Ajak Hazel terburu-buru. Bahkan Liam belum sempat berbicara Hazel sudah menariknya.
Setelah berada di depan ruangan Fael Hazel melihat Claudia bersama Alvano duduk. "Tante" Panggil Claudia tetapi Hazel tak menanggapi panggilan itu ia memilih untuk masuk keruangan Fael.
"Fael" Panggil Hazel tetapi di ruangannya sama sekali tidak ada orang bahkan alat-alat yang di gunakan Fael sudah tidak ada.
"Fael Kamu dimana?" Hazel semakin keras teriak memanggil Fael tetapi hasilnya nihil. Ia kemudian keluar "Fael dimana?"
"Mah" Panggil Liam mencoba menenangkan.
"Tante" Ucap Claudia sedikit bergetar.
"Dimana Fael!" Tegas Hazel, air matanya sudah keluar tak terbendung. "Ayah dimana Fael!" Tanya Hazel pada Liam.
"Claudia dimana Fael sekarang?" Tanya Liam lembut dirinya saja sekarang tidak tahu dimana keberadaan anaknya.