"Asyara peduli karena Asya hawatir Gus! Asya sayang sama Gus" Jelas Asya dirinya seakan-akan menjatuhkan harga diri di depan suaminya.
"Kamu hanya buang-buang waktu karena mencintai seseorang yang di hatinya sudah ada perempuan lain!" Ucap Gus Rafa...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
فماكلّمنتهواهبهواكقلبهولافيكلّمنصافيتهلكقدصفا
"Karena tidak semua orang yang kau cintai dia juga mencintaimu, dan tidak semua yang kau perlakukan baik akan membalas kebaikanmu"
***
Bagaimana bisa Rafa mengucapkan kata-kata yang tak pantas itu kepada Fael. "Fael hanya mencoba untuk menjaga Asya Mas, hanya itu. Mas gak perlu berpikir hal-hal lain." Jelas Asya ia tak mau berdebat dengan Suaminya karena ini bisa menguras energi.
"Bahkan Kamu tidak mempercayai Suamimu sendiri Sya."
"Asya percaya Mas, dan Fael hanya melakukan itu? Lantas apakah itu salah."
"Dengan semua itu, sama saja dia tidak menghargai Mas sebagai Suami Kamu."
"Asya cape berdebat dengan Mas. Asya hanya ingin pulang, Hanya itu." Asya masuk ke mobil tanpa menatap Rafa sedikit pun. Setelah mengandung Asya benar-benar tidak bisa menjaga emosinya.
Sama dengan Rafa ia masuk ke dalam mobil lalu melajukan mobil tersebut. Hingga tiba di dalam pesantren tak ada obrolan apapun di perjalan.
"Sya Mas minta Maaf, Mas belum bisa mengontrol emosi" Rafa memegang lengan Asya tetapi Asya langsung mengambil tangannya.
"Asya mau Mas menghargai Fael" Tegas Asya lalu pergi keluar mobil meninggalkan Rafa sendiri.
Rafa benar-benar di buat bingung dengan sikap Asya, kenapa dia sekarang terlalu berlebihan pada Fael. Bahkan sikapnya berubah drastis.
"""
Seperti tahu siapa yang menyuruh laki-laki tadi yang ia lihat mall, sekarang Fael memberanikan diri untuk menemui Zahira. Fael tak mau ada yang melukai Asya, bahkan tindakan tadi yang ia sempat lihat tentu membuatnya merasa hawatir pada Asya. Lelaki tadi ingin mencelakai Asya.
"Saya tidak punya banyak waktu jika Kamu terus membicarakan tentang wanita itu." Tegas Zahira. Dirinya muak jika harus membicarakan tentang Asyara.
"Apakah Kaka yang menyuruh seseorang untuk melukai Asya?" Tanya Fael tanpa ragu, bukan bermaksud untuk menuduh tetapi rasa ketakutannya sangat besar.