"Asyara peduli karena Asya hawatir Gus! Asya sayang sama Gus" Jelas Asya dirinya seakan-akan menjatuhkan harga diri di depan suaminya.
"Kamu hanya buang-buang waktu karena mencintai seseorang yang di hatinya sudah ada perempuan lain!" Ucap Gus Rafa...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"""
"Saya belum sempat melihat handphone, nanti Saya akan hubungi Zahira"
"Baiklah, kalau gitu Saya ke asrama dulu yah Gus. Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikum salam"
Asya yang mendengar itu di buat panik, untuk apa Zahira menghubungi Rafa? "Asya"Panggil Rafa. Namun Asya masih sibuk dengan pikirannya.
"Asya" panggil Rafa kembali, kali ini Asya menyadari sebuah panggilan lalu segera keluar.
"Untuk apa Ustadzah Zahira menanyakan Gus?" Tanya Asya spontan.
"Saya belum buka handphone, sebaiknya Kamu ke Asrama. Ntar kalau ada yang tahu bisa repot" Titah Rafa, Asya pun menuruti. "Hmm okedeh, kalau gitu Asya ke asrama dulu yah Gus"
Rafa langsung mencari handphone, saat ia membuka pesan ternyata Zahira sudah menghubunginya. Rafa kemudian membalas pesan tersebut yang langsung di balas juga oleh Zahira.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
(Chat pertengahan antara Gus Rafa dan Ustadzah Zahira)
Rafa bingung untuk membalas apa, dalam posisi ini ia tidak tahu harus bagaimana. Jika memilih Zahira bagaimana nasib keluarganya namun jika tetap bersama Asya itu sama saja menyakiti dirinya sendiri.
"""
Malam ini semua santri berkumpul di lapangan karena akan di adakan acara pawai obor, mereka semua sudah siap dan berbaris di lapangan.
"Asya Kamu gak mau pegang obor nih?" Tanya Amara pada Asya yang dari tadi hanya terdiam.
"Gak deh, Gua pusing" Jawab Asya, Derina mengangkat satu obor yang belum di nyalakan.
"Yaudah kalau gak mau, Ra kita nyalain dulu yuk ke sana." Tunjuk Derina, karena semua santri bergantian untuk menyalakan obor pada Zevan dan Rafa.