8. Night Owl

40 5 3
                                        

Hidup Dipta baru dimulai di malam hari. Ketika langit kehilangan matahari dan gelap menyelimuti bumi, orang-orang beristirahat dari aktivitas yang melelahkan. Dipta sebaliknya. Bukannya pemuda itu anti-matahari, tetapi siang memberinya distraksi. Setiap ia mencoba fokus melakukan suatu hal, selalu ada yang menjelma gangguan. Apa-apa yang mengundang malas, mendorongnya merebahkan diri di atas kasur dan berujung tertidur. 

Pemuda itu merasa siang berlalu dengan cepat. Siang terlampau dinamis untuk dirinya yang statis. Siang terlalu berisik untuk hidupnya yang senyap. Siang terlampau benderang untuk ia si penyuka gelap. Maka Dipta lebih menyukai malam.

Mandi di atas waktu Isya—meski konon tidak baik—membuat laki-laki itu merasa segar. Ia mendudukkan diri di depan meja belajar, menghadap layar. Rambut panjangnya dijepit supaya tidak menghalangi pandang. Jendela kamar sengaja dibuka, membiarkan angin malam masuk. Kadang-kadang itu menjaganya dari kantuk. Sebelah telinganya tersumbat earphone. Dipta berharap musik yang diputar bisa memberi warna pada hidupnya yang monoton.

Oke, sekarang, kita mulai dari mana?

Dibukanya fail buku skripsi. Jumlah halaman yang menyentuh angka puluhan membuat respons perangkat lunak itu tidak secepat dulu. Menggulir halaman atau mengetik sepatah kata saja memerlukan kesabaran. Dipta cocokkan pekerjaannya di layar dengan coretan Bu Rita. 

Sekadar informasi, dosen pembimbingnya sudah ganti tiga kali. Pembimbing pertamanya tidak begitu responsif, pembimbing keduanya menyerah begitu Dipta mulai menghilang, dan pembimbingnya yang sekarang, Bu Rita, adalah dosen super perhatian spesialis membimbing mahasiswa bermasalah.

"I want to change the world~"

Dipta ikut bernyanyi ketika lirik yang familier menyapa telinga. Sampai-sampai ia lupa kalau malam sudah larut. Wajah Rizqi yang menyembul dari pintu kamar tak ayal membuatnya terkejut. Hampir-hampir ia terjungkal dari tempat duduk.

"Mas Rizqi, kaget, tahu!" latahnya.

"Hehe. Belum tidur, Dik?" tanya Rizqi.

"Mas baru pulang?" Dipta balik bertanya. Diliriknya jam digital yang tertera di sudut layar. Sekarang sudah pukul sebelas malam.

"Iya. Tadi di kantor sempat lembur sampai waktu Isya. Habis itu ndilalah dapat order-an yang agak jauh. Alhamdulillah," jelas Rizqi.

Gurat-gurat lelah tercetak jelas di wajah pemuda yang punya dua pekerjaan sekaligus: pegawai korporat dan pengemudi ojol. Dipta ingin sekali menasihati kakak-nya itu untuk tidak memaksakan diri dalam bekerja. Akan tetapi, pasti Rizqi berdalih bahwa ia adalah tulang punggung keluarga. Lantas, Dipta yang merupakan beban keluarga punya hak apa untuk berkomentar?

"Gek nggarap skripsi, ya?" tanya Rizqi retoris. "Mas mau bikin mie. Mau sekalian?" tawarnya.

Dipta menoleh. "Kopi, kalau boleh," pintanya.

"Oke." Rizqi mengiyakan dan beranjak ke bawah.

Dari sebelah telinga Dipta yang tidak tersumbat, sayup-sayup terdengar bunyi tak dari kompor yang dinyalakan, disusul gelembung udara yang pecah saat air mendidih, lalu gemercik air saat dituang, dan denting sendok ketika menyapa gelas. Sementara dari sebelah telinganya yang lain, lagu terus diputar.

Ketika Rizqi memasuki kamar dengan sepiring mie instan dan segelas kopi, Dipta sudah menggeletakkan kepalanya di atas meja dan tiba-tiba berucap, "Enak, ya, jadi anak kecil."

Rizqi melongok, layar komputer tidak lagi menampilkan fail skripsi, melainkan playlist lagu dari laman pemutar musik. Lucunya lagi, daftar putar Dipta bukan lagu-lagu kontemporer, melainkan original soundtrack kartun jadul untuk anak 90-an. Kebetulan, lagu yang sekarang diputar mencapai akhirnya setelah lirik "It's wonderland~" selesai disenandungkan.

Kuliah, Kerja, NganggurCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang