II. 6. Anger

25 1 0
                                        

Hari ini, jendela di kamar Dipta tampak lebih menarik. Iya, lebih menarik dari curriculum vitae-nya yang tak pernah dilirik. Sekalinya dapat panggilan wawancara, interview dibatalkan—benar, dibatalkan, bukan ditunda—dengan dalih perusahaan sedang mempertimbangkan ulang perekrutan. Covid sialan.

Masuknya Covid-19 membuat pertumbuhan ekonomi merosot, pemutusan hubungan kerja di mana-mana, dan bermuara pada meningkatnya persaingan untuk mendapatkan pekerjaan. Dipta kira, di era serba daring, orang yang paham komputer akan lebih dilirik. Sayangnya, Dipta bukan satu-satunya orang yang paham komputer. Saingannya adalah orang-orang pintar, fresh graduate yang cumlaude, punya pengalaman magang—serta mungkin orang yang punya orang dalam.

Padahal, pemuda itu sudah mencetak beberapa lembar CV, berikut ijazah yang difotokopi, jaga-jaga kalau perusahaan tempatnya melamar meminta berkas fisik. Di depan jendela, Dipta mengangkat selembar CV agar diterangi sinar mentari. Daftar riwayat hidup itu diamatinya. Latar belakang pendidikan dengan predikat biasa saja. Pengalaman—baik magang maupun organisasi—terakhir tiga tahun silam. Keahlian—bahkan setelah dilebih-lebihkan—tetap tidak menambah nilai jual. Menyedihkan.

Sembari mengasihani diri sendiri, tahu-tahu kaki pemuda jangkung itu sudah naik ke kosen jendela. Tenang, Dipta bukan mau loncat, ia cuma mau duduk di sana. Kaki yang panjang dan tubuh yang tinggi membuat si pemuda perlu meringkuk agar muat bersandar ke kosen berukuran sedang itu.

Hari ini, jendela di kamar Dipta tampak lebih menarik. Bukan kosennya, tetapi apa yang jendela itu suguhkan: dunia luar. Ini masih siang, tetapi jalanan lengang. Baguslah. Artinya, para penghuni gang paham urgensi diam di rumah.

Di indekos Ibu Nur sebenarnya ramai. Sayup-sayup Dipta bisa mendengar suara Arseno dari lantai bawah. Anak bungsu itu mengemukakan pendapat sudah seperti orang menjerit-jerit. Entah kerja kelompok, entah rapat. Sementara Rizqi—yang kamarnya bersebelahan dengan Dipta—berkutat dengan laptop, sibuk mengetik, sesekali meeting. Serba daring memunculkan kondisi yang aneh. Dipta seolah mengintip kegiatan mereka. Melihat orang lain produktif, pengangguran itu makin nelangsa.

Jadi, kali ini, Dipta mengabaikan suara manusia. Dengan duduk di jendela, dibiarkannya desau bayu memenuhi rungu, juga gemeresik daun, atau kicau burung-burung. Ah, lihatlah burung-burung yang hinggap di atas kabel listrik. Apa mereka tidak khawatir kesetrum? Atau takut terpapar Covid? Irinya.

Kala angin membelai rambut yang mulai panjang, pemuda itu jadi berpikir: jika lamaran yang ia kirim lewat surat elektronik tak kunjung mendapat balasan, pun lamaran yang ia kirim manual tertahan di pos satpam, apa mungkin ia perlu menitipkan lamaran pada udara yang berembus? Barangkali, dengan izin Yang Maha Esa, sang bayu bisa membawa Dipta pada pekerjaan yang ia damba.

Mana mungkin 'kan?

Untungnya pemuda itu masih sadar. Ia tak menuruti pikiran intrusif yang menyuruhnya melempar berkas ke luar. Yang Dipta lakukan hanya menjambak rambutnya kasar.

-o0o-

Kembalinya Rina disambut antusias orang tua anak-anak Pelangi. Penyebabnya, sebagian besar dari mereka kewalahan mendampingi anak-anak sekolah daring. Solusinya, yup, serahkan saja pada Mbak Rina.

"Enggak ngerti saya pelajaran anak zaman sekarang, Mbak," keluh Tante Dian. "Mana saya tetap masuk kerja. Suami juga sama aja."

Rina maklum. Sebagai pelayan masyarakat, pegawai bank seperti Tante Dian harus tetap bekerja meskipun jam operasional sudah dibatasi. Di balik masker, sang guru menerima si kembar dengan senyum, seperti kali pertama mereka datang ke sini.

"Tolong, ya, Mbak." Berikutnya, Bunda Fio memohon penuh harap. "Sekolah biasa aja, Fio ranking terakhir terus. Apalagi online. Makin nggak mudeng dia. Ujung-ujungnya saya yang ngerjain tugasnya."

Kuliah, Kerja, NganggurCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang