Mereka harusnya hanya jogging, tetapi Dipta dan Seno mengubahnya jadi sprint.
Bermula dari Seno yang tumben ikut lari, menyisihkan Minggu paginya; Dipta menyindir Seno jarang olahraga, kerjanya sok sibuk di depan laptop saja. Seno tidak terima, membalas bahwa Dipta semestinya berkaca; pengangguran mana paham kesibukan mahasiswa tingkat tiga. Singkat cerita, mereka menumpahkan emosi dalam kompetisi yang diselenggarakan tiba-tiba.
Dipta mengandalkan tungkainya yang panjang serta kekonsistenan lari tiap pagi. Arseno menunjukkan kebolehan eks panitia ospek yang terjun ke lapangan demi mengejar momen untuk didokumentasi. Dipta mempercepat laju, tereka ulang bagaimana ia terengah-engah menuju ruang sidang. Seno tak mau kalah, reputasi mahasiswa kura-kura—yang pada masa primanya kerap berlari dari sekre Persma ke ruang latihan teater, dari sekre HMJ ke ruang di lantai empat—dipertaruhkan.
Lantas? Tentulah hasilnya bisa diterka dari mula. Rizqi berlari santai, temponya stabil sebagaimana hela napasnya, melewati dua kawannya yang terkapar di tengah jalan tanpa ada yang sah sebagai pemenang. Salah siapa tak menentukan garis finish dari awal?
"Waduh, kok, pada ngelemproh di jalan. Ayo, belum juga setengah putaran. Sedikit lagi, istirahat di TK yang biasa, ya."
Terengah-engah, Dipta dan Seno sempoyongan memaksa kaki melangkah. Sampai di area taman kanak-kanak dengan halaman terbuka dan aneka mainan, keduanya merebahkan badan di tanah.
"Habis ini jalan biasa aja, please," pinta Sen yang tampak amat sangat kelelahan.
Senada meski tanpa suara, Dipta bahkan tidak berlari saat mereka melengkapi putaran pulang. Kedua kakinya menapak bergantian tanpa ada fase melayang. Hal yang sama dilakukan Rizqi. Kini, ketiganya berjalan beriringan. Sejajar.
"Mas." Dipta memulai obrolan—atau sesi curhat, mungkin.
"Ya?" Rizqi menoleh seraya menyunggingkan senyum, sigap memasang telinga.
"Katanya—kata ortuku, sih—CPNS buka tahun ini."
"Oh, ya?"
"Hee, Mas Dipta mau daftar CPNS?" Tak mau kehilangan momen, Seno menimbrung perbincangan kendati tak diundang.
"Menurut Mas gimana?" Dipta hanya mau dengar saran dari Rizqi, sepertinya.
"Kenapa enggak? Bareng, yuk. Aku mungkin daftar juga. Kamu udah ada rencana mau bidang apa, Dik?"
"Belum, tapi—"
"Ih, nanti Mas Dipta botak, dong?" serobot Seno.
Dipta mendelik mendengarnya. "Maksudmu?"
"Ya, 'kan, pasti nanti ada pelatihan gitu-gitu," tukas Sen. "Aku gak kebayang, ik, Mas Dipta jadi PNS terus pakai seragam rapi, ngantor tiap hari, ikut apel pagi. Nggak cocok, ah. Mending Mas kerja di startup, yang agak santuy."
Rizqi manggut-manggut mendengar pendapat asal bunyi—tetapi menurutnya benar—dari Seno.
"Menurutku, Mas tuh cocoknya jadi orang IT yang work from anywhere, gitu lho. Sesekali nongkrong di kafe, pakai kaus atau hoodie. Dari luar nggak kelihatan kerja tapi diam-diam jago. Tahu-tahu gajinya dolar."
"Aamiin."
Kali ini Dipta mendelik ke arah Rizqi. "Mas setuju?"
"Ya, doa baik masa nggak diaminin." Rizqi tertawa kecil. Ia sendiri tidak bisa membayangkan Dipta dengan kepala tertunduk menuruti perintah atasan. Firasatnya bilang, alih-alih sebagai pesuruh, pemuda jangkung itu akan lebih optimal jika dibiarkan bergerak bebas tanpa terkekang aturan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kuliah, Kerja, Nganggur
Ficción General[Periode II Lengkap] Sebelumnya berjudul, "Panggil Aku Dik Saja." Sebagai mahasiswa, Seno kerap mengalami masalah gara-gara: terlalu aktif berorganisasi, terlalu bebas bergaul, dan terlalu sering terbawa perasaan untuk ukuran seorang laki-laki. Menj...
