Peramban itu memuat dua laman. Pertama, webinar bertopik teknik menulis, sedang sesi pemaparan. Kedua, telekonferensi juga. Judulnya, sih, kerja kelompok. Yang terjadi, Arseno membagikan layar, sibuk berkomentar; dan ia tidak bisa menerka bagaimana tampang rekan-rekannya di balik displayname berlatar hitam.
"Van, kamu bisa jelasin yang kamu tulis ini, nggak?" Seno menyorot beberapa paragraf yang jadi bagian temannya itu. Berantakan.
Tak ada tanggapan, maka Seno mengulang panggilan. "Halo, Irvan ...."
"Eh, iya, gimana, Sen. Sorry, abis salat."
Salat apa salat? Seno menjauhkan mik pada penyuara kabel, biar kesal yang tergambar dari embus napasnya tak ikut terekam dalam jaringan. Padahal, jika mereka tidak molor setengah jam dari kesepakatan, kerkom bisa selesai sebelum azan. Yah, Seno sangsi, sih, mengingat jalannya diskusi pun tidak optimal.
"Ini kamu bisa jelasin, nggak, kenapa masukin ini? Kayaknya kurang nyambung sama topik kita, deh."
"Oh, iya, itu ...."
Alih-alih menjelaskan, Irvan malah membaca ulang paragraf yang disorot. Kali ini, Arseno mematikan mik pada telekonferensi; mendesah kasar sekasar-kasarnya. Dan ia butuh bermenit-menit setelah itu untuk mengelaborasikan bagaimana membuat bab Teori Dasar yang baik. Salah siapa dia perfeksionis begini?
"Do, ini kamu copas, ya? Sumbernya mana?"
"Itu di komentar, Sen."
"Kalau masukin referensi sambil diparafrase juga, dong, guys. Sambil ditulis juga nama, tahun. Nah, kayak punya Rahma bener, nih. Hapsari dkk. (2015) menulis ....
"Eh, tapi ini kutipan panjang, ya. Formatnya dibenerin juga, dong, menjorok sama line-spacing-nya."
"Eh, iya. Tolong, dong, Sen, sekalian."
Menahan gerutu, jemari Arseno tetap bekerja. Klik sana, klik sini. Tambahkan ini, tambahkan itu. Begitu terus sampai satu jam berlalu.
"Oke, deh, Gaes. Gitu aja dulu untuk bab ini. Sama minta tolong sebarin kuisionernya, ya, Gess. Yang ngisi baru dikit, nih. Oh, iya, ada yang mau volunteer buat ngabarin Pak Asep, nggak?" ucapnya sangsi.
Tak ada tanggapan; persis seperti pada awal pengerjaan ketika Arseno bertanya, Ada yang punya ide topik penelitian, nggak?
"Ya udah, nanti aku yang hubungin."
Ujung-ujungnya, Seno lagi yang memegang kendali. Seno yang mengajukan topik, Seno yang menghubungi dosen, Seno yang membuat kuisioner, Seno pula yang merapikan dokumen. Ini namanya aku kerja, mereka berkelompok, huh.
Ia lekas mengakhiri telekonferensi yang memayungi kerja kelompok mereka. Menyisakan laman satunya, webinar yang sekarang sedang sesi tanya jawab. Arseno mencabut earphone dan mengatur agar suara keluar dari speaker laptop. Pemuda itu sendiri naik ke kasur, mendengar webinar sambil berbaring. Dasar generasi zaman sekarang.
Ah, mereka kerkom sambil rebahan juga kali, ya? pikirnya. Mahasiswa tingkat tiga itu mafhum, setiap semester ada saja momen ia kebagian kelompok yang apes. Beban. Padahal, ia mengharapkan diskusi yang bermutu, tetapi tiga orang lainnya kompak membisu. Bagi tugas pun mereka kerjakan alakadarnya, setengah hati. Menyebalkan.
Barangkali karena lelah—atau marah—tanpa sadar Arseno terlelap. Maunya tidur-tidur ayam. Ia baru bangun satu seperempat jam kemudian, mengucek-ngucek mata, dan terkesiap.
"Hah. Udah setengah dua?! Sumpah?"
Pemuda itu bangun dan bangkit tiba-tiba. Tak sempat meladeni kantuk. Ia panik.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kuliah, Kerja, Nganggur
Ficción General[Periode II Lengkap] Sebelumnya berjudul, "Panggil Aku Dik Saja." Sebagai mahasiswa, Seno kerap mengalami masalah gara-gara: terlalu aktif berorganisasi, terlalu bebas bergaul, dan terlalu sering terbawa perasaan untuk ukuran seorang laki-laki. Menj...
