"Dik ... Bangun, Dik."
Rizqi membangunkan Dipta dengan tepukan pelan. Pagi yang normal.
"Mas tunggu di bawah, ya."
Sang sulung keluar kamar; memberi Dipta ruang untuk meregangkan badan. Pemuda jangkung itu menggosok mata. Dibukanya jendela guna mencicip sepoi angin Subuh sebelum ia beranjak ke bilik air untuk mengambil wudu; lalu bergabung dengan jemaah yang diimami Rizqi di lantai satu.
Pagi ini, suasana hati Dipta baik sekali.
Menjelang waktu terbit, Dipta meraih botol air mineral dari atas meja lantas bergegas keluar kamar. Mengabaikan suara gebyar-gebyur dari kamar mandi (kata Sen, hari pertama kuliah), pemuda jangkung itu bergabung dengan Rizqi yang mengenakan kaus santai dan celana training. Siap untuk jogging.
Dibanding saat pertama kali, performa Dipta pagi ini lumayan. Ia sudah bisa menyamai langkah Rizqi; menyusuri gang yang berkelok-kelok dan tanpa istirahat saat lewat di depan taman kanak-kanak. Selesai satu putaran, Dipta ngos-ngosan. Langkahnya memelan dan matanya mencari-cari tempat untuk mengistirahatkan kaki. Alih-alih indekos Ibu Nur yang berpagar tinggi, selasar rumah bercat biru dengan halaman terbuka menarik atensi; tak berpagar seakan mengundang untuk singgah. Dipta melenggang santai, sudah seperti empunya rumah. Memang anak tengah itu (agak) tidak tahu diri.
"He, kok, malah duduk di rumah orang," tegur Rizqi. Si sulung masih dalam posisi berdiri. Ia sepertinya akan menambah satu putaran lagi.
"Biarin." Dipta menenggak air mineral yang dibawanya.
Tetiba, jeritan perempuan tertangkap rungu. Rizqi sudah hendak bertindak; khawatir terjadi sesuatu. Namun, Dipta menahannya dari menghampiri pintu.
"Barusan dengar, nggak, itu—"
"Biasa itu."
Barangkali, akibat kerap berinteraksi dengan Rina, Dipta mafhum teriakan itu bukan tanda bahaya. Adakalanya Rina memekik untuk meluapkan emosi, tetapi tak bersuara saat terjadi kebakaran tempo hari. Gadis itu punya manajemen panik yang aneh. Dipta jadi penasaran apakah Rina akan menjerit kalau melihat tikus atau kecoak.
"Yang benar?" Rizqi setengah percaya.
"Ya, pastiin aja sana." Dipta melepaskan pegangan tangannya pada lengan Rizqi.
Rizqi melangkah, kali ini lebih tenang. Diketuknya pintu tiga kali. Dengan logat Jawa yang kental, ia memanggil pelan tetapi tetap jelas terdengar, "Dik?"
Pintu dibuka tak lama kemudian. Dari celah yang tak lebar, menyembul kepala Rina yang dihijabi kerudung instan. Tak ganjil suatu apa selain bingung pada wajahnya.
"Mas Rizqi? Ada apa?"
"Eh, nggak. Kamu aman?"
"Aku? Aman."
Dipta menyeringai ketika Rizqi menoleh ke arahnya. Tuh, kubilang juga apa.
"Ya wis, kalau gitu. Maaf ganggu, Dik." Rizqi mengendurkan muka. Kembali ke wajah ramah default-nya. Ia lantas menegur Dipta, "He, ayo lanjut mutar sekali lagi."
"Nggak, ah. Dah capek."
"Ya wis, taktinggal ya."
Rina masih menyembunyikan setengah badan di balik daun pintu. Salah tingkah. Usai Rizqi pergi, barulah gadis itu beringsut menapakkan kaki di teras. Tatapannya jatuh pada Dipta yang menyelonjorkan kaki, lalu pada halaman yang ditumbuhi rumput teki, terakhir pada rumah seberang dengan gerbang hitam tinggi.
"Mas males buka pagar?" terka sang gadis.
"Yah, ketahuan."
Rina urung menarik senyum. Gerak-geriknya bak diliputi resah. Berkali-kali, gadis itu mengintip layar ponsel di tangan—yang kemungkinan besar merupakan sumber gelisah. Sekarang masih pukul enam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kuliah, Kerja, Nganggur
Ficção Geral[Periode II Lengkap] Sebelumnya berjudul, "Panggil Aku Dik Saja." Sebagai mahasiswa, Seno kerap mengalami masalah gara-gara: terlalu aktif berorganisasi, terlalu bebas bergaul, dan terlalu sering terbawa perasaan untuk ukuran seorang laki-laki. Menj...
