Arseno sudah cukup tersentil mengetahui Rina masih menunaikan salat setelah mendapat musibah. Padahal, Subuh adalah salah satu salat yang sering ia tinggalkan kalau bangun kesiangan.
Sekarang, ia juga tertampar mendengar gadis itu bersikeras berangkat kuliah. Padahal, setelah ia tanya, hari itu tidak ada kuis dan hanya ada satu kelas. Kalau Seno jadi Rina, ia akan menggunakan sakitnya sebagai alasan membolos. Sebagai mahasiswa tingkat dua, banyaknya ia absen sudah tidak bisa dihitung jari—kecuali ditambah jari kaki.
Selain menolak pulang, Rina juga bersikeras menolak diantar. Sayang, ponsel gadis itu menolak menyala, baterainya habis karena sejak kemarin tidak diisi daya. Sedangkan jam digital di ponsel Seno menunjukkan pukul delapan kurang lima belas menit. Hal itu mengakhiri perdebatan mereka. Gadis itu setuju Seno mengantarnya ke gedung FMIPA.
"Makasih, Kak," ucap Rina ketika sampai. Ia lantas mengambil ancang-ancang berlari ke kelas. Akan tetapi, gadis itu tiba-tiba mengaduh dan memegangi perutnya. Ia meringis.
"Aduh, hei." Seno buru-buru menghampirinya. "Kamu nggak papa?"
Pemuda itu bermaksud mengantarnya sampai kelas. Namun, Rina tiba-tiba memanggil seorang yang lewat, "Tisha!"
Perempuan berambut pendek sebahu itu menoleh dan menghampiri mereka.
"Nggak papa, kok, Kak. Aku bareng temanku," ucap Rina.
Sadar diusir secara halus, Seno undur diri. "Oke. Hati-hati, jangan lari-lari," pesannya.
-o0o-
Selepas kejadian itu, Arseno tiba-tiba merasa ... hampa. Musibah yang dialami Rizqi dan kegigihan Rina membuat pikiran Seno menerawang. Mempertanyakan ulang apa yang ia lakukan selama ini. Anak bungsu itu juga pernah mendapat musibah. Musibah terbesar yang ia ingat adalah wafatnya Papa saat ia masuk SMP. Sekarang, ia sudah kuliah. Mulai berkenalan dengan dunia luar, dan menjadi agak ... nakal. Banyak hal yang mulai tidak ia ceritakan pada Mama dan salatnya mulai bolong-bolong.
Mahasiswa tingkat dua itu juga ada kelas pukul sembilan. Namun, ia tidak yakin bisa konsentrasi menyimak pelajaran. Seno memutuskan menunggu Rina selesai kelas saja. Bukankah Dipta memintanya mengantar gadis itu pulang?
Sekitar pukul setengah sepuluh, Seno menyusuri koridor lantai satu gedung FMIPA. Kalau tidak salah, Rina dan temannya tadi masuk ke kelas paling ujung. Benar saja, dari pintu yang terbuka, Seno bisa melihat Rina dan temannya duduk di barisan depan.
Tak lama kemudian, dosen paruh baya keluar dari ruang tersebut. Diikuti para mahasiswa. Mahasiswi yang mengenakan pakaian kakak Seno akhirnya tampak batang hidungnya. Namun, tiba-tiba dua perempuan lain—salah satunya yang pagi tadi bersama Rina— menghampiri gadis itu. Mereka tampak mengobrolkan sesuatu, Rina mengangguk-angguk saja, seperti sungkan. Melihat hal itu, entah kenapa Seno sedikit merasa kesal.
Ia menghampiri mereka. "Rin, " tegurnya.
"Ka- kak kenapa di sini?" tanya gadis itu.
Seno mendapati wajahnya pias, lebih pucat dari tadi pagi. Ia yakin bukan karena terkejut, tetapi karena sakit.
"Kamu nggak ada kelas lagi 'kan? Kuantar pulang, ya?"
"Oh. Kamu ada janji sama kakak itu 'kah, Rin?" tanya perempuan berambut pendek.
Belum sempat Rina menjelaskan, panggilan lantang dari arah lain mengalihkan atensinya.
"Rinaa!" Itu Meutia, teman dekat Rina yang sering bareng kemana-mana. Ia menghampiri Rina dengan senyum semringah. Kemudian berubah heran mendapati temannya dikerubungi. "Rina ngajak teman-teman buat ikut Kahfi-an?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Kuliah, Kerja, Nganggur
Ficción General[Periode II Lengkap] Sebelumnya berjudul, "Panggil Aku Dik Saja." Sebagai mahasiswa, Seno kerap mengalami masalah gara-gara: terlalu aktif berorganisasi, terlalu bebas bergaul, dan terlalu sering terbawa perasaan untuk ukuran seorang laki-laki. Menj...
