II. 8. Depression

18 1 0
                                        

Ridwan Dwi Pradipta tak pernah menyangka bahwa bos pertamanya adalah gadis yang bahkan lebih muda. Semalam, waktu Seno menyampaikan tawaran, Dipta sudah punya firasat tak nyaman. Harusnya ia menolak mentah-mentah kalau saja tidak termakan provokasi Sen. 

Selain masih terbayang kejadian memalukan kemarin, semua kebetulan ini membuatnya berprasangka buruk. Bagaimanapun, cewek itu sempat melihat berkas lamaran kerja Dipta. Apa gadis itu kasihan dan sengaja memberinya kerjaan? Ego sang pemuda terusik.

Namun, prasangka itu runtuh ketika sang gadis menyambutnya dengan wajah—yang meski tertutup masker—tampak resah dan lega di saat yang sama.

"Pertama-tama makasih udah datang dan bersedia membantu," ucap sang gadis—kalau tak salah namanya Rina. "Intinya tugas Mas nemenin anak-anak sekolah daring dan bantuin mereka kalau ada yang nanya. Nanti kenalan aja sama mereka. Err... Ada yang mau ditanyain?"

Kalau boleh jujur, penjelasan sang gadis tergesa-gesa. Dipta yang belum sempat mencerna jadi bingung mau merespons apa. Pada dasarnya pemuda itu tak suka bicara. Jadi, ia menggelengkan kepala.

"Ya udah, deh. Oh, iya!" Rina memelesat—sepertinya ke kamar—dan kembali dengan amplop putih. Disodorkannya amplop itu kepada Dipta. "Ini bayarannya, ya."

Baru kali ini Dipta bertemu orang yang membayar jasa di muka. Sejujurnya, ia jadi agak ter-pressure. Bersamaan dengan berpindahnya amplop itu ke tangannya, serasa ada beban tak kasan mata menggelayuti pundaknya.

"Aku tinggal, ya," pamit Rina. Sorot matanya seolah tak rela. Namun, gestur badannya seperti ingin segera pergi dari sana.

"Oke." Akhirnya Dipta angkat suara.

"Titip anak-anak, ya. Makasih, banyak." Itu pesan sang gadis sebelum meninggalkan ruang tamu.

Sayup-sayup Dipta mendengar gumaman sang mahasiswi—Aduh, udah jam berapa sekarang?!—dan teriakan. Padahal, gadis itu tampak kalem dari luar. Rupanya ia orang yang gampang panik.

Dipta lantas duduk dan menyandarkan punggung. Netra pemuda itu cermat memindai ruang. Enam anak duduk menyebar. 

Lukita, satu-satunya anak yang Dipta kenal, tengah khusyuk menatap layar. Kendati sebatas tatap maya, anak SD itu tetap mengenakan seragam. Hal yang sama dilakukan satu-satunya anak laki-laki di sana dan anak perempuan berjilbab—satu-satunya yang mengenakan masker dengan benar. Dipta refleks merapatkan maskernya. 

Sementara itu, dua anak kembar dan seorang anak perempuan berambut panjang sibuk dengan telepon genggam. Yang satu sedang mewarnai, dua orang lainnya menulis di buku.

Tanya timbul di benak Dipta; kalau tidak ada anak yang butuh bantuan, apa artinya ia makan gaji buta? Pasalnya, setelah beberapa menit pun suasana di ruangan itu masih lengang. Ah, Dipta bahkan belum berkenalan dengan mereka.

"Luki, kamu lagi ngapain?" tegur Dipta.

Dilihatnya telekonferensi di laptop Luki sudah berakhir. Anak perempuan itu tampak mencorat-coret buku tulis.

"Ngerjain tugas," jawabnya singkat.

"Butuh bantuan? Atau mau periksa jawaban?"

Mendengar tawaran itu, Lukita menoleh ke arah Dipta. Hanya sesaat. Sesaat kemudian ia berpaling seraya berkata, "Nggak, deh. Nanti tunggu Mbak Rina aja."

Jawaban Luki menohok jantung Dipta. Ternyata, pemuda itu punya satu masalah: anak-anak tidak—belum—percaya padanya. Mungkin, itu juga alasan dua anak kembar berbisik-bisik sambil curi-curi pandang ke arahnya. Memang muka Dipta terlihat seperti kriminal, ya?

Untungnya, beberapa saat kemudian, seorang anak perempuan menghampiri. "Aku mau periksa jawaban," katanya.

"Boleh." Dipta menjawab senang. Akhirnya ia ada kerjaan. Diterimanya buku tulis anak perempuan berambut panjang itu. Pelajaran Matematika. Peserta didik diminta menuliskan faktor dari bilangan yang tertera. Ah, ini soal gampang.

Kuliah, Kerja, NganggurCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang