#Akhir Arseno

14 1 0
                                        

Perkenalkan anak saya yang paling merepotkan: Sen. Ketika awal-awal muncul di kepalaku, dia itu "bad boy", konfliknya dengan Rina seputar senioritas (padahal mereka seumuran karena Rina gap year), dan trope-nya seputar benci jadi cinta. Tapi yang tersisa cuma: "beliin es krim". Dan berhubung mereka tetangga, aslinya mereka pernah papasan entah di mana, mungkin di swalayan saat Rina ngejajanin si kembar. Tapi, ketemu dalam kondisi nggak saling kenal itu bukan ketemu, tahu. 

Aku men-tone down karakternya karena sadar nggak bisa nulis yang bad-bad. Gimana mau bikin pembaca berempati kalau aku nggak memahami karakterku sendiri. Tapi, bahkan setelah dirombak jadi mahasiswa kura-kura, aktif, supel, anak mama berhati lembut, well-planner dan well-organized, itu tetap jauh dariku. 

Aku kasih dia jurusan sastra biar kita punya kesamaan. Tapi, aku lupa bahwa, kecintaanku kepada sastra dan bahasa enggak lepas dari sifatku yang tertutup, melankolis, pendiam, dan pemendam. Itulah mengapa Seno yang karakternya berketerbalikan dengan itu terasa kontradiktif. Gimana ceritanya ada mahasiswa sastra tapi pov-nya jauh dari puitis. (Meskipun aku yakin di dunia nyata ada). 

Meskipun begitu, kuharap Seno tetap dicintai dan diterima sebagaimana aku berusaha menyayangi dan memasukkan sebagian diriku ke dalamnya. 

Sedikit pengumuman tambahan. Meskipun ada arc panjang terakhir yang kusiapkan untuk menutup kisah mereka; di akhir Periode II ini, cerita ini kuanggap tamat dengan open ending. Pertama dipublikasikan Juli 2024, kurasa ini satu-satunya kesempatan mengikutkan cerita ini ke wattys. Jadi, aku akan hiatus (ceilah hiatus, kayak update-nya rajin aja) sekurang-kurangnya sampai September dan sepanjang-panjangnya enggak tahu kapan.

Terima kasih sudah membaca ❤️

Kuliah, Kerja, NganggurCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang