11. Circle

25 4 0
                                        

Keempat pemuda itu duduk melingkar. Kartu berserakan di tengahnya. Juga di tangan masing-masing dari mereka. Sementara di sekitarnya, ada botol-botol kosong, dan bungkus makanan. Juga asbak. Aroma rokok memenuhi kamar sempit itu.

"Uno game!" Sakti bersorak setelah membuang kartu terakhir di tangannya. Ia menjadi pemenang permainan itu untuk kelima kali. Mahasiswa gondrong itu mengibaskan rambut, memarodikan duta shampo di televisi.

"Sakti beneran dia," komentar Aldo yang disambut tawa lepas Gege dan Seno.

Iya, Arseno. Kalau ditanya kenapa ia bisa berada di lingkaran itu, ah, mereka hanya mau bermain sehabis latihan teater dan memilih kamar kos Gege sebagai tempat berkumpul. Tenang saja, kali ini Seno tidak melewatkan Asar, juga sudah menunaikan Magrib. Meski salatnya sebatas menggugurkan kewajiban dan diledek sok alim oleh mereka yang tidak melaksanakannya.

"Sen, giliran lu," tegur Gege.

Putaran masih berlanjut dengan tiga orang yang tersisa, memperebutkan posisi kedua.

"Uno!" Agaknya Dewi Fortuna berpihak padanya. Kartu di tangannya sisa satu.

Atau tidak? Karena pada giliran berikutnya ia harus mengambil lebih banyak kartu.

"Alah!" decak Aldo setelah Seno menghabiskan semua kartunya, menempati posisi ketiga setelah Gege. 

Aldo kalah lagi. Cowok yang mengaku mukanya mirip personel boyband Korea itu tidak jago dalam permainan ini. Ia membereskan kartu—hukuman untuk kekalahannya—sambil bersungut-sungut dan langsung memasukkan tumpukan kartu Uno ke dalam kotak.

"Lah, udahan?"

"Dahlah, males!"

"Yah, cemen!" Gege mengatakan itu sambil terbahak-bahak, disambut tawa Sakti dan Sen. Sang pemilik kamar lantas memantik korek api dan membakar rokok di tangannya.

Kalau ditanya kenapa Seno bisa bergabung dengan mereka, ya, kenapa tidak? Laki-laki tidak butuh alasan untuk berteman, 'kan? Mereka juga tidak selalu nongkrong berempat, bisa bertambah, bisa berkurang. Kebetulan saja keempatnya sering bertemu di teater. Selain Sakti, mereka sama-sama dari jurusan Sastra.

Memang, sih, di antara mereka berempat, Sen satu-satunya yang asli Semarang. Aldo merantau dari luar pulau, Sakti dari provinsi sebelah, dan Gege dari Depok. Mungkin itu menjelaskan pergaulan mereka yang agak liar dibandingkan anak-anak kampus yang cenderung konservatif.

Masih dengan wajah ditekuk, Aldo mengambil sebatang rokok dari bungkusnya—yang sebenarnya milik Gege—pun menyambar korek api untuk menyalakannya. Korek lantas dioper ke Sakti yang melakukan hal serupa.

"Sen, tangkap." Sakti melempar benda mungil itu ke arah Seno yang sayangnya gagal menangkapnya. "Yah, payah."

Arseno memutar-mutar batang rokok di sela-sela jari, sebelum benar-benar membakarnya. Disesapnya olahan tembakau itu perlahan. Ia sudah tidak batuk-batuk seperti saat kali pertama mencoba, tetapi rasa yang ia cecap tetap sama: pahit. 

Barangkali rasa pahit itu bukan bersumber dari asap, melainkan bayangan sang Ibu yang tiba-tiba memenuhi benak. Apa tidak masalah jika sang ibu mengetahui putranya mulai mengenal rokok? Rokok enggak sampai haram, 'kan?

Ponsel Seno bergetar, menandakan pesan masuk, yang disadari juga oleh teman-temannya.

"Wah, anak Mama dicariin, nih," ledek Gege.

Seno mengabaikan ledekan itu. Seingatnya, ia sudah mengabari ibunya untuk pulang agak malam. Ibu Nur tidak pernah melarang anak bujangnya. Beliau hanya berpesan untuk jaga diri dan jaga salat—yang Seno langgar sesekali, membuatnya dirayapi rasa bersalah. 

Kadang-kadang pula anak itu merasa berdosa meninggalkan sang Ibu, apalagi setelah kakak perempuannya berkeluarga dan ayahnya tiada. Akan tetapi, sekarang sudah tidak masalah 'kan? Ada anak-anak kos: Rizqi dan Dipta yang menemani—memang itu tujuan Ibu Nur membuka indekos. Ibunya tidak kenapa-napa 'kan?

Setelah melihat layar sejenak, Seno memasukkan ponselnya kembali ke saku.

"Nggak dibalas?" tegur Aldo.

"Atau udah disuruh pulang?" terka Sakti.

Arseno menggeleng. "Dari Kak Arun," katanya. Rupanya pesan masuk itu bukan berasal dari ibunya.

"Selera lu yang lebih tua, Sen?"

"Ciee ... cintaku berawal dari ospek."

"Ya, nggaklah. Ngawur."

Tentu saja tidak ada apa-apa antara ia dan kakak tingkat yang pernah mengospek mereka dulu. Selain satu jurusan, Arunika juga anggota Pers Mahasiswa, satu tim dengan Seno. Makanya mereka jadi cukup sering berinteraksi dan Seno banyak belajar dari wanita itu. Pemuda itu menghormati Arun sebagai sosok senior dan mentor, tidak lebih. Lagipula, kalau tidak salah, Arun sudah keluar dari Persma karena ingin fokus mengetuai unit yang Seno lupa namanya.

Gara-gara nama Arun dibawa-bawa, obrolan mereka jadi melenceng, bahas cewek. Aldo curhat soal gebetannya. Sakti menggunjingkan para mahasiswi di jurusannya. Gege mengeluhkan kelakuan pacarnya.

"Btw, pacarmu nggak marah kita nongkrong sekarang?" tanya Aldo.

"Lah, emang napa?"

"Sekarang malam Minggu, sih."

"Lah, iya!" Gege melonjak kaget.

Si pemilik kamar buru-buru meraih telepon pintar yang ia geletakkan asal di atas kasur. Benar saja, ada panggilan masuk tak lama setelah itu. Gege mengumpat sesaat sebelum mengangkat panggilan dan terlibat obrolan—atau mungkin pertengkaran—dengan cewek di seberang sana.

Ketiga temannya yang lain tertawa-tawa menyaksikan hal tersebut.

Sementara itu, Seno memanfaatkan jeda yang tercipta untuk mengecek ponsel. Sekalian membaca pesan Arunika. Ia juga penasaran. Isi pesan itu membuatnya berucap tiba-tiba.

"Guys, kalian mau nggak nambah satu UKM lagi?"

Sementara ketiga kawannya memandang heran, pemuda itu membaca ulang pesan yang tertera di layar: Arun mengajak—ralat, memaksa—Seno untuk bergabung dengan CitrAksara.

-o0o-

Author's Notes

Nulis bagian Sen itu menyebalkan---sama kayak karakternya, haha. Susah. Saya se-nggak relate itu sama dunianya. 

Kuliah, Kerja, NganggurCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang