18. Jihad

23 3 0
                                        

Warning: Senjata Tajam dan Kekerasan

Malam ini bulan baru. Langit gelap bukan karena mendung, melainkan karena posisi bulan yang tepat membelakangi matahari. Kota Semarang yang biasanya panas, sejenak menjadi sejuk, hanya di malam hari. Kendati demikian, lalu-lalang kendaraan dan orang-orang yang berkeliaran masih menghidupi kota ini. Sekarang masih di bawah pukul sembilan.

"Makasih, Mas." Seorang wanita muda melepas helm ketika turun di depan kafe yang juga menyediakan working space.

"Terima kasih kembali, Mbak."

Sang pengemudi ojol itu, Rizqi, memamerkan senyum ramah. Ia lantas mengakhiri pesanan di aplikasi sesudah pelanggannya hilang dari pandangan. Pemuda itu mengembuskan napas. Lelah, tentu. Ia sudah bekerja keras: di kantor sampai sore, lanjut ngojek sampai sekarang. Namun, bibirnya masih menyungging senyum, bersyukur.

Sudah larut, pemuda itu ingin beristirahat, salat. Ia belum menunaikan Isya. Kalau tidak salah, area ini masuk kawasan pendidikan karena dekat dengan salah satu perguruan tinggi. Dan kampus itu punya masjid yang nyaman untuk dijadikan tempat singgah. Rizqi lekas mengendarai motornya ke sana.

"Astaghfirullah!" seru Rizqi lirih dan hampir saja berhenti mendadak. Ia lupa mematikan aplikasi ojol dan sekarang sebuah pesanan masuk ke akunnya. Sang pengemudi lantas menepi sejenak.

Sesaat, pemuda itu dilanda dilema. Apa sebaiknya ia meminta customer membatalkan pesanannya? Tapi, sayang. Bukankah kata orang rezeki jangan ditolak? Dilema itu sedikit mendapat pencerahan saat ia melihat detail pesanan. Nama pelanggannya Rina Firdausi. Familier. Dan jarak ke lokasinya—yakni gerbang kampus—hanya beberapa meter.

Tak sampai tiga menit, Rizqi sudah sampai di sana. Benar saja, dilihatnya gadis berkhimar menunggu di depan kampus yang mulai sepi. Rizqi mengingatnya sebagai tetangga depan rumah indekosnya—artinya, ia sekalian pulang. 

"Mbak Rina?" tegur Rizqi.

"Iya." Rina mengangguk seraya tersenyum tipis. Meski ditemani beberapa orang teman, gadis itu mudah dikenali. Entah karena pakaiannya atau karena gestur canggungnya.

"Pulang, ya, Mbak?" Sang pengemudi tersenyum lagi. Orang bilang, ia memang ramah.

"Eh?" Sepertinya gadis itu juga mengenali Rizqi sebagai tetangga, ditilik dari ekspresinya yang berubah canggung. Namun, ia memilih untuk tidak mengungkitnya.

Rina menoleh sebentar ke arah teman-temannya, pamit.

"Hati-hati, Rin. Kita balik juga, ya!" ucap temannya—dua perempuan yang lantas berjalan kaki. Mungkin kos dekat sini atau tinggal di asrama.

Rina menoleh kembali ke arah Rizqi yang masih memasang senyum. Ah, iya, harusnya sang pengemudi memberinya helm penumpang. Namun, pemuda itu kemudian berpikir, kalau penumpangnya gadis itu, mungkin tidak masalah izin salat dulu.

"Maaf sebelumnya, Mbak. Apa saya boleh salat Isya dulu?"

Perempuan itu terdiam sebentar, kemudian menjawab cepat. "Oh, boleh, boleh!" katanya seraya mengangguk-angguk. Air mukanya jadi lebih ekspresif. "Mau salat di mana? Di dalam ada masjid, sih. Eh, tapi nanti ngaruh ke performa ojolnya, nggak?" tanyanya.

"Ngaruh dikit paling," jawab Rizqi. Benar kata Rina, catatan terlambat menjemput atau terlambat sampai tujuan dari estimasi bisa jadi memengaruhi performanya di sistem aplikasi.

"Apa saya cancel aja? Nanti saya bayar pakai cash."

"Boleh, Mbak. Tapi Mbak-nya nggak papa?" Rizqi bersyukur sekaligus terharu ada penumpang yang peduli akan posisi pengemudi sepertinya.

Kuliah, Kerja, NganggurCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang