II. 4. Citra Anak Sastra

20 1 0
                                        

Di depan gang, Rina turun dari angkutan kota. Gang itu tidak sempit, cukup untuk mobil berukuran sedang berpapasan dengan sepeda motor dari arah berlawanan. Dua mobil kecil berpapasan juga mungkin masih muat. Rina menyusuri gang dengan langkah riang sambil memutar-mutar kunci rumah—yang diberi gantungan—di jemari tangan; menikmati cerahnya Sabtu pagi, jadwalnya mengajar anak-anak Pelangi.

Di depan rumah—tepatnya di rumah seberang—seseorang mengeluarkan sepeda motor dengan tergesa. Sempat mengira itu Rizqi, tetapi dari cara laki-laki itu menyapa—

"Hai, Rin!"

—Rina tahu itu Arseno. Rambut berdiri-berdiri yang jadi ciri khas Seno tertutup helm. Namun, tentu saja gadis itu ingat motor Sen dan Rizqi berbeda. Vibe-nya juga beda.

Sang gadis tak sempat membalas sapaan dengan benar karena Seno tampak terburu-buru. Pemuda itu langsung tancap gas dan motor melaju dengan cepat. Semoga ia sampai tujuan dengan selamat.

"Mbak Rin—"

"Hati-hat—" pekik Rina, latah akibat terkejut dengan kehadiran makhluk kecil—yang ternyata adalah Delima, Nilam, dan Luki—di sampingnya.

"Ciee...."

Sang kakak tersipu, dalam hati merutuki mulutnya sendiri. Ketiga bocah itu kompak cekikikan menggodanya.

"Hati-hati buat siapa, tuh?" Rina maklum kalau itu Fio, tetapi karena ini Lukita, ledekan itu jadi lebih mengerikan.

"Udah, ah, ayo masuk."

Daripada makin salah tingkah, Rina cepat-cepat melangkah, melewati halaman dan memutar kunci pintu depan. Ruang tamu yang lengang tanpa perabotan menyambut. Setelah menyapu sekadarnya, Rina menggelar karpet. Sang gadis melirik jam di layar ponsel, pukul delapan. Tepat waktu. Artinya anak-anak yang datang terlalu cepat.

"Mbak tebak tadi Luki yang duluan datang, ya?"

"Iyaa."

Rina bisa membayangkan anak rajin itu datang pagi-pagi, mengetuk pintu rumah Tante Dian, dan mengajak si kembar menunggu Rina sambil bermain di halaman. Entah kenapa si kembar acap menyambut instruksi Luki dengan patuh, bak anak buah mematuhi kepala suku.

"Kemarin aku ketemu temannya teman Mbak, lho," cerita si anak ikal.

Rina mengernyit, bertanya-tanya, siapa?—Eh, tunggu. Barusan Luki memulai hari dengan cerita, bukan bertanya soal, membahas pelajaran, atau lomba. Bukankah itu lebih mengherankan? Datang pagi-pagi dan bersikap tak biasa, ada apa?

"Ha, gimana-gimana? Kamu ketemu siapa?" Rina memasang telinga.

"Aku ketemu temannya teman Mbak. Yang cowok gondrong sedikit terus kumisan itu, lho."

Dahi Rina berkerut-kerut tanda bingung. Ia meraba ingatan. Kok, rasanya Rina sering bertemu dengan orang berkumis: di angkot, di tempat fotokopi, di depan kampus, dan di sekitar rumah. Lagipula, rambut gondrong sedikit itu seberapa panjang?

"Ah, siapa, sih?" gumam Rina. "Memangnya kenapa? Kamu nggak diapa-apain 'kan?"

"Cuma dikasih es krim sama jajan."

"Heeh ... Nggak boleh sembarangan nerima sesuatu dari orang asing! Kalau dimasukin apa-apa, gimana?" Rina jadi khawatir.

"Enggaklah. Orang beli langsung di tokonya, kok. Lagian 'kan Mas-nya temannya teman Mbak Rina."

Temannya teman? Pemilihan kata yang aneh. "Kamu nggak tahu namanya?"

"Mas-nya tanya namaku tapi aku lupa nanya balik. Yang tinggi banget itu 'lho, Mbak."

Kuliah, Kerja, NganggurCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang