#Tentang Pradipta

15 1 0
                                        

Hai, sadar, nggak? Nomor babnya sudah sama kayak Periode I. Tenang, masih lanjut, kok.

Ngomong-ngomong #tentang Dipta, rasanya aku sudah pernah mention kalau karena proyek PADS ini mulai kutulis pascayudisium, Dipta jadi karakter yang paling related denganku. Dan makin lama makin kuhayati sampai aku gatel pengin revisi bab-bab awal biar kesuraman Dipta makin nyata 🗿Maksudku, kamu tahu, nggak, sih, rasanya nggak mau bangun dari tempat tidur, malas mandi, menunda-nunda, nggak tahu mau ngapain, dan pada akhirnya, merasa gagal dalam segala hal. Subhanallah. Gelap sekali, ya.

Sejak awal kudesain sebagai posisi tengah, Dipta ada di antara Rizqi yang berkerja dan Arseno yang kuliah, alias pengangguran. Tapi, sebelum itu, aku merasa perlu memasukkan fase-fase dia nyelesaiin skripsi (lihat Periode I), dan sebenarnya, ide awalnya Dipta-Rina ketemu di fotokopi terus Rina bantuin Dipta rapiin skripsi. Haha. Supersekali. Untung nggak jadi. Ide menjadikan Dipta pengajar tambahan Bimbel Pelangi justru muncul di belakangan hari. 

Ada yang lucu di balik keputusan untuk meng-assign Dipta jurusan PTIK. Salah satunya, ya, karena aku bisa ngoding dikit-dikit. Untuk skripsi Dipta, aku teringat topik temanku yang edugame juga. Pikirku cukup masuk akal konsepnya. Dan setelah kucari-cari, beneran ada skripsi anak komputer tentang edugame juga. Ku-download dah tuh, tapi udah kuhapus lagi, sih. Tapi, motivasi yang lebih super adalah: pada suatu hari, aku nemu postingan lucu berbau coding di ig, kuklik, 'kan, walhasil algoritma ig-ku membawaku kepada postingan serupa selama beberapa waktu (sekarang udah enggak, sisa hecticholic yang itu pun udah bukan tentang coding wkwk). Somehow bangga, sih, karena paham letak joke-nya 🤣 Itulah yang mendasari bab Threats. Bukan karena aku pernah nge-crush-in anak IF, lho, ya \\eh 👀 Selain itu, teman dekatku dulu anak komputer jadi aku merasa dekat (tapi juga jauh) dengan dunia Informatika. Dan waktu kecil aku nonton Code Lyoko—waktu besar baca Code Helix hehe—jadiii itu, ya, gess, jawaban kartun apa yang ditonton Dipta dalam bab Bargaining dan soundtrack-nya ada dalam bab Night Owl: Code Lyoko, stronger after all~ 

By the way, sepertinya pembahasan ini makin melenceng. Bukankah seharusnya aku membahas #tentang Dipta yang indra dan intuisinya sama-sama jago—kalau lagi waras. Si logis (thinker) dan oportunis tapi sekalinya nge-down bisa jatuh sejatuh-jatuhnya dan kadang-kadang mudah tersulut emosinya—si melankolis, si paling suram nan pahit. Si diam-diam perhatian dan ... ah, yang beginian kalian nilai sendiri, deh, dari apa yang tersurat dan tersirat dalam narasi, baik yang sudah ada, maupun bab-bab yang akan datang. Penasaran nggak, sih, gimana character development Dipta selanjutnyaa 😆

Oiya, Dipta itu karakter yang penampakan rambutnya berubah seiring waktu. Di awal rambutnya panjang yang beneran panjang kayak cewek sampai bisa dikucir ekor kuda tapi agak rendah. Habis itu potong rambut karena mau sidang. Dan lama-lama tumbuh lagi—karena dia pemalas, dia bukan tipe yang rutin potong rambut. Tentu rambutnya berantakan. Bisa, nih, bikin geng bareng Oreki Houtaro, Ali dari Klan Bumi, dan Azzam Ulul Azmi dari cerita sebelah, haha. Kalau dilihat-dilihat, Dipta ini memang kayak recycle-nya Azzam, sih, hehe.

Yah, begitu saja. Ps. Ada banyak kata yang mestinya di-italic, tapi ini ngetiknya langsung di browser hp, jadi maklumi saja, ya, dah~

Kuliah, Kerja, NganggurCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang