Sore itu, sepulang sekolah—sekolah mereka menerapkan sistem full day—Delima dan Nilam lekas bersiap-siap. Hari ini mereka berulang tahun. Mama dan Papa menyanggupi permintaan mereka untuk merayakannya. Terpilihlah restoran cepat saji yang sudah didekorasi sedemikian rupa sebagai tempat acara. Restoran tersebut masih satu area—katakanlah, satu kecamatan—dengan perumahan tempat mereka tinggal.
Pukul empat, mereka sudah siap. Delima tampak anggun dalam balutan gamis merah marun. Nilam terlihat imut dalam balutan gamis biru laut. Pashmina dengan warna senada—merah muda untuk Delima dan biru langit untuk Nilam—membingkai wajah mereka yang tirus. Riasan tipis membuat kecantikan mereka makin terpancar: kulit bak pualam, bibir tipis kemerahan, hidung mungil, dan bulu lentik memayungi manik legam yang kilaunya mengalahkan pernak-pernik yang menempel di gamis keduanya.
Tempat acara masih sepi. Yang datang baru Eren dan Mbak Fio—kompak mengenakan busana muslim seperti mau berangkat mengaji—serta satu-dua teman sekelas mereka yang masih mengenakan seragam—artinya mereka langsung ke sini setelah pulang sekolah. Waktu sore mungkin bukan waktu ideal untuk merayakan ulang tahun untuk anak full day school. Mereka bisa saja merayakan ulang tahun di kelas, minta bantuan ustazah untuk membawakan kue dan lilin, dan menggunakan jasa delivery untuk konsumsi. Akan tetapi, selain karena kelas Delima dan Nilam berbeda, mereka memilih waktu sore agar semua orang bisa datang: Mama dan Papa, teman-teman sekolah dan ustazah, juga teman-teman Pelangi dan pawangnya, Mbak Rina.
"Kalian mau potong kuenya sekarang?" tawar Mama Dian.
Jarum jam sudah bergerak, lengser dari pukul empat. Acara ulang tahun mereka terbilang sederhana, sesederhana mentraktir makan seluruh undangan dan potong kue; tidak muluk-muluk menyewa MC, atau merangkai mata acara.
"Tunggu bentar lagi, deh," tolak Delima.
Konsumsi dengan cepat disajikan—namanya juga restoran cepat saji. Mama Dian menyilakan teman-teman menyantap hidangan sambil lalu. Sudah banyak yang datang. Teman-teman Pelangi sudah lengkap, kecuali guru mereka, yang justru paling dinantikan hadirnya.
Delima dan Nilam harap-harap cemas, menatap ke arah luar. Tampak sepeda motor mendekat, lalu parkir di depan restoran. Nilam menyenggol Delima. Saudaranya menoleh cepat. Sayang, antusias keduanya menguap melihat anak yang turun dari motor itu sambil menenteng kado.
"Itu temanku, Sylvi," ucap Delima. Senyumnya luntur.
Tidak, Delima bukannya tidak senang Sylvi datang, apalagi membawa hadiah. Hanya, ia—dan Nilam—kecewa karena itu bukan Mbak Rina.
"Mau potong kue sekarang? Sudah setengah lima, lho," tegur Mama.
"Iya, itu teman-teman kalian sudah pada datang," bujuk Papa.
Si kembar memasang muka masam. Kue tar yang dihias apik itu tak lagi menarik. Di luar, hujan tiba-tiba turun dengan deras. Guntur menggelegar. Dan sepasang hati itu porak-poranda.
Apakah salah untuk berharap: di hari yang istimewa ini, mereka juga akan diistimewakan?
Delima hanya ingin tampil cantik di hadapan semua orang. Anak kecil itu ingin menunjukkan bahwa ia sudah bisa memakai pashmina dengan benar—sebenarnya Mama yang membantu memasangkannya. Nilam hanya ingin adegan potong kue seperti di film-film. Potongan pertama untuk Mama, kedua untuk Papa, ketiga untuk Mbak Rina—ah, nggak, ketiga untuk Ustazah dan Mbak Rina akan dapat potongan keempat.
Namun, pemeran utama yang terakhir tak kunjung datang.
Bahkan sampai seluruh kue tar habis dibagikan. Orang-orang sudah menandaskan santapan mereka—kecuali si kembar yang porsi makannya sedikit dan tiba-tiba tidak berselera makan. Hujan mulai reda dan satu-persatu tamu meninggalkan restoran. Sisa anak-anak Pelangi, Papa dan Mama kemudian menawarkan mereka tumpangan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kuliah, Kerja, Nganggur
Ficción General[Periode II Lengkap] Sebelumnya berjudul, "Panggil Aku Dik Saja." Sebagai mahasiswa, Seno kerap mengalami masalah gara-gara: terlalu aktif berorganisasi, terlalu bebas bergaul, dan terlalu sering terbawa perasaan untuk ukuran seorang laki-laki. Menj...
