II. 16. Regenerasi Citra

18 1 0
                                        

Pekan ujian akhir semester telah berakhir. Urusan akademik sewajarnya sudah tidak membebani para mahasiswa. Sebagai gantinya, datanglah urusan yang lain. Organisasi baik HMJ sampai UKM silih berganti mengadakan forum LPJ (Laporan Pertanggungjawaban), biasanya disusul pula oleh Sertijab (Serah Terima Jabatan).

Dalam Himpunan Mahasiswa Sastra dan Bahasa Indonesia, Seno tercatat sebagai staf Divisi Kekeluargaan. Rasanya, pemuda itu menjalankan perannya dengan baik. Tak banyak komplain dari peserta rapat saat Ketua Divisi-nya membacakan persentase keberhasilan program kerja mereka.

Posisi Sen yang lain adalah sekretaris CitrAksara. Masalahnya sekarang, tanpa aba-aba, Arun mengirim dokumen LPJ CitrAksara yang sudah tersusun rapi, disertai pesan yang berbunyi, Sen, ini buat LPJ-an, ya. Ada masukan?

Dahi Seno mengernyit. Ia mencermati dokumen itu beberapa menit. Tak ada yang salah dalam dokumen LPJ yang disusun Arun mencakup posisi Ketua, Sekretaris, dan Bendahara—perangkat minimal dari organisasi yang hidup segan mati tak mau. Namun, fakta bahwa Arun tidak mengajak Seno berdiskusi sebelum ini cukup mengganggu pemuda itu. Padahal, Sen adalah sekretaris yang selayaknya mengurus surat-menyurat dan administrasi.

Setelah beberapa menit merenung, menimbang bagaimana cara menyampaikan keresahannya tanpa menyinggung, Arseno akhirnya membuka jawaban dengan sebaris pesan,

[Dari aku aman, Kak. Kakak buat ini sendiri?]

[Kejora Arunika Iya.
Oke kalau gitu. Nanti kamu tinggal bacain bagian sekretaris pas LPJ, ya]

Seno menyugar rambut, menjambaknya sedikit sementara dahinya masih mengkerut. Sebenarnya, Sen tidak rugi sama sekali. Ia malah enak tinggal baca tanpa perlu menyusun. Namun, kok, kesannya ia makan gaji buta. Pemuda itu lantas sadar bahwa selama ini Arun jarang memintanya bekerja. Nyaris semua hal diurus oleh sang ketua.

Sang pemuda adalah tipe orang yang totalitas. Makanya ia tidak suka kalau posisinya sebagai sekretaris CitrAksara sebatas formalitas. Arseno paling benci beban kelompok yang cuma numpang nama. Ia tidak mau jadi salah satunya.

[Kok, nggak minta aku yang buat, Kak?]
[Atau seenggaknya, biar aku ngerjain bagianku gitu]

[Kejora Arunika Takutnya kamu lagi sibuk. Nggak papa, aku longgar, kok]

Aku yang apa-apa, Kak, gumam Seno dalam hati.

Ia lalu mengetik, [Lain kali kabari kalau ada yang perlu kukerjakan, ya, Kak.]

Namun, sebelum pesan itu terkirim, sang pemuda sadar, belum tentu ada 'lain kali'. Satu pertanyaan lagi mengusik benak Seno: bagaimana nasib CitrAksara setelah ini? Mengapa Arun tak pernah membahas soal regenerasi?

Akhirnya, sang anak sastra sibuk merangkai kata. Diketiknya pesan panjang lebar untuk mengutarakan unek-unek. Ia menyayangkan Arun yang kerap bergerak sendiri—baik dalam menyusun kegiatan, program kerja, hubungan eksternal, sampai menyusun laporan pertanggungjawaban—tanpa berdiskusi dengan dirinya atau Monik selaku bendahara. Seolah-olah, CitrAksara hanya punya Arun sebagai pengurus. Atau, seakan-akan CitrAksara milik Arun seorang.

Lama tak ada balasan setelah pesan itu terkirim. Padahal, tampaknya pesan itu sudah dibaca oleh si penerima. Seno jadi resah. Jangan-jangan ia membuat kakak tingkatnya marah. Aduh, Arseno jadi serba salah.

Barulah setelah beberapa lama waktu berlalu, Arun membalas dengan sebaris pesan yang membuat Seno tersedak,

[Kejora Arunika Sen, kamu mau jadi ketua, nggak?]

-o0o-

Pasca UAS bagi mahasiswa semi pasif seperti Rina adalah kebebasan. Liburan! Walaupun Rina tidak bisa pulang (dampak pandemi) dan ia masih harus mengajar anak-anak Pelangi (yang jadwal akademiknya berbeda dengan perguruan tinggi), setidaknya gadis itu masih punya akhir pekan untuk bersenang-senang. Rebahan di Sabtu pagi pasti menyenangkan. Akan tetapi, bukan Rina kalau tidak impulsif dan punya wacana dadakan. Hari ini, sang perawan mau masak-masak. Mumpung longgar, 'kan?

Kuliah, Kerja, NganggurCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang