"Mas! Bangun, Mas!"
Dipta merasa badannya diguncang; padahal azan Subuh baru mulai berkumandang. Dari suaranya, itu pasti Seno; teriak-teriak seperti orang mengajak perang. Dipta tidak suka cara Seno membangunkan—menarik-nariknya dengan kasar. Maka pemuda itu menepis gangguan Seno sambil berdecak kesal. Ia menutupi kepalanya dengan bantal.
"Ih, Mas. Ayo bangun biar cepat salat!"
Arseno lancang menarik kemul Dipta—tindakannya serupa membangunkan singa. Benarlah, Dipta mengamuk dan menimpuk Sen dengan bantal sebelum beringsut ke luar kamar.
Sejak pandemi bertamu disusul Ramadan, di indekos Ibu Nur, berlaku kebiasaan baru. Rizqi, Dipta, dan Seno hampir selalu melaksanakan salat berjemaah lima waktu. Mereka biasa menggunakan ruang utama di depan televisi untuk menggelar sajadah. Namun, yang biasa membangunkan Dipta untuk salat Subuh adalah Rizqi yang kamarnya di sebelah. Cukup dengan tepukan pelan dan imbauan. Itu pun menunggu selesai azan sehingga Dipta punya waktu mengumpulkan nyawa.
Hari ini, tingkah Seno membuat Dipta badmood sejak bangun tidur, pula saat keduanya bersisian dalam salat.
Selepas salam, Seno tak banyak menyisihkan waktu untuk berzikir. Anak itu tampak terburu-buru kembali ke kamar.
Kendati Ibu Nur menegur, "Adik, habis Subuh nggak boleh tidur. Nggak baik."
Si bungsu menguap lebar. "Hari ini aja, kok, Ma," gumamnya, "ngantuk."
Sepeninggal Seno dan Ibu Nur, Dipta tak bisa menahan diri dari berkomentar, "Dia kenapa, sih?" kendati ia sejujurnya punya tebakan, "Nggak mungkin Seno bangun pagi. Dia pasti habis begadang."
Rizqi mengiyakan. "Hari ini pengisian rencana studi. Rebutan banget kayaknya. Dik Sen sampai minta tolong aku bukain akunnya."
Malah naikin traffic, tahu, makan tuh error 503, batin Dipta. Alumnus dari kampus yang sama itu mengalihkan pandang ke pintu kamar Seno. Dengkur terdengar dari sana. Bahwa Seno benar-benar habis berperang, tak mengubah kekesalan Dipta gara-gara ulah Sen dini hari tadi.
Dipta mencermati kalender. Kira-kira sembilan bulan—setara dengan waktu ibu mengandung—sejak pemuda itu dinyatakan lulus. Statusnya masih sama: pengangguran. Atau bukan? Yah, setidaknya Dipta punya pekerjaan di rumah seberang.
Ketika matahari naik sepenggalah, Dipta sampai di halaman rumah bercat biru. Di ruang depan, enam anak itu sudah komplet; masing-masing di depan gawai. Sekolah daring. Rina membaca sesuatu pada layar laptop. Gadis itu tampak tenang—mengingat adakalanya ia tertekan lalu meledak.
Dipta lekas bergabung. Kira-kira, ada hal menarik apa lagi hari ini?
"Mas, jangan pulang dulu. Mau ngomongin jadwal," ucap Rina saat jam sekolah anak-anak sudah usai.
Gadis itu menyodorkan kertas. Isinya tabel hari dalam sepekan versus periode waktu perjam. Itu jadwal kuliah Rina.
"Kamu begadang juga semalam?" Iseng Dipta bertanya.
"Nggak sampai begadang, sih. Cuma tidur lambat gara-gara deg-degan. Tapi alhamdulillah bisa bangun walau nggak pas jam dua belas," jelas Rina tanpa diminta.
Dipta memutar mata. Tidur lambat versi Rina pasti di bawah pukul sepuluh dan bangun sekitar pukul dua untuk salat malam. Pada waktu itu, kepadatan lalu lintas web justru sudah berkurang. Lebih besar peluang untuk mengisi rencana studi dengan lancar dan tenang tanpa risiko server mengalami kelumpuhan.
"Baguslah. Begadang juga servernya tetep down," komentar Dipta.
Rina menyipitkan mata, hanya sedikit, mungkin gadis itu tersenyum simpul di balik masker.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kuliah, Kerja, Nganggur
Ficción General[Periode II Lengkap] Sebelumnya berjudul, "Panggil Aku Dik Saja." Sebagai mahasiswa, Seno kerap mengalami masalah gara-gara: terlalu aktif berorganisasi, terlalu bebas bergaul, dan terlalu sering terbawa perasaan untuk ukuran seorang laki-laki. Menj...
