II. 19. Menadah Darma

28 1 0
                                        

"Jadi?" respons Dipta setelah menyimak pengakuan Seno dengan saksama.

"Ya, kasihan," ucap Sen dengan ekspresi haru. "Mana baru kemarin Mas Rizqi cerita soal adiknya yang mau masuk kuliah."

Arseno terperangkap antara iba dan rasa bersalah. Lantas, dengan membagi rahasia, ia seakan menjebak Dipta dalam lubang yang sama. Seno punya keyakinan pemuda yang tujuh tahun ngekos di rumahnya itu lebih lihai menggali jalan keluar.

"Terus, kamu mau gimana?"

"Ya, aku mau bantu, tapi nggak tahu gimana." Seno mengedikkan bahu. "Soalnya Mas Rizqi itu—paham, nggak, sih—orang yang suka nolong biasanya nggak mau ditolong. Atau lebih tepatnya, kesulitan buat minta tolong."

"Sotoy," respons Dipta. Pemuda itu bersedekap. Punggungnya bersandar pada dinding dan fokus matanya jatuh ke arah lain, seperti orang yang sedang menerawang. "Ada, kok, orang yang suka nolong tapi juga nggak jaim buat minta tolong."

Seno mendengkus. "Siapa coba—"

Belum selesai benar Seno bertanya, suara lembut melantunkan salam. Semua orang dalam ruangan melongok ke arah pintu. Gadis itu, Rina, masuk seraya menyangga sepiring bakwan. Alih-alih masker medis, wajahnya dilindungi pelindung wajah transparan, sehingga masih tampak senyumnya di mata orang.

"Eh, ada Kak Sen," sapanya sembari menyuguhkan piring di tengah ruang—di dekat Seno, kebetulan. "Monggo."

Seketika, Arseno mendengar tabuhan drum gaib. Kepalanya menjelma pentas, konser dadakan. Barangkali, ia demam panggung. Sebab, dirasanya wajahnya memanas. Sekejap, Seno melupakan semua masalah yang melanda pikirannya beberapa menit lalu. Khayalnya membumbung jauh, membayangkan bakwan hangat setiap pagi di masa depan.

"Jadinya Kak Sen yang bantu pasang gas?"

Pertanyaan Rina-lah yang kemudian mengembalikan Seno ke dunia nyata.

"Eh, bukan!" sanggah sang pemuda sembari menggeleng. "Aku ada perlu sama Mas Dipta."

"Oh, urusan cowok?"

Tetiba, Glen menyambar. "Urusan orang dewasa, anak kecil nggak boleh dengar." Jelas sekali ia dendam akibat dihalau Seno beberapa saat yang lalu.

"Eh, nggak gitu!" Seno merasa perlu buru-buru meluruskan, takut disangka yang tidak-tidak.

Akan tetapi, Rina tampak tak peduli. Atensi gadis itu lebih banyak tercurah pada bocah-bocah yang berebut bakwan, sudah seperti semut mengerubungi gula. Seno bisa membayangkan sang dara berkata, 'Makan, makan yang banyak!' laiknya ibu kepada anak-anaknya.

"Betewe, tumben kamu pakai itu." Seno mengemis atensi, menunjuk face shield yang dikenakan sang gadis.

"Oh, tadi aku lupa pakai masker. Ini dikasih sama Delima," jelas Rina. "Sekalian biar nggak kecipratan minyak." Ia tertawa renyah.

"Aku ambil masker dulu, deh. Sekalian ambil wadah. Bakwannya jangan dihabisin, ya! Mau kubungkusin buat Ibu Nur sama Mas Rizqi."

Rina gesit melangkah. Tahu-tahu sudah tidak kelihatan saja. Tatap Seno masih membuntuti jejak bayang perempuan itu; perempuan yang pernah bertamu ke rumah saat lebaran, juga pernah menerima lauk sahur dari ibunya; perempuan yang sama yang Seno antar pulang seraya ia nasihati untuk tak selalu mengiyakan orang—meski sejatinya, bukan gadis itu yang butuh nasihat.

"Ciee... Kok, ngelihatinnya gitu banget, sih?" Suara cempreng anak berambut panjang menyadarkan Sen dari lamunan.

"Eh, Mas yang waktu itu nyapa Mbak Rina, ya?" Anak berambut ikal ikut berseloroh.

Kemudian, anak berkucir dua yang memakai face shield alias kembar yang lain ikut menimpali, "Oh, yang waktu itu. 'Hai, Rin!' gitu katanya."

Tawa anak-anak menggema dalam ruangan. Dipta, bukannya menengahi, malah mengerling dengan tatapan meledek. Sengaja betul membuat Seno sebal. Sejenak, pemuda itu lupa tujuannya kemari. Ternyata, dunia Rina ramai sekali.

Kuliah, Kerja, NganggurCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang