II. 7. Bargaining

16 1 0
                                        

Bodoh. Pikiran intrusifnya menang. Dipta benar-benar melempar berkas lamaran kerjanya ke luar. Sekarang, laki-laki itu panik. Apalagi, dilihatnya gadis penghuni rumah bercat biru melihat aksinya barusan. Kalau bisa, ia ingin terjun bak adiwira, merengkuh kertas-kertas itu sebelum jatuh ke tanah, dan mendarat dengan heroik. Tidak. Dipta masih punya akal sehat dan jatuh dari lantai dua itu pasti sakit.

Ah, cewek itu ngapain teriak, sih?!

Bergegas pemuda itu berlari—ke luar kamar, menuruni tangga, lalu keluar dari kos-kosan. Terlambat. Saat Dipta sampai di depan jalan, berkas—CV, fotokopi ijazah, surat lamaran kerja—berserakan. Pemuda itu masih dalam pengaruh adrenalin yang membuat aliran darahnya makin cepat. Tiba-tiba seorang pengendara motor lewat. Dipta terhenyak seakan-akan jantungnya lepas dari tempat. Kertas-kertas itu terlindas ban motor. Kotor. Sia-sia sudah rupiah yang tergelontor.

Terlalu cepat bagi Dipta untuk meratap. Masih ada hal lain yang perlu diperhatikan. Satu dua lembar agaknya terbang sampai ke rumah seberang. Benar saja, Dipta lihat gadis itu memegang kertas di tangan. Meredam malu, sang pemuda memantapkan langkah ke halaman rumah itu. Semakin dekat, tatapannya bertemu dengan gadis yang menurunkan masker ke bawah dagu. Dipta menganjurkan tangan, hendak meraih kertas miliknya. Namun, perempuan itu malah menarik tangan, menghindar, menjauhkan selembar kertas seakan itu barangnya sendiri dan ia tidak mau itu diambil orang.

Heh, apa-apaan?!

"Eh, salah! Astaghfirullah!" Sang gadis berseru latah. "M- maaf!" Ia menunduk dan mengulurkan kertas—yang aslinya milik pemuda itu.

Aneh!

Dipta menyambar kertas itu dan lekas berpaling. Ia lalu memunguti berkas lain yang berserakan di jalan. Sadar sudah tak bisa digunakan, sang pemuda melampiaskan kesal dengan meremas dan merobek-robek kertas-kertas itu sebelum dibuangnya ke tempat sampah. Ia sudah tidak peduli bagaimana ekspresi wajahnya saat ini. Pokoknya, semua gara-gara pandemi!

-o0o-

Gara-gara kejadian memalukan itu, amarah Rina seketika lenyap. Digantikan jengah. Ia kembali memasang masker guna menutupi wajahnya yang memerah. 

Sebelum anak-anak mulai meledeknya, Rina segera menyergah, "Mana sini yang butuh dibantuin!"

Rupanya, laptop Eren nge-lag. Itu yang tadi mau disampaikan Delima. Setelah Rina amati, jaringan internetnya yang bermasalah. Gadis itu menawarkan Eren menggunakan hotspot dari telepon selulernya daripada modem USB. Kelas sinkron anak Muhammadiyah itu berakhir beberapa menit lagi, sih.

Tugas Fio sudah terlanjur dikumpulkan. Setelah Rina periksa ulang, separuh dari jawabannya tidak tepat.

"Maaf, ya," gumam sang kakak sambil meringis.

Rina lantas mengajari anak itu cara menjawab yang benar. Dimulai dari menjelaskan konsep dasar. Pelan-pelan.

Sebelum Zuhur, seluruh kegiatan belajar-mengajar daring berakhir. Gara-gara pandemi, bahkan sekolah yang menerapkan model full day school pun membuat kebijakan untuk memangkas waktu belajar-mengajar. Masuk akal. Percuma juga belajar sampai petang kalau esensi dari pendidikan—transfer moral, bukan hanya ilmu—tidak tercapai secara maksimal.

Sang gadis menghela napas lega. Hari ini berakhir dengan baik, untungnya. Entah besok. Seraya berselonjor kaki dan menyandarkan punggung ke dinding, Rina mengecek ponsel. Berdasarkan kalender akademik, pekan ini sudah masuk jadwal ujian tengah semester dan besok ada UTS Teori Bilangan. Seketika, ia jadi berat mengembuskan napas.

"Guys, besok kalian belajar di rumah aja, please," pinta Rina.

"Emang kenapa?" tanya Delima.

Kuliah, Kerja, NganggurCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang