9. Networking

32 4 0
                                        

Mereka menamai acara ini Open House Unit Kegiatan Mahasiswa: ajang UKM unjuk gigi dalam rangka menggaet anggota. Padahal, bahasa Indonesia punya padanannya: Gelar Griya. Sekali lagi, kampus jadi lebih ramai. Stan-stan UKM bertebaran di spot-spot strategis. Di lapangan utama, didirikan pula panggung untuk UKM yang ingin mengadakan pertunjukan.

Acara ini sudah berlangsung sejak pukul 10 pagi. Namun, Rina baru datang ke kampus bakda Zuhur. Ini hari Sabtu dan sebelum ini agendanya mengajar anak-anak Pelangi. Bukan masalah karena acara yang sifatnya tidak wajib ini berlangsung sampai sore. Yang tidak Rina kira, kampus ternyata masih ramai meskipun ia datang terlambat.

Gadis itu menimbang-nimbang untuk mengabari temannya, Meutia. Berkeliaran sendiri di tengah keramaian tidak terdengar sebagai ide yang bagus. Sebenarnya, beberapa kali ia berpapasan dengan orang yang dikenalnya, baik teman sekelas maupun teman kelompok saat ospek. Kendati saling bertukar sapaan ramah, Rina melihat mereka sudah punya gandengan; ada yang berombongan, ada yang membentuk kelompok kecil, ada yang berduaan. Gadis itu jadi sungkan untuk bergabung.

Sepertinya Rina dan Meutia terkoneksi lewat telepati. Meutia malah menghubungi duluan, menanyakan posisi Rina serta berkabar bahwa ia baru saja menunaikan Zuhur di masjid kampus. Tak ayal, Rina membalas pesan itu dengan menyatakan akan menghampiri Meutia.

"Oh, jadi Rina baru datang, toh. Nggak lihat pertunjukan teater tadi pagi, dong." kata Meutia saat keduanya akhirnya bertemu. "Ya sudah. Ayo saya temani keliling mumpung masih sempat."

"Kayaknya enggak perlu keliling juga, deh. Cuma perlu ke satu tempat. Aku sudah punya rencana mau ikut UKM apa."

"Heeh...?" Meutia membelalakkan mata. "Kok bisa?! Saya yang keliling dari tadi saja masih mikir-mikir sampai sekarang."

Rina tertawa kecil. Semalam, bermodalkan telepon pintar dan paket data, ia menjelajah situs direktorat kemahasiswaan. Dicermatinya macam-macam unit kegiatan mahasiswa yang ternyata jumlahnya di atas angka seratus. Ada yang berbasis agama, bahasa, budaya, keilmuan, olahraga, riset, teknologi, seni, dan banyak lainnya.

"Rencananya, aku mau ikut LDK saja."

"Wah, MasyaAllah!"

"Bukan karena aku ngerasa baik atau apa. Justru kayaknya aku butuh pegangan dan butuh diingetin."

Rina tidak tahu dunia perkuliahan akan segila apa. Kendati kampusnya bukan di kota, sehingga pergaulannya relatif terjaga, tetap Rina merasa memerlukan pegangan. Karena tanpanya, belum tentu ia sanggup istikamah beramal dan beribadah. Makanya jebolan madrasah itu ingin ikut lembaga dakwah.

"MasyaAllah." Meutia tidak menyembunyikan binar di matanya. "Kalau gitu ayo saya antar!" ajaknya semangat.

Stan Lembaga Dakwah Kampus itu didesain dengan nuansa putih dan hijau. Tempatnya lebih luas dari stan-stan lain, disekat jadi dua, masing-masing untuk ikhwan dan akhwat. Beberapa wanita berhijab menyambut mereka dengan ramah. Ada pula calon anggota yang sedang bertanya dan diladeni oleh aktivis dengan dresscode hijau-putih itu.

"Assalamualaikum, selamat datang!" sapa ramah seorang wanita berkhimar lebar. Suaranya sopan, tetapi bukan sengaja dilembut-lembutkan. Wajahnya teduh, menentramkan. Cantiknya tidak membangkitkan nafsu, tetapi menghadirkan malu.

"Waalaikumussalam. Ketemu lagi kita, Kak!" Meutia menjabat tangan wanita itu tanpa sungkan.

"Eh, iya. Kamu tadi sudah ke sini, ya? Udah isi formulirnya belum?"

"Hehe. Habis ini, Kak," jawabnya cengengesan. "Nah, ini teman saya yang sudah mantap mau masuk LDK, Kak! Rin, ini salah satu kader LDK Putri, Kak ... Eh, maaf, Kak, saya lupa."

Kuliah, Kerja, NganggurCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang