II. 23. Strengths

26 1 0
                                        

Mulanya, kendati Dipta datang dengan sayu, kuyu, dan terlambat dari jadwal, Rina belum merasa janggal. Maksudnya, pemuda jangkung yang sehari-hari pakai kaus gelap itu memang biasa tampil suram. Lagi pula, tadi Rina terburu-buru mengikuti kuliah. Barulah ketika mendapat laporan dari Fio,

"Mbak, Mas Dipta kenapa, deh?"

lalu Luki, "Mas Dipta ngajarinnya nggak bener, ih, Mbak!"

dan Eren sebagai pemungkas, "Mas lagi sakit, ya, Mbak?"

Rina sadar ada yang tidak beres.

Walaupun anak-anak sudah selesai belajar (dan Rina sedang tak ada jadwal di sekitar waktu ishoma), Dipta masih duduk di dekat pintu. Seakan enggan beranjak—lebih jauh, enggan bergerak.

Rina menegur dengan hati-hati, "Mas?"

Dipta menoleh. Ekspresinya tersembunyi di balik masker. Namun, pandangannya datar. Netranya tak mengandung barang setitik binar. Pemuda itu ogah-ogahan merespons, "Oh, iya. Udah waktunya balik, ya?"

"Mau duduk-duduk dulu juga boleh," sahut Rina. Pikirnya, kalau sedang galau, ia suka duduk-duduk menikmati semilir angin. Barangkali, Dipta juga.

Dan Dipta benar-benar bergeming. Bola mata pemuda itu terkunci, entah memandangi apa; mungkin ilalang yang bergoyang di halaman depan; mungkin daun palem yang mencuat dari balik gerbang rumah seberang; atau mungkin burung yang hinggap di atasnya, lalu terbang, lalu hinggap lagi di atas kabel listrik, lalu terbang lagi, dan sesekali siulnya terdengar.

"Lagi lihat apa?"

"Kayaknya enak jadi burung," gumam Dipta asal, "yah, manusia nggak bisa terbang, sih."

"Tapi ada—" Rina menahan ucapannya.

Namun, Dipta telanjur mendengar celetukan sang gadis dan melirik penasaran. "Tapi ada apa?"

"Eh, anu ... itu ...." Rina berkelit. "Nggak jadi, deh."

"Heh. Udah ditungguin juga," sergah Dipta. Ia sudah tidak memberi tatapan datar—sekarang berganti kesal. "Ngomong, nggak?!"

"Tadi aku cuma kepikiran Abbas bin Firnas," ujar Rina pada akhirnya, "orang pertama yang meyakini—dan mencari cara buat nunjukin—kalau manusia bisa terbang."

Mendengar kekehan dari pemuda di depannya, Rina memalingkan muka. Ya, maaf kalau pikirannya absurd.

"Sayangnya, ibnu Firnas tetap jatuh dan yang dikenal sebagai penemu pesawat adalah Wright bersaudara."

Rina tertegun. Ia tidak menyangka Dipta baru saja menanggapi celetukannya yang asal bunyi. Pikir gadis itu melanglang jauh. Jawaban Dipta barusan bukan sekadar balasan spontan. Bagaimana pemuda itu memilih kata jatuh; dan bagaimana ia menyiratkan bahwa proses tak berarti apa-apa di mata dunia sebab manusia terpaku pada hasil semata. Apa Dipta baru saja menghadapi ... kegagalan?

Sebelum Rina mengutarakan sepatah kata, Dipta berujar, "Yah, mungkin itu kelebihan kamu. Tiba-tiba banget ingat Abbas bin Firnas."

Pikiran Rina memang suka melompat-lompat. Begitulah caranya mengingat. Lagi pula, Dipta yang membalas celetukannya dengan cepat, itu lebih hebat, tahu.

"Kekurangannya, terlalu hati-hati. Bisa nggak, sih, enggak usah terlalu mikirin konsekuensi? Mulai dari ngomong spontan dulu, deh."

Mana bisa gitu?! batin Rina. Mana boleh ia berbicara tanpa memerhatikan konsekuensi, sedang ia amat tahu, bagaimana kata-kata bisa menyakiti. Seperti yang dialami gadis itu dua tahun lalu, saat ia gagal masuk PTN, mendadak semua omongan orang menjelma garam yang ditabur di atas lukanya.

Kuliah, Kerja, NganggurCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang