[Periode II Lengkap]
Sebelumnya berjudul, "Panggil Aku Dik Saja."
Sebagai mahasiswa, Seno kerap mengalami masalah gara-gara: terlalu aktif berorganisasi, terlalu bebas bergaul, dan terlalu sering terbawa perasaan untuk ukuran seorang laki-laki.
Menj...
Dengan dipublikasikannya bab terakhir kemarin, Periode I selesai sudah. Ternyata saya diberi kesanggupan menyelesaikan tulisan ini dalam waktu satu setengah bulan, dengan jumlah kata sekitar 29-ribu, 20-ribunya diikutsertakan MWMNPC2024 yang diselenggarakan bulan Agustus lalu.
Prekuelnya, Panggil Aku [Mbak] Saja, tamat setelah 23 bab sekitar 40-ribu kata. Ya, Periode I saja sudah mendekati angka segitu. Sekuelnya ini memang jauh lebih kompleks dan mungkin akan membengkak.
Menurut saya, salah satu kekurangan pada prekuelnya adalah kurangnya rasa penasaran yang ditimbulkan di akhir bab sehingga pembaca menunggu bab selanjutnya. Genrenya memang Slice of Life. Ceritanya seputar keseharian dan masalah yang timbul selesai dalam satu bab itu juga. Hal itulah yang saya coba ubah pada sekuel kali ini. Meskipun kayaknya malah jadi loncat-loncat, ya? Berpencar ke sana kemari. Memang saya harus banyak belajar.
Pada Periode I, para tokoh berjalan masing-masing. Sesekali jalan mereka bersilangan. Goal dari periode ini adalah menyadari eksistensi satu sama lain, sehingga mereka bisa berjalan beriringan di tahap selanjutnya.
Sebelum, makin jauh, ini dia ilustrasi para tokoh:
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kalian paling related sama siapa?
Rina si mahasiswa baru? Dipta sang pejuang skripsi? Arseno yang labil atau Rizqi yang terlalu baik? Komen di atas, ya, ;)
Tokoh terakhir memang agak ... far away, sih. Itulah alasan sudut pandang Rizqi paling sedikit dipakai.
Selanjutnya, tentang arc terakhir. Nah, ini. Menurut kalian, masih masuk akal, nggak? Hihi. Ide cerita ini 'kan sebenarnya sudah lama, bahkan sejak saya menulis prekuelnya.
Dalam bayangan saya dulu, scene itu terjadi justru setelah mereka saling kenal. Tiga cowok yang nungguin satu cewek di rumah sakit mungkin terlihat lucu. Mau dihapus, tapi dipikir-pikir, kenapa enggak kita manfaatkan untuk menempatkan keempat tokoh dalam satu ruangan? Jadilah klimaks periode ini. Tinggal membuatnya lebih masuk akal.
Begal di daerah tertentu di Semarang, itu rumor yang kadang seliweran sampai jadi bahan bercandaan. Menimbang perangai Rina yang keras kepala [dia marah dua kali di prekuelnya], memang itu [ya, reaksi Rina yang itu] yang mungkin terjadi. Tapi, RL gak kayak fiksi. Kalau di RL, mungkin si cewek udah gemetar dan kena mental duluan. Mari berdoa supaya kita dijauhkan dari kejadian begitu. Nauzubillah min dzalik.
Saya membeberkan dalih kenapa mereka bisa selamat di bab terakhir. Bab terakhir kayaknya kebanyakan dialog, maapkeun. Saya masih harus banyak belajar menyeimbangkan narasi, deskripsi, dan pemikiran tokoh. Kalau kebanyakan dialog dan pemikiran, entar kayak ceramah. Kebanyakan deskripsi, entar kayak teks eksposisi. Kebanyakan narasi, entar pembaca kurang menghayati. 😌
Saya agak sedikit menyesal kenapa harus menjadikan Semarang sebagai latar. Dulu, mungkin sebagai tribute karena saya pernah sekolah di sana. Di prekuelnya, lumayan berguna dan beberapa kali di-up, menyangkut CFD, BRT, dll. Mungkin juga karena saya pakai latar waktu tertentu---berkaitan dengan sistem masuk kuliah, dll.---meski enggak disebut. Masalahnya, kalau ngomongin PTN yang berhubungan dengan jurusan pendidikan di Semarang, orang pasti langsung kepikiran suatu univ. Tapi, saya harap pembaca enggak menyangkut-pautkan cerita ini dengan univ tersebut. Soalnya, saya enggak kuliah di sana, hehe. Meskipun sempat cari-cari sebagai bahan rujukan. Pengalaman yang saya peroleh saat kuliah dengan sistem akademik dan kemahasiswaan di sana mungkin nggak akan dapat titik temu. Jadi, saya putuskan kampus Rina dkk. adalah Universitas Fiktif. Tetek-bengek di dalamnya saya buat campur dan se-universal mungkin biar related ke banyak orang. Semoga, hehe.
Meskipun kayaknya lucu kalau Rina ngepost begini:
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hehe. (Bukan berarti ekspektasi lebih baik dari realita; balik baca Bab 0; atau baca prekuelnya.)
Ya sudah, deh. Segitu saja.
Kalau ada kritik, saran, kesan, pesan, harapan, sangat ditunggu untuk disampaikan dalam kolom komentar. 😊
Saya akan mengambil jeda agak lama. Tidak bisa menjanjikan kapan Periode II dimulai. Beberapa tahun ke depan akan berat, semoga saya diberi kuat. Doakan, ya...