1. Euforia Mahasiswa Baru

179 16 7
                                        

Ning Rina Firdausi dipenuhi euforia. Semangat menyala di nadinya. Senyumnya secerah matahari dan binar matanya seterang kejora. Hari ini hari pertama penyambutan mahasiswa baru. Bukan kali pertama ia menjejakkan kaki di kampus—tentu ia sudah melakukannya untuk mengurus daftar ulang. Akan tetapi, ini hari pertamanya sebagai mahasiswa.

Mahasiswa!

Iya, titel itu bukan apa-apa. Namun, mari kita hargai Rina yang sudah menunggu setahun lamanya demi mendapat predikat itu. Sejak beberapa hari sebelumnya, kepala gadis itu penuh dengan skenario imajiner. Bagaimana kelak ia akan mendapat teman? Bagaimana ia menjawab alasan memilih jurusan Pendidikan? Lebih jauh, bagaimana kalau ada yang bertanya, gap year setahun, ujung-ujungnya jadi guru. Nyesel, nggak, tuh? 

Rina yang sekarang bukan Rina yang dulu. Sekarang, ia akan menjawab dengan tegas: kenapa harus menyesal? Kalau tidak gap year, mataku tidak akan terbuka tentang profesi paling mulia. Kalau tidak gap year, aku tidak akan mendapat kesempatan untuk terlibat langsung dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa.

Keramaian menyambut begitu gadis itu memasuki lingkungan kampus. Agaknya, euforia sukses mencegah Rina dari sesak napas. Kepalanya celingak-celinguk mengamati hiruk-pikuk. Jujur, ia bingung. Informasi yang diterimanya mengatakan, orientasi akan dilaksanakan di aula utama. Rina tidak tahu lokasi aula utama. Kendati punya denah sekalipun, ia tidak dibekali kecerdasan spasial. Mari berdoa semoga ia tidak tersasar.

Cekrek! Bunyi bidikan kamera mengagetkan Rina.

"Lihat sini, Dik!"

Arahan itu membuat Rina panik mencari sumber suara. Ketika menoleh ke kiri, ia mendapati pemuda beralmamater yang membawa kamera. Padanya, terkalung tanda pengenal bertuliskan PANITIA. Rina mendongak untuk melihat wajah kakak tingkat yang rambutnya ditata membentuk jambul.

Cekrek! "Mahasiswa baru 'kan?" tanyanya retoris.

Cepat-cepat Rina menundukkan pandangan. Pertanyaan itu, entah kenapa, terdengar menyebalkan. Namun, reaksi Rina lebih menunjukkan kalau ia ketakutan. Yah, siapa yang tidak gemetar kalau tiba-tiba dipanggil oleh orang yang lebih superior.

Tanda pengenal panitia itu kemudian membuatnya ingat, ini kesempatannya untuk bertanya. "Maaf, Kak, aula utama di sebelah mana, ya?" tanyanya setelah memberanikan diri.

"Oh, mau ke aula utama. Kamu lurus, belok kiri, terus ..." Pemuda itu menggerak-gerakkan tangannya untuk menjelaskan. "Nanti ketemu kantin. Nah, aku titip es krim, oke?"

"Hah?" Rina melongo. Apa maksudnya coba?

"Kamu beliin aku es krim dulu, nanti kukasih tahu arah ke aula utama. Ngerti?!" jelasnya.

Menyadari keganjilan kakak tingkat di depannya, kaki Rina seperti punya refleks sendiri, membawanya segera pergi. Lurus, belok kiri. Gadis itu baru bisa bernapas lega saat kakak tingkat yang menyebalkan itu lepas dari pandangan. Kendati demikian, pikirannya masih dihantui skenario yang tidak ada di kepala Rina sebelum ini. Pertama, sang kakak tingkat memotret Rina tanpa persetujuan. Lalu, beliin es krim, apa maksudnya coba? Kalau mau titip belikan sesuatu, kakak itu harusnya memberikan uang sebagai pegangan 'kan? Masa Rina yang harus membayarkan? Bukannya itu lebih seperti pemerasan?

Untungnya, Rina mendapati segerombolan mahasiswi baru—ia tahu karena mereka mengenakan seragam putih abu-abu. Gadis itu cepat-cepat menempatkan diri di belakang mereka. Dari luar, orang-orang akan mengira mereka satu rombongan. Namun, kalau diperhatikan, Rina seperti anggota yang dikucilkan, tidak dimasukkan dalam percakapan. Persetan dengan pandangan orang. Setidaknya, sekarang gadis itu aman. Ia bisa ikut mereka ke aula utama, sekaligus terhindar dari keisengan kakak panitia.

-o0o-

Rina berjalan ke arah gerbang. Birunya langit sudah menjadi jingga ketika penyambutan mahasiswa baru hari pertama dinyatakan bubar. Isinya: sambutan, sambutan, dan seminar; tontonan yang—dengan segala respek kepada para pelakon—tidak begitu memukau; dan ice breaking yang membosankan. Hari pertama, Rina masih tidak—ralat, belum—punya teman. Ditambah kejadian tadi pagi tak mau enyah dari ingatan. Menyebalkan.

Segala euforia sudah raib, digantikan degup jantung yang garib. Rina lelah. Perempuan itu jadi ingin menutup wajah dengan cadar, biar air mukanya yang keruh dan tidak sedap dipandang tidak perlu dilihat orang. Ia ingin mengeluh, marah, membuang sampah dan serapah, atau barangkali sekadar mengembuskan napas panjang bersama kesah.

"Haah ...."

Sayangnya, hal yang Rina pikirkan barusan sudah dilakukan oleh orang jangkung di depannya. Dari pakaiannya: kemeja kotak-kotak yang warnanya sudah pudar dan celana hitam lusuh, jelas ia bukan mahasiswa baru. Pun rambut panjangnya diikat asal, agaknya wanita itu sudah melewati jalan yang panjang lagi sukar. Ah, Rina 'kan jadi kasihan. Ia jadi tertarik mengamati, sampai si rambut panjang masuk ke dalam angkutan kota, barulah tampak kumis tipis di wajahnya. Ups, rupanya ia seorang laki-laki.

"Permisi, dengan Mbak Rina?" tegur pengemudi ojek daring yang plat nomornya cocok dengan yang tertera di layar ponsel.

"Iya, Mas," tanggap Rina seraya memasang helm dan memosisikan diri di jok belakang.

Tentu, Rina bisa memilih naik angkutan kota seperti pemuda berkumis barusan. Akan tetapi, gadis itu tidak melakukannya karena dua hal. Pertama, ia belum sepenuhnya paham rute angkot di Semarang. Tercatat, dua kali pengalaman salah jurusan, pernah diturunkan di tengah jalan, juga pernah bablas sampai ke tempat antah-berantah. Alasan kedua, fisik dan batinnya lelah. Perempuan 19 tahun itu ingin cepat-cepat pulang ke rumah.

"Suwun, Mas," ungkapnya kepada pengemudi yang mengantarnya dengan selamat.

Lihatlah, rumah mungil itu sudah memanggilnya untuk masuk. Tak sabar untuk merebahkan diri di kasur yang empuk. Seraya menyerahkan helm, Rina memoles seutas senyum. Meski lelah, hitung-hitung sedekah.

"Matursuwun, Mbak," balas si driver tak kalah ramah.

Setelah itu, Rina bergeming sebentar dalam posisinya untuk menghargai si pengemudi. Namun, alih-alih segera pergi, mas-mas ojol itu justru membuka gerbang rumah di seberang. Juga memasukkan motornya ke dalam. Rina menatap heran.

"Kosan saya di sini, Mbak."

Pernyataan si pengemudi sukses membuat Rina melongo. Sejak kapan di depan rumahnya—tepatnya, rumah Pakde yang ditinggalinya—ada kos-kosan? Bisa-bisanya dapat driver tetangga sendiri. Benar-benar hari yang ajaib, yang untungnya diakhiri dengan tawa. Takdir memang suka bercanda, ya?

-o0o-

Author's Notes

Hidup itu memang penuh kebetulan. Sebagaimana Rina yang dapat driver tetangga sendiri; Kebetulan, tahun ini saya berniat menulis Panggil Aku [Dik] Saja. Kebetulan, Marathon Writing Month 2024 dibuka untuk umum. Kebetulan, MWM dilangsungkan pada Agustus dan saya mestinya punya waktu luang di bulan tersebut. Begitulah, cerita yang diagendakan untuk September---hayo, ada apa dengan September?---ini akhirnya saya publikasikan lebih cepat. Tapi, karena beberapa bab pertama saya tulis di akhir Juli, jadi rasanya tidak bisa masuk hitungan MWM.

Nah, jika kalian kebetulan menemukan cerita ini, semoga kalian betah menemani perjalanan Rina dan kawan-kawan, dengan 'kebetulan-kebetulan' lain yang akan mewarnai hidup mereka. Terima kasih sudah membaca!

Salam, Hna_13

Kuliah, Kerja, NganggurCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang