Si kembar paling pemilih soal makanan. Mereka terbiasa dengan kemudahan; menu cepat saji di restoran, jajanan kekinian, dan makanan instan. Yang pasti, keduanya benci sayur.
Delima menatap enggan pada potongan kubis dan wortel dalam bakwan, juga daun bawang yang memberi warna kehijauan. Kendati memberi tatapan serupa, Nilam memberanikan diri mengambil sebiji bakwan, mencoba sedikit—tepatnya, mengerikitnya. Delima ikut mengambil satu buah yang lain. Ia berniat memilah potongan wortel, kubis, dan daun bawang. Biar ia makan jagung dan tepungnya saja.
Namun, Nilam lebih dulu berkomentar, "Enak." Suapannya jadi lebih besar.
Mendengarnya, Rina tersenyum dengan mata berbinar. Kemudian, atensinya beralih pada Delima. Tergugah melihat saudari kembarnya, Delima menggigit secuil bakwan jagung-sayur itu. Pipi tirusnya mengunyah pelan, lalu makin cepat, menikmati sebelum menelan.
"Iya, enak," sahutnya.
Makin-makinlah senyum sang koki melebar.
Seiring waktu, anak-anak lain berdatangan satu demi satu. Fio girang bak tupai diberi kacang. Kapan lagi dapat makanan gratis, katanya.
Luki tak banyak mengkritisi selain, "Mbak bikin sendiri?" dan "Agak beda sama buatan Ibu, tapi ini enak."
Glen menduduki takhta picky eater setelah si kembar. Maklum, anak orang kaya. Namun, alih-alih protes, anak laki-laki itu tak mau kalah dari Fio dalam menghabiskan bakwan di piring. Lalu, ada Eren.
"Eren nggak papa makan gorengan?" tanya Rina.
Kalau Luki-Fio biasa makan seadanya dan Delima-Nilam-Glen biasa makan semaunya, Eren terbiasa makan makanan sehat—anehnya, ia gampang sakit seolah tubuhnya terlalu peka. Ingat, Eren punya riwayat radang dan pernah kambuh setelah makan mi instan.
"Sesekali boleh, kok," jawab si kalem lalu ikut menikmati hidangan yang tersaji.
Rina tersenyum lega; lebar—sejembar dadanya sekarang. Lapang di hatinya menjelma padang, bahagia bermekaran. Rasanya, keringat dan kesabaran yang diramunya telah menjelma cinta, yang tersaji cantik di tengah mereka. Cukuplah syukur dan rela jadi upahnya.
-o0o-
Dipta, si pengangguran, tak punya agenda khusus di akhir pekan. Kadang ia menjelajah internet untuk menemukan lowongan pekerjaan. Namun, hari ini, cowok itu cuma mau malas-malasan. Sambil setengah berbaring, ia menonton animasi di layar ponselnya. Notifikasi pesan Rina di grup Bimbel Pelangi ia abaikan.
Barulah ketika beberapa menit kemudian Rina mengiriminya pesan pribadi, Dipta menghentikan sejenak aktivitasnya.
[Mas lagi longgar, nggak? Kalau iya, bisa tolong datang ke sini?]
Dipta membiarkan pesan itu tak terjawab, lalu membuka grup Bimbel Pelangi. Rina mengirim foto setumpuk bakwan. Warnanya kuning keemasan dengan butiran jagung dan corak hijau-merah dari wortel dan daun bawang. Caption-nya: [yang mau ayo mampir sini]. Sejak Ramadan, Rina jadi suka bagi-bagi makanan.
Kok, dia sempat masak, sih?! Pemuda itu menggerutu dalam hati. Dipta yang pemalas kadang-kadang alergi sama orang rajin. Jangankan keluar rumah, mengetik balasan saja malas. Begitulah cowok itu jadi silent reader dan lanjut menonton. Nanggung, satu episode lagi, batinnya.
Kira-kira setengah jam kemudian—Dipta sudah selesai nonton—pesan dari Rina kembali masuk.
[Mas, kalau lagi nggak ada kerjaan, bisa ke sini sebentar? Mau minta tolong sedikit, hehe 🙏]
Baiklah. Dipta menggeliat, merenggangkan tubuhnya yang jangkung. Kakinya memijak ubin, melawan malas, ia bangkit berdiri. Mending lah daripada nganggur. Pemuda itu tak mau repot-repot mandi, toh, cuma ke rumah sebelah. Ia mengucir rambutnya yang mulai panjang lagi dengan karet gelang. Oh, tak lupa memasang masker menutupi wajah yang kusam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kuliah, Kerja, Nganggur
Fiction Générale[Periode II Lengkap] Sebelumnya berjudul, "Panggil Aku Dik Saja." Sebagai mahasiswa, Seno kerap mengalami masalah gara-gara: terlalu aktif berorganisasi, terlalu bebas bergaul, dan terlalu sering terbawa perasaan untuk ukuran seorang laki-laki. Menj...
