"Aku enggak akan wisuda."
Pernyataan kontroversial itu dilontarkan Dipta ketika melakukan panggilan video dengan Ayah-Ibu di kampung halaman, Bang Eka beserta istri di rumah kontrakan, dan adiknya di kamar indekos khusus perempuan.
"Kamu nggak lulus sidang?" tanya heran Ibu dibumbui sok tahu.
Dipta mendengkus geli sebelum menjawab, "Aku udah ikut yudisium, udah dapat surat keterangan lulus, bentar lagi ambil ijazah, dan wisuda enggak wajib."
Ayah mengernyitkan dahi, tampak ingin bertanya juga.
Namun, Zahra, adik Dipta, lebih dulu menyela, "Abang nggak mau ngerayain wisuda bareng temen-temen?" Ia lantas berseloroh, "Eh, nggak ada temen, ya."
Sang Abang mendelik. Andai mereka bertatap muka, sudah Dipta jejalkan cabai ke mulut si adik.
"Kau sendiri, kuliah aman?" Anak kedua itu mengalihkan topik.
Gagal. Meski atensi Ayah dan Ibu sempat teralih pada cerita perkuliahan Zahra yang cemerlang, Bang Eka kembali mengungkit masalah wisuda Dipta.
"Dik, kalau perlu bayar, bisa Abang bayarin," tawar si sulung.
Dipta mendongkol dalam bisu. Di satu sisi, ia tahu abangnya bermaksud baik. Di sisi lain, perkataan abangnya memperjelas kesenjangan yang membentang sepanjang batas samudera Atlantik dan Pasifik: orang yang merdeka secara finansial dan orang gagal.
Pemuda berkumis tipis itu tersenyum miring. "Aku yang enggak mau, Bang."
"Memang kenapa, Dip?" Ayah tak tahan untuk tak bersuara.
"Malas aja. Lagian, Ayah-Ibu udah pernah ngerasain wisudanya Bang Eka, 'kan?"
"Ah, kamu ini apa-apa malas," sahut Ibu. "Ya sudah kalau memang maumu begitu."
Anak kedua itu menggaruk tengkuk, tertawa pahit. Barangkali, jauh di lubuk hati, Dipta justru berharap sebaliknya. Ia membayangkan Ayah atau Ibu menyanggah, bilang mereka tetap ingin hadir di wisuda Dipta karena ia berbeda dengan kakaknya.
Tidak, justru itu akarnya: Dipta berbeda dengan Bang Eka.
Dipta bukan sang Abang yang punya indeks prestasi bagus, pengalaman prestisius, bahkan dapat kerja sebelum lulus. Ia bukan anak pertama yang ditunggu-tunggu hadirnya, dinanti-nanti suksesnya. Tak ada yang bisa dibanggakan dari diri seorang Dipta. Tak ada yang bisa dirayakan dari kelulusan selain pergantian statusnya menjadi pengangguran. Maka, memilih tidak wisuda adalah pilihan yang tepat sejak awal.
"Kamu sudah dapat kerja?" Kali ini Ayah bertanya.
"Lagi usaha."
"Nanti kalau udah dapat ijazah pulang aja, daripada nganggur," saran Ibu.
"Yah, nanti makin sulit dapat kerja, dong," dalih Dipta menyembunyikan warna hatinya.
"Eka, coba bantu adikmu," titah Ayah. "Siapa tahu ada lowongan di perusahaanmu, kayaknya bidang kalian mirip-mirip."
"Ah, iya. Kamu minat jadi data analyst, Dik? Kayaknya anak IT bisa masuk, nanti diajarin juga, kok."
"Aku mau nyari kerja di sini dulu, Bang. Abang sendiri kerjaan lancar?" Lagi-lagi sang pemuda mengalihkan topik, memberi ruang bagi hatinya yang seperti dicubit.
Berhasil. Ketika bahasan di panggilan video itu beralih ke kehidupan Bang Eka yang meniti karir di ibukota bersama istri yang sedang hamil muda, Dipta merasa tak perlu menimbrung. Sebab, Ayah dan Ibu tampak berkali-lipat antusias. Wajah mereka berseri-seri saat menanggapi cerita sang putra tertua.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kuliah, Kerja, Nganggur
General Fiction[Periode II Lengkap] Sebelumnya berjudul, "Panggil Aku Dik Saja." Sebagai mahasiswa, Seno kerap mengalami masalah gara-gara: terlalu aktif berorganisasi, terlalu bebas bergaul, dan terlalu sering terbawa perasaan untuk ukuran seorang laki-laki. Menj...
