#Tentang Rina

23 2 2
                                        

Selamat! Bab ini menandai separuh dari Periode II. Dan arc Ramadan, adalah salah satu yang jadi favoritku. Arc yang Rina banget; tempat mencurahkan pesan cinta dan kekerabatan. Diramu dari segenggam kenang dan selaksa angan-angan, boleh jadi mengandung sejumput sesal pun sekuintal khayal. 

Menulis tentang Rina, laiknya menulis tentang diri sendiri. Pemikirannya yang kompleks; paradoks dalam personalitasnya, rasanya seperti berkaca. Rina yang canggung, tetapi kadang menggebu-gebu, dan di waktu tertentu bisa jadi sangat lembut. Kadang ia terlalu banyak berpikir, penuh perhitungan, tetapi mengambil keputusan secara spontan, mengikuti intuisi alih-alih logika atau perasaan. 

Akan tetapi, satu hal yang perlu kucamkan. Rina bukan aku. Dan selamanya begitu.

Latar belakang kami tak sama. Dalam hal ini, aku menetapkan Rina terlahir dalam keluarga agamis-konservatif; ayah keras dan ibu pasif yang berpatok pada nilai-nilai lawas. Sesuatu yang membuat Rina tidak dekat dengan orang tuanya. Rina tahu orang tuanya baik, tapi bahasa cinta mereka nggak sampai ke Rina. Telah kusiratkan bagaimana ia enggan bercerita pada orang tuanya; baik pasca kecelakaan atau sebelum jadi anak asrama; perbincangan mereka selalu tidak menyenangkan. 

Ajaibnya, dengan latar belakang seperti itu, Rina nggak pernah punya pacar. Atau belum. Padahal, konon, orang yang nggak dekat dengan keluarga bakal haus perhatian dan jadi gampang jatuh ke lawan jenis. Rina nggak gitu. 

Rina menyerap cinta dan kebajikan dari sekitar kendati itu sekecil renik; ia sadar betul semua itu bersumber dari Sang Maha Pengasih: tempatnya bersandar, mata air yang tak pernah kering; dengan itu sang gadis mengaliri tangki cintanya, sampai penuh senantiasa, dan ia jadi punya energi untuk menyalurkan cinta pada makhluknya yang lain.

Aku lebih tua dari Rina ketika menuliskan kisahnya. Meski apabila ditilik dari tahun lahir yang kutetapkan dalam kepala tetapi tak kusuratkan dalam cerita, Rina yang lahir lebih dulu. Aku telah mafhum bahwa: perjalanan menuju dewasa butuh waktu yang tak sebentar; bisa menahun untuk sekadar menerima diri sendiri; butuh lebih dari itu untuk berdamai dengan masa lalu dan memaafkan. Namun, dalam sebuah cerita, konflik butuh konklusi. 

Jadi, pada akhir arc ini, aku memutuskan bahwa konflik batin Rina dengan kedua orang tuanya telah menemui akhir. Pada bab-bab selanjutnya, seharusnya narasi tersirat tentang orang tua Rina berkurang dan kita bisa fokus pada aspek pendewasaan yang lain.

Yaa, gitu aja, sih. Dan meski aku menuangkan diriku sendiri saat menulis Rina, sejujurnya saat ini aku sedang berada di fase Dipta. Alias: suram, loyo, gabut, hilang arah. Jadi, seperti aku akan benar-benar slow-update setelah ini. Maafkan. 

(Jangan ge'er, aku tahu nggak ada yg nungguin, jadi selamat dan maafkan itu buat diriku sendiri, haha).

Salam, Hna_13

Kuliah, Kerja, NganggurCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang