II. 27. Limit Integritas

22 1 0
                                        

Pukul 10.45, Dipta sedang melamunkan masa depan dan ia mendengar Rina mendengus kasar setengah berteriak. Kenapa lagi tu anak?

Keluar kamar ke ruang depan, masker Rina belum sempurna terpasang, tetapi ia langsung bersandar pada tembok seraya berselonjor kaki—dan mengeluh, "Ah, udah berapa kali aku ketiduran, coba?"

Ia melanjutkan, "Mana makin sering ngerjain tugas mepet deadline, ujung-ujungnya nanya gugel. Ah, gawat. Kalau kuliah online dilanjutin, bisa-bisa aku kehabisan integritas."

Dipta menyeringai. Rina memang orang yang seperti itu. Ia mungkin sesekali menggerutu tentang kuliah, tetapi bilang topiknya menarik; atau mencak-mencak sehabis ujian, tetapi bilang soalnya menantang. Namun, yang membuatnya berwajah masam tanpa tetapi adalah hal sesepele ketiduran. Barangkali, bagi sang gadis, musuh utamanya bukan soal sulit atau materi bejibun, melainkan kebodohan; dan ketidakjujuran.

"Fio, Eren, Luki udah pulang?" Tak semasam tadi dan maskernya sudah terpasang, Rina menyadari kegaiban beberapa adiknya.

"Eren barusan dijemput. Fio-Luki, 'kan, sekolah."

"Oh, iya. Baru ingat."

Belakangan, muncul kebijakan baru di dunia pendidikan. Entah karena laju penularan covid yang diyakini menurun atau karena sekolah daring terbukti berefek buruk bagi siswa, beberapa institusi—termasuk sekolah Eren, sekolah Fio, dan sekolah Luki—mengembalikan kegiatan belajar tatap muka, tetapi dengan sistem sif untuk tetap mengoptimalkan physical distancing. Fio dan Luki sebagai siswa kelas tinggi dapat sif dua, pukul sembilan sampai sebelas. Eren dapat sif satu, pukul tujuh sampai sembilan; pulangnya lanjut mengerjakan tugas sebentar di tempat Rina.

"Kalau kalian, gimana?" Rina menegakkan badan; beralih memerhatikan Delima, Nilam, dan Glen. "Aman sekolahnya?"

Delima tampak mengerjakan soal. Nilam sedang menyalin materi dari buku. Glen dengan wajah bosan sedang menyimak—atau berlagak menyimak—guru di depan laptop. Sekolah mereka swasta dan siswa-siswinya dari kalangan orang berada. Barangkali, alasan tatap maya masih diterapkan oleh kedua sekolah itu adalah tidak adanya kendala berarti dari segi fasilitas penunjang seperti gawai dan jaringan.

Delima menjawab, "Paling nanti aku minta cek jawaban kalau udah selesai."

"Oke."

Belakangan, anak-anak tidak banyak bertanya. Mereka makin lihai beradaptasi dengan teknologi. Kalau sedang lengang begini, Dipta seperti makan gaji buta. Tapi, enak, sih.

"Eh, Mas. Luki itu, 'kan, kemarin katanya mau ikut lomba. MathCom. Tahu, 'kan?"

MathCom, akronim dari Mathematics Competition adalah kompetisi yang diselenggarakan universitas mereka. Lebih tepatnya, diselenggarakan HMJ Matematika. Sebagai alumni nonmatematika, Dipta cuma pernah dengar sekilas, sih. Ini Rina basa-basi atau itu pengantar untuk minta tolong sesuatu?

"Bisa, nggak, Mas Dipta yang ngajarin dan bantu persiapannya?"

"Kok, nggak kamu aja?"

Rina menggeleng. "Enggak bisa! Soalnya aku anu ... itu ..." Ia mengecilkan suara. "Aku pembuat soalnya."

"Lah, kamu panitia?"

Dipta heran. Sejak kapan Rina aktif di HMJ? Lagaknya saja kemarin kesusahan bagi waktu sampai hampir menolak tawaran jadi asdos. Dipta jadi teringat Seno yang ikut ini-itu. Orang-orang kenapa pada aktif, sih? Dipta yang minim pengalaman jadi terlihat menyedihkan.

"Bukaan..." Untungnya, Rina lekas mengklarifikasi. "Tapi untuk pembuatan soalnya, tuh, pakai sistem outsourcing. Aku direkrut buat bikin soal doang."

Kuliah, Kerja, NganggurCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang