II. 13. Noktah Raya

17 1 0
                                        

Dua hari menjelang idul fitri—atau satu, tergantung hasil sidang isbat malam nanti. Rina mengisi hari dengan bersih-bersih. Ia hendak menyambut idul fitri dengan suci.

Di kampung, Bapak-Ibu biasa mengimbau anak tunggal itu bersih-bersih rumah. Namun, kali ini berbeda. Tak ada perintah. Rina tidak dalam kondisi terpaksa. Di rumah yang ia tempati sendiri, gadis belia itu bergerak dengan leluasa.

Ditatanya seluruh perabot dan perangkat; mulai dari kamar. Pakaian-pakaiannya ia lipat ulang, ditata satu-satu dalam lemari besar yang ia lap lebih dulu. Pun barang-barang penunjang kuliah; laptop dan alat tulis disimpannya dalam tas yang tergantung, buku-buku disusun di almari bagian bawah. Kasur kapuk diberdirikan, ia sandarkan ke dinding.

Rina beringsut ke dapur. Gadis itu memastikan wajan dan peralatan masak dalam kondisi bersih, tergantung apik di dinding yang dilapisi keramik. Sementara alat makan sudah rapi di dalam kabinet. Rina lalu menghujani meja tempat ditanamnya kompor dengan cairan pembersih. Diusapnya tiap sudut hingga tak meninggalkan noda barang sedikit.

Begitu terus, dilakukannya juga pada ruang-ruang yang lain di bekas rumah Pakde: ruang tamu, ruang keluarga, dan beberapa kamar yang tak terpakai. Tak lupa, ia menyapu dan mengepel lantai. Terakhir, disikatnya kamar mandi hingga kinclong.

Rina keluar dari kamar mandi, napasnya cepat dan pendek-pendek. Sementara kedua tangannya berkacak pinggang. Barulah terasa capainya sekarang. Berjam-jam berlalu dan pinggang gadis itu pegal-pegal. Badannya terasa lengket, entah oleh keringat atau pakaiannya yang basah. Ia kelelahan. Tak lama, azan Zuhur berkumandang. Pas sekali. Habis ini, ganti gadis itu bersih-bersih diri, mandi.

"Allahuakbar!"

Usai salat, Rina telentang di atas lantai tanpa alas. Kulitnya disapa dingin. Otot berikut tulang-belulangnya berelaksasi. Dada gadis itu naik-turun. Dirasakannya tiap helai napas yang dihela dan diembus. Aroma sabun pel terhidu, baunya manis. Sementara rungu tak mendengar selain deru napas sang gadis.

Dipandanginya langit-langit. Lampu bagaikan titik. Tatap gadis itu memburam dan menajam, seperti lensa kamera—tidak, lebih hebat dari kamera paling canggih sekalipun. Manik matanya telah diciptakan sedemikian hebat untuk menangkap tanda-tanda keagungan-Nya. Subhanallah.

Ruang itu lengang. Tak ada sesiapa selain gadis yang sedang telentang. Dalam sepi, gadis itu menemukan diri sendiri. Dalam sendiri, ia mendapati dirinya tak lebih dari satu noktah di semesta yang raya tak bertepi. Berulang-ulang disebutnya nama Tuhan; lewat kedip matanya, lewat embus napasnya, lewat bisu renungnya. Allahuakbar! Tak ada yang lebih besar dari Sang Pencipta Alam Raya.

Lama-lama, gadis itu terbuai akal pikirnya sendiri. Mengelana mengenang lika-liku jalan yang ia titi. Tak pernah ia rasa tenang sesyahdu ini. Kalbunya tetiba dipenuhi rindu pada zat yang sesungguhnya lebih dekat dari urat nadi. Allah....

Ramadan tahun ini penuh dijalani Rina di perantauan. Lebaran ini, gadis itu tidak bisa pulang. Namun, mengapa ia justru merasa senang? Mengapa ia malah merasa tenang? Mengapa tak terbesit di benaknya untuk pulang? Mengapa tak berbekas di hatinya rindu pada Bapak-Ibu di kampung halaman? Ataukah kata 'pulang' di otaknya telah didefinisikan ulang?

Mata Rina memejam. Diaduk-aduknya ingatan, mencoba mencari memori menyenangkan. Hari-hari lebaran biasanya ramai karena rumah yang ditempati Bapak menjadi tempat berkumpul keluarga besar setelah kakek-neneknya meninggal. Momen-momen bersama, saling bertukar kabar.

"Kamu masih SMA apa sudah kuliah, Rin?"

Ah, sial! Mengapa yang terbayang justru peristiwa dua tahun silam? Saat itu, ia gagal lolos seleksi PTN jurusan Kedokteran. Namun, yang lebih menyebalkan adalah respons Bapak.

"Dia ngincar kedokteran di ibukota. Ya, nggak lolos."

Tak ada hangat dalam suaranya, apatah pula dukungan. Saat itu, Bapak adalah orang paling keras yang menentang impian anak gadisnya.

Lupakan, lupakan!

Bapak sudah berubah. Rina tahu itu sejak beliau bilang, kamu boleh jadi apa saja. Meski dadanya sakit kala mengingat masa silam, ia dilarang mendendam. Lupakan!

Lupakan para orang dewasa. Lupakan Bapak atau Pakde atau Bude. Kenangan menyenangkan ada ketika ia bermain dengan para sepupu. Ada Mbak Veya dan kedua putra Pakde Joyo, juga mas-mas dan mbak-mbak yang lain. Rina kecil tertawa sampai sakit perut. Napasnya berdesah-desah setelah lari-larian ke sana kemari. Lelah, tetapi menyenangkan. Sesekali ia jatuh tetapi lekas bangkit sambil tertawa riang.

"Aduh, makanya jangan keras-keras mainnya."

Sial, sekarang ucapan Ibu terngiang. Kalimat penuh kekhawatiran, sarat pantangan. Itu meredam tawa, mengacaukan suasana.

"Rina, jangan nakal! Baik-baik sama mas-mbakmu!"

Lupakan, lupakan!

Rina tahu Ibu begitu demi kebaikan. Kebaikannya, tentu saja. Atau, tidak?

Ayo ingat hal-hal baik saja. Mungkin, tidak harus berbentuk sesuatu yang menyenangkan. Sekali lagi, Rina mencoba menyelami lubuk memori, mengais-ngais kenangan. Ia ingin mencamkan momen-momen ketika orang tuanya tampak berjasa. Misalnya, kalau Rina sakit perut, Ibu akan menyeduh daun jambu. Kalau ia demam, Ibu akan menyiapkan kompres dengan telaten.

"Makanya jangan makan sembarangan!"

Ah! Rina menyerah. Hal-hal buruk terus mencuat tanpa sanggup ia cegah. Ibu merawat Rina ketika sakit, tetapi disertai hardikan seakan anak itu selalu salah. Bapak membanggakannya jika meraih prestasi, tetapi diikuti tekanan untuk mempertahankan posisi. Bahkan, kala gadis itu mencoba mengurai ingat: Ibu membimbingnya salat dan Bapak mengajari mengaji; yang mencuat adalah bentak Ibu dan pecut rotan Bapak.

Ya Allah.... Aku kenapa?

Posisi anak gadis itu tak lagi telentang. Tahu-tahu ia sudah miring, bertumpu pada sebelah sisi badan. Tangannya meremas dada yang sesak. Tenggorokannya tercekat. Napasnya tersendat-sendat. Pelan-pelan lututnya menekuk. Meringkuk. Berpeluk dirinya sendiri.

Terjawablah. Rina mencari Mbak Veya saat bingung menentukan jurusan. Ia mendatangi Alamanda saat memutuskan keluar dari LDK. Ia mengandalkan Meutia juga Arunika. Bahkan, gadis belia itu merasa nyaman di samping Rizqi. Dan sayangnya tumpah-ruah untuk anak-anak Pelangi. Apakah itu karena: bersama mereka, Rina merasa diterima? Ia merasa didengar dan dihargai. Ia dibimbing tanpa dihakimi. Peran yang tak dipenuhi kedua orang tuanya sendiri.

Astagfirullah. Berdosakah?

Sang puan memohon ampun lewat sedu-sedan yang tak lagi bisa ia tahan. Ia menggerung. Raungannya memantul pada dinding-dinding. Menggema memenuhi ruang yang lengang. Menyesaki telinganya sendiri. Rina tak lagi peduli. Tangisnya sudah tertahan bertahun-tahun. Sebab, ia akan dimarahi lebih keras, dinasihati lebih panjang acap rengeknya terdengar. Kali ini, di rumah yang tak ditempati selain oleh dirinya sendiri, ia ingin menangis sepuas-puasnya. Menyeru sekencang-kencangnya.

Biar air matanya membanjir, menghanyutkan luka di lubuk. Biar tangisnya deras, menggerus dendam yang bertumpuk-tumpuk. Biar eluh meluber dari pelupuk, membersihkan benak yang keruh. Biar alirannya terus-menerus, memadamkan neraka; biar hilang belenggu jiwa, biar lapang kalbunya.

Di dalam sedu-sedan, ia memohon ampunan. Di dalam permohonan, ia langitkan harapan. Di dalam harap, ia memaafkan. Agaknya, pinta sang puan dikabulkan Tuhan. Dikirim-Nya kantuk, menyusup, menggantikan duka agar tak berlarut. Berangsung-angsur, isak tangis sang gadis berganti dengkur halus.

Gadis yang beranjak menuju usia dua puluh itu masih meringkuk. Kepalanya menunduk. Tungkainya tetertekuk. Tangannya bertaut di depan rusuk. Laiknya janin di dalam rahim. Sekarang Ramadan hari terakhir. Sang dara hendak kembali suci laksana bayi baru lahir.

-o0o-

Kuliah, Kerja, NganggurCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang