II. 22. Weaknesses

15 1 0
                                        

"Sen, besok pagi kamu ada kuliah?"

Pertanyaan dari Dipta sesaat mengalihkan Seno dari piring makan siangnya.

"Ada. Kenapa?"

"Um... Jam 10 juga ada?"

Bertanya begitu, Dipta tetap santai melanjutkan makan. Tangan kanannya memegang sendok. Tangan kirinya menyangga ponsel. Multitasking sekali.

"Ingatku ada. Sik, tak-cek dulu."

Seno meraih telepon pintar. Ditujunya laman sistem akademik yang memuat jadwal mahasiswa.

"Iya, ada."

Benar. Pada hari Selasa, ada kuliah Leksikografi pada pukul sembilan sampai sebelas. Mata kuliah Kritik Sastra menyusul pada pukul sebelas sampai satu siang. Waduh, nggak enak, nih, jadwalnya. Untungnya, setelah itu bebas.

Sebelum Seno menyuap satu sendok lagi, ia menyambung, "Jam 10 itu Mas ngelesi, ndak'an?"

"Ya, itu. Besok aku nggak bisa. Ada acara lain."

"Weh, dingaren seorang Mas Dipta ada acara. Jangan-jangan interview kerja."

"Ya ... iya."

"Sumwah?!"

Jawaban lirih Dipta sontak membuat Seno menghentikan kegiatan mengunyah. Nyaris tersedak, buru-buru ditelannya makanan di mulut. Seno merespons heboh sampai beranjak dari duduk. Ditinggalkannya garpu dan sendok, hendak menyalami pemuda yang—berketerbalikan dengan Seno—berwajah jutek.

"Wiih, akhirnyaa... Congrats, congrats!"

"Ish. Jangan keras-keras!" Dipta mendelik, mengelak. "Baru interview HRD, juga."

Seno tertawa. Siapa juga yang bakal dengar? Di rumah ini, 'kan, cuma ada mereka dan Mama Nur yang sedang di kamar. Rizqi masih di luar, biasa balik tengah malam.

"Semua orang harus tahu berita ini, nggak, sih?" goda Seno. "Jadiin artikel asyik, nih. Judulnya: Kuliah Nyaris Tujuh Tahun, Pemuda Suram di Semarang Akhirnya Mendapat Pekerjaan."

"Heh."

"Terus nanti ada foto Mas Dipta disensor. Namanya disamarin, sebut saja Ridwan." Anak itu tertawa-tawa sendiri. "Terus link-nya disebar di grup angkatan."

"..."

"Bercanda, bercanda."

Arseno mengerem keisengannya setelah melihat sendok di tangan Dipta tak lagi bertengger manis di antara telunjuk dan ibu jari, tetapi digenggam erat-erat dengan buku-buku jari yang memutih. Eling-eling, Sen, Dipta yang suram itu bisa jadi sangat seram.

"Kalau interview gitu, ditanya apaan, sih?"

Seno penasaran. Apa wawancara kerja sebelas dua belas dengan wawancara saat mendaftar jadi pengurus himpunan? Ditanya kelebihan, kekurangan, dan 'Apa alasan kamu memilih Divisi Kekeluargaan.'

"Mana kutahu." Dipta mengedikkan bahu. Acuh tak acuh.

"Wih, berarti ini beneran first time, ya?" Seno cengar-cengir lagi. "Mas nggak mau latihan lagi kayak waktu mau sidang? Nanti aku jadi HRD-nya."

Seno terbahak-bahak. Seru membayangkan dirinya bermain peran jadi pewawancara galak.

"Bercanda." Derai guraunya berhenti melihat muka sang lawan bicara lebih galak—anggap saja ekspresi default Dipta adalah menekuk wajah.

"Atau minta tolong Mas Rizqi aja. Mas Rizqi 'kan udah pernah kerja," saran Seno. Kali ini serius. "Eh, Mas udah cerita ke Mas Rizqi, belum? Atau baru aku yang tahu?"

Kuliah, Kerja, NganggurCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang