Imbauan libur dua pekan bak langit menurunkan emas alih-alih hujan. Mengejutkan dan—pada awalnya—menggembirakan. Arseno berdecak kala mendengar sorak riang anak-anak SD yang lewat di depan rumah. Libur, jadi bisa main.
Geram, pemuda itu keluar dan meneriaki mereka, "Diam di rumah, woi, bukan main!"
Tidak terima, bocah-bocah itu malah meledek lantas menjulurkan lidah, "Suka-suka kita, wlek...."
Dasar bocah! Mereka pasti tak paham. Di dekat mereka ada bahaya mengancam. Covid-19 sudah masuk ke Indonesia. Libur dua pekan sejatinya bermakna karantina, bentuk penanggulangan virus Corona yang menyerang sistem pernapasan dan konon ditandai dengan gejala anosmia.
Arseno suka membaca. Ia melahap apa saja, mau itu sastra lama sampai berita di dunia maya. Pemuda itu cukup percaya diri dengan wawasannya. Maka, kala Covid bertamu ke nusantara, Sen tidak terlampau kaget. Indonesia bukan negara pertama yang terjangkit pandemi. Wabah asal Cina itu lebih dulu bertandang ke Thailand, Jepang, Korea, Kanada, Italia, sampai Australia. Beragam bentuk penanggulangan telah diupayakan. Bahkan, tersiar berita bahwa kasus Corona di daerah asalnya, Wuhan, mulai menurun. Seharusnya Indonesia punya banyak rujukan untuk belajar.
Akan tetapi, harapan itu sebatas teori saat Arseno mendapati kakak perempuannya—beserta keponakannya—di ruang tamu.
"Astaghfirullah, Mbak ngapain ke sini?!" tanya Sen yang lebih terdengar seperti hardikan.
"Heh, bukannya seneng Mbak datang malah kayak lihat setan. Mentang-mentang sudah besar kamu, ya!" Kakak Sen, Mbak Sinta, mendekat mau menjewer telinga si adik sebagai sambutan.
Namun, Sen lekas berkelit. "Jaga jarak, jaga jarak!"
"Ya Allah, kayak sama siapa aja. Adik astaghfirullah." Sinta mengelus dada.
"Mbak yang astaghfirullah!" balas Sen. "Udah tahu pandemi, kok, bisa-bisanya malah datang ke sini. Bawa Sissy lagi, ya Allah. Anak kecil itu imunnya nggak kayak kita, Mbak, lebih rentan."
Mulailah Arseno mengoceh, menyebut istilah-istilah aneh. Sinta separuh mendengar, separuh tidak terima dinasihati adiknya. Sementara si kecil Sissy yang usianya belum genap dua tahun hanya mengerjap-ngerjapkan mata.
"Iya, iya. Wis lah. Aku mau ketemu Mama. Aku nginep sini sak malem. Seperti biasa, kamu ngungsi dulu, ya." Bersama Sissy, Sinta melipir ke kamar Ibu Nur.
"Heh, Mbak!" Arseno menjambak rambutnya frustasi. Aksi Sinta menegaskan kalau ucapan Seno tadi masuk telinga kanan keluar telinga kiri, tanpa diindahkan kepala apalagi masuk ke hati.
Seno mafhum kalau kakaknya yang sudah menikah terkadang kangen Mama. Ini bukan masalah Seno benci sang kakak karena ia harus meminjamkan kamarnya setiap Sinta berkunjung. Tapi, sekarang lagi pandemi. Kalau kakaknya terpapar virus, gimana?
-o0o-
[Kejora Arunika Guys, apa kabar kalian? Sehat-sehat semuaa]
[Meutia Alhamdulillah sehat Kaa, ini Meutia pulang kampung ke Aceh]
[Kejora Arunika Wah hati2 Tiaa ... Stay safe yaa]
Begitulah isi percakapan grup CitrAksara. Rina membacanya dengan bibir terkatup dan badan terbaring di kasur asrama. Niat hati ingin ikut membalas, tetapi Rina sedang malas. Nanti saja, deh.
Sejak pertama mendengar pengumuman libur dua pekan, Rina skeptis. Ia tidak menyambut berita dengan gembira, juga tidak grasah-grusuh ingin pulang kampung. Malah, wacana libur terdengar menyebalkan di telinga Rina. Apa gadis itu terlalu betah di kampus, ya? Lagipula, bagi mahasiswa, libur tidak bermakna bebas. Para dosen tetap memberi seabrek tugas. Rina meratapi to do list-nya yang makin panjang. Ah, menyebalkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kuliah, Kerja, Nganggur
General Fiction[Periode II Lengkap] Sebelumnya berjudul, "Panggil Aku Dik Saja." Sebagai mahasiswa, Seno kerap mengalami masalah gara-gara: terlalu aktif berorganisasi, terlalu bebas bergaul, dan terlalu sering terbawa perasaan untuk ukuran seorang laki-laki. Menj...
