Kalau ada yang perlu kusampaikan pada Rizqi, selayaknya author kepada karakternya, itu adalah, Maaf sudah membuat hidupmu begitu susah, Qi :"<
Arc #Menjemput Rizqi mestinya spesial menyorot Rizqi. Pernah kubilang bahwa karena aku belum merambah dunia kerja, sudut pandang Rizqi jarang dipakai. Tapi, mengingat latar waktu adalah era pandemi Covid-19, terbesitlah ide PHK untuk mengeksplor karakter ini lebih dalam. Meskipun dalam eksekusinya, Rizqi masih harus berbagi dengan perkembangan dinamika Rina-Seno-Dipta; plus Eren yang punya satu bab khusus. Koheren sekali dengan Rizqi yang gemar mendahulukan orang lain ^_^
Funfact: ia awalnya kunamai Raka, karena posisinya sebagai anak pertama dan seorang kakak. Kuganti demi judul #Menjemput Rizqi yang malah nggak jadi kupakai -_- . Kenapa nggak Rizky atau Rezky atau Rizki? Kalau itu udah jelas nama orang sehingga #Menjemput Rizqi gak jadi punya makna ganda. Kalau Rizqi, 'kan, aku bisa berdalih, itu transliterasi dari bahasa Arab رزق, sedangkan padanan bakunya dalam bahasa Indonesia adalah rezeki. Selain itu, pernah ada masa nama Rizky/Rezky/Rizki/R- terkenal redflag. Aku mau menepis stereotip itu dengan mengahdirkan Rizqi yang greenforest XD
Ketika merangkai personalitas Rizqi, aku ingin menghadirkan karakter untuk dikagumi. Ia punya segala hal yang kuidam-idamkan: saleh dan religius, pekerja keras dan bertanggung jawab, suka menolong dan trengginas, soft spoken dan good listener, juga seorang yang penyayang dan family man. Kurangannya cuma miskin saja---seperti Isogai Yuuma, haha >v<. Kekurangannya dari segi finansial jadi punya peran ganda: sebagai alasan kenapa ia harus nyambi jadi driver dan sebagai penyeimbang supaya ia tidak terlalu sempurna sebagai karakter.
Dari awal, aku memang menetapkan Rizqi sebagai driver ojol; sehingga momen pertama Rizqi-Rina adalah sebagai pengemudi dan penumpang. Ojek online itu punya peran yang krusial bagiku. Sejak aku SMA---masa draf seri "Panggil Aku" tercetus---ia menemaniku menempuh perjalanan setengah jam dari stasiun ke asrama di atas gunung---bukan gunung secara harfiah---melalui jalan mendaki dan berkelok-kelok. Saat aku kuliah, ia jadi penyelamat saat aku salah jurusan angkot dan nyasar ke arah yang berlawanan dengan arah pulang. Saat aku tinggal sendiri di kosan, ia jadi pahlawan yang kunanti-nanti dengan penuh pengharapan acap aku kelaparan.
Jujur, pengemudi ojek online adalah profesi yang banyak memberi manfaat. Dan itu keren. Sungguh. Mari berdoa---dan bersuara---semoga para driver di luar sana makin terjamin kesejahteraannya. Barangkali, kita pun perlu sejenak mengheningkan cipta, menolak lupa, mengenang Affan dan para korban kezaliman; yang kita berharap tak perlu terulang.
🌹
KAMU SEDANG MEMBACA
Kuliah, Kerja, Nganggur
Fiksi Umum[Periode II Lengkap] Sebelumnya berjudul, "Panggil Aku Dik Saja." Sebagai mahasiswa, Seno kerap mengalami masalah gara-gara: terlalu aktif berorganisasi, terlalu bebas bergaul, dan terlalu sering terbawa perasaan untuk ukuran seorang laki-laki. Menj...
