Terhitung hari ini, kegiatan perkuliahan sudah berjalan beberapa pekan. Hujan mulai turun—alhamdulillah—menandai peralihan musim. Rina bersyukur masih bisa mengikuti perkuliahan dengan lancar. Benar bahwa ia berkenalan dengan wajah Matematika yang lain lagi: definisi, teorema, dan bukti-bukti; yang untuk menentukan limit saja perlu berkenalan dengan epsilon dan delta. Sejauh ini, kecepatannya menyerap materi masih bisa mengimbangi penjelasan dosen.
"Rin, aku mau nanya." Lagi-lagi Tisha menanyainya seusai kuliah.
Rina menjelaskan dengan sabar. Sesekali membubuhkan catatan di buku Tisha. Bukan hanya Tisha, beberapa teman sekelasnya ikut mendengarkan. Ada Witri, Efa, dan Luna.
"Um, oke, lumayan paham." Tisha menggaruk kepalanya dengan pensil. "Tapi ... nanti lupa lagi," keluhnya seraya memanyunkan bibir.
"Sha, aku mau foto penjelasan Rina di buku kamu, dong," tukas Efa. "Izin, ya, Rin," ucapnya yang diiyakan Tisha dan Rina.
"Nanti share, ya," pinta Witri.
"Rin, boleh nggak kapan-kapan aku chat atau telpon kamu? Siapa tahu aku perlu tanya-tanya lagi waktu belajar kuis," tanya Tisha.
"Boleh, kok. Kalau aku bisa insyaAllah aku jawab."
"Oke, makasih banyak, ya, Rin. Maaf ganggu waktunya."
"Habis ini kemana, Rin? Pulang?"
"Asar dulu, mungkin. Dapat jamaah nggak, ya?" Gadis itu melirik jam dinding.
"Sempat, kok, Rin!" sahut Luna. "Mau ke masjid? Ayo, bareng aja!" ajaknya.
Rina menyambut ajakan itu dengan senang hati. Mereka beriringan menuju masjid kampus.
"Kamu ikut LDK juga, gak sih, Rin?" tanya Witri yang diangguki Rina. "Jangan lupa habis Asar nanti ada kajian, atau seminar, ah itulah pokoknya."
"Eh, masa?" Rina tersentak.
"Belum cek grup, ya?" singgung Luna.
Witri kemudian menjelaskan bahwa LDK mengundang alumni untuk sharing bakda Asar. Sebenarnya, kegiatan ini bagian dari kaderisasi untuk calon kader LDK yang mestinya dilaksanakan Sabtu dan Ahad besok. Akan tetapi, karena narasumber bisanya hari ini, acara tersebut dipindah menjadi bakda Asar.
"Digesernya agak dadakan, sih. Makanya jadi nggak wajib. Mungkin ada yang masih kuliah juga 'kan," papar Witri.
Kendati demikian, tentu Rina tidak akan menolak kesempatan untuk menimba ilmu dan menambal iman. Gadis itu makin bersemangat saja datang ke masjid. Mereka masih sempat menunaikan Asar berjamaah, walaupun masbuk. Setelah itu, area dalam masjid segera dikondisikan sebagai tempat kajian. Ikhwan dan akhwat duduk merapat di saf masing-masing—dipisahkan oleh hijab.
Rina mendapati Meutia juga datang. Ia melambaikan tangan ke arah kawan yang posisinya terpisah karena tidak datang bersama. Meutia membalas antusias—dengan suara yang berusaha diredam. Di samping Meutia, Rina mengenali beberapa wajah dari teman-teman sekelasnya—selain Witri dan Luna. Agaknya banyak anak Pendidikan Matematika yang berminat mengikuti LDK.
"Assalamualaikum teman-teman!" Sang moderator membuka dengan salam, yang lantas dibalas oleh segenap hadirin. "Hari ini kita kedatangan tamu spesial, nih. Apa kabar, Kak Zulfikar?"
"Baik, Alhamdulillah." Pembicara yang dipanggil Zulfikar itu memang berpenampilan selayaknya orang saleh. Sederhana. Hanya baju koko dan peci. Janggut tipis tumbuh di bawah dagu dan kacamata bertengger di hidungnya.
Rina memasang atensi untuk menyimak.
"Teman-teman tahu doa yang sering dibaca sebelum mulai belajar? Robbishrohli shodri wa, yassirli amri, wahlul 'uqdatam millisani, yafqohu qouli. Nah, itu tuh doanya Nabi Musa. Ada di surah Toha. Coba teman-teman buka, deh."
KAMU SEDANG MEMBACA
Kuliah, Kerja, Nganggur
Fiksi Umum[Periode II Lengkap] Sebelumnya berjudul, "Panggil Aku Dik Saja." Sebagai mahasiswa, Seno kerap mengalami masalah gara-gara: terlalu aktif berorganisasi, terlalu bebas bergaul, dan terlalu sering terbawa perasaan untuk ukuran seorang laki-laki. Menj...
