Rina menyeka peluh dengan punggung tangan. Digunakannya papan kerani sebagai kipas sebelum memasukkan benda itu ke dalam tas. Sepertinya, sebentar lagi hujan. Selain gerah yang tiba-tiba datang, tampak langit mendung begitu gadis itu keluar kelas. Rina harus segera pulang.
Gadis itu mempercepat langkah, seirama dengan angin yang berembus kencang. Embusannya menggugurkan dedaunan. Gemeresik terdengar ketika daun-daun kering menyentuh tanah yang diaspal. Rina hampir salah mengenali bunyi itu sebagai rintik hujan. Syukurlah, itu hanya angin.
Keluar dari gerbang utama kampus, Rina hendak menaiki angkutan kota yang berhenti di pinggir jalan. Baru gadis itu ingat, tujuannnya pulang bukan lagi rumah minimalis bercat biru. Sekarang semester genap dan mahasiswi baru itu menyandang status anak asrama.
Keamanan menjadi pertimbangan utama bagi Rina saat memutuskan pindah. Kecelakaan malam itu rupanya membuka pikiran si pemudi. Kalau tinggal di asrama yang jaraknya sepelemparan batu dari kampus, risiko perjalanan bisa diminimalisasi. Sebagai alasan tambahan, tinggal berhadapan dengan indekos putra menimbulkan seulas rasa risi. Begitulah, melalui teman-temannya, gadis itu mulai mencari informasi.
Pada liburan semester, niat Rina disambut interogasi di meja makan.
"Ndak baik perempuan tinggal sendiri," dalih si anak tunggal saat Bapak dan Ibu mempertanyakan mula di balik pintanya yang tiba-tiba.
Tidak, Rina tidak menceritakan detail peristiwa malam itu kepada orang tuanya. Gadis itu tidak siap, barangkali tidak akan pernah siap. Rina tidak bisa membayangkan hardikan Bapak pun ratapan cemas Ibu andai tahu putri semata wayang mereka pernah menjadi korban begal, korban penusukan, sekaligus pernah nusuk orang.
Tanpa bercerita saja, Bapak sudah meledek. "Halah. Kemarin saja ngotot mau tinggal sendiri. Baru sadar sekarang?"
Rina tak berkutik. Ia keburu kehabisan energi mendebat Bapak yang menyindir keputusan impulsifnya saat gap year. Biarpun, andaikata bisa mengulang waktu, Rina akan tetap melakukan hal yang sama. Karena merantaulah ia bertemu anak-anak Pelangi, pun menemukan jati diri. Seperti kata Rizqi pasca kejadian, takdir 'kan memang sudah ada yang ngatur.
Perihal anak-anak Pelangi, tenang saja. Rina tetap mengajari mereka saban akhir pekan, sekaligus mengecek rumah bercat biru kepunyaan Pakde. Rina tetap butuh pemasukan untuk menutup biaya asrama meski tergolong murah meriah.
Hujan benar-benar turun. Beruntung, Rina sudah sampai di depan asrama putri setelah menempuh kira-kira setengah kilometer jalan kaki dari kampus. Mahasiswi itu melepas sepatu, meletakkannya di rak, lalu ganti memakai sandal jepit. Meniti anak tangga, ditariknya selengkung senyum saat berpapasan dengan cleaning service. Kamar Rina terletak di lantai tiga.
"Assalamualaikum," salam Rina mengiringi ketukan pada pintu. Laku yang berakar dari ajaran yang diterima gadis itu sejak belia, ia bawa ke mana-mana: rumah yang hangat, kelas yang lengang, dan sekarang, ke dalam kamar asrama di perantauan.
Tisha yang sekarang jadi teman sekamar Rina memberi lambaian kecil sebagai reaksi. Rina meletakkan tas dan melepas jarum yang terpasang pada kerudung. Lantas naik ke kasurnya yang terletak di atas Tisha.
Di luar, hujan deras. Gemercik air bersanding dengan gemuruh, mencipta melodi yang memanjakan rungu, meninabobokan Rina hingga maniknya tertutup.
"Halo~ Iya, kamu gimana?"
Aih, Tisha yang sedang menelpon mengacaukan niat Rina untuk terlelap. Percakapan yang dihiasi nada-nada sayang bak distraksi di tengah melodi hujan. Kendati berusaha abai, telinga Rina seperti punya refleks sendiri untuk menangkap percakapan mesra yang menggelikan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kuliah, Kerja, Nganggur
General Fiction[Periode II Lengkap] Sebelumnya berjudul, "Panggil Aku Dik Saja." Sebagai mahasiswa, Seno kerap mengalami masalah gara-gara: terlalu aktif berorganisasi, terlalu bebas bergaul, dan terlalu sering terbawa perasaan untuk ukuran seorang laki-laki. Menj...
