II. 14. Silaturahmi

14 1 0
                                        

Allahuakbar... Allahuakbar... Allahuakbar

Laa ilaaha illallahu Allahuakbar...
Allahuakbar wa lillaahilhamd

Sejak bakda Subuh, gema takdir bertalu-talu. Gegap gempita dari seluruh penjuru. Seakan-akan, tak menyisakan ruang bagi tetumbuhan untuk sekadar bergerak. Seolah-olah, rahmat dari langit tumpah, bumi sesak, suka cita meruah.

"Beneran nggak gerak, dong," komentar Arseno.

Rizqi menanggapi, "Apanya?"

"Daunnya. Eh, tumbuhan maksudnya." Kepal tangan Arseno menyentuh dagu. "Apa karena pagi-pagi jadi belum ada angin, ya?"

Si jurnalis amatir sekaligus tukang baca itu mengobservasi sekitar. Perumahan ini tetap mengadakan salat id. Berpusat masjid di ujung gang, meluber sampai jalan. Berbondong orang menuju tempat salat. Para pria berpeci dan berbaju koko, menyampirkan sajadah di pundak. Wanita-wanita memamerkan gamis warna-warni. Mukena tersimpan dalam tas jinjing. Beberapa orang siaga membawa koran atau karpet. Sebagian besar warga taat protokol—mengenakan masker—kecuali segelintir oknum.

Arseno sendiri memakai baju koko bernuansa cokelat—dibelikan Mama, sepaket dengan Rizqi dan Dipta. Punya Rizqi warna hijau—kalau tidak dibelikan, pemuda itu pasti pakai baju lama, uangnya 'kan buat beli baju lebaran keluarganya di kampung. Sementara itu, Dipta dapat baju warna biru.

"Wis podo siap?" Mama Nur keluar setelah mengunci pintu. Ibu Seno itu langsung memakai mukena. Baju lebaran berupa gamis semi kebaya terlihat bagian bawahnya saja.

Sen tangkas menggamit lengan ibunda. Sebagian orang akan melihat anak bungsu itu menggelayut manja. Sebagian lain mungkin mengira si anak bermaksud menjaga.

Seno menutup gerbang. Lalu, tak sengaja tatapannya bersirobok dengan gadis di seberang. Sang gadis lekas menundukkan pandang. Seno tak bisa menebak air mukanya yang tertutup masker; menyisakan sorot mata yang pula sukar dibaca. Seperangkat alat salat didekap dengan kedua tangan. Pakaiannya tak berwarna, bersahaja. Namun, seakan-akan ia memancarkan kemegahan dalam tanduk lakunya.

Atensi Seno baru kembali ketika Rizqi membaca basmalah bersambung takbir. Memimpin jalan ke tempat salat id diselenggarakan.

Allahuakbar... Allahuakbar... Allahuakbar
Laa ilaaha illallahu Allahuakbar...
Allahuakbar wa lillaahilhamd

Takbir masih terdengar ketika mereka pulang dari tempat salat. Arseno sudah sibuk dengan telepon pintar; mengirim ucapan selamat hari raya via media sosial. Ramai pula ia mendapat balasan. Pemuda supel itu jadi tahu kondisi teman-temannya di tengah pandemi; termasuk Gege, Sakti, dan Aldo sang penyintas covid. Semua dalam kondisi sehat dan merayakan lebaran dengan versi masing-masing.

"Adek...." Mama Nur memanggil lembut. "Makan dulu, Dek. Ada sate, nih."

Sen bergegas menyambut. Anak bungsu itu tahu betul sejak kemarin sang ibu sibuk mempersiapkan lebaran: bikin ketupat, beli stok kue kering, masak opor, bahkan masih ditambah jenis masakan lain. Gulai dan satai itu kiriman dari kakaknya. Sekarang, Mbak Sinta berlebaran di rumah keluarga suaminya.

Melihat mamanya menyiapkan makanan seorang diri, Seno membatin, tumben Rizqi tidak menawarkan bantuan. Setelah celingak-celinguk, Seno mendapati si sulung sedang dalam panggilan video bersama ibu dan adik-adiknya. Wajah berikut gesturnya menunjukkan bungah. Syukurlah.

"Rizqi, Dipta, mana, Dek?"

"Tuh, Mas Rizqi di sofa," Telunjuk Sen teracung. "Kalau Mas Dipta nggak tahu. Di kamar mungkin? Mau Adek panggilin, Ma?"

Mendapat persetujuan Mama, Arseno naik ke lantai dua. Dilihatnya Dipta rebahan di kasur, masih pakai baju lebaran, sambil main ponsel.

"Baru beres salat id, udah tiduran aja," celetuk Sen. "Dipanggil Mama, tuh, disuruh makan."

Kuliah, Kerja, NganggurCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang