II. 18. Pengakuan Duka

23 1 0
                                        

Sekarang, Arseno digerayangi gamang. Seakan-akan, jelmaan dosanya merayapi tungkai yang gemetar. Sedang batu besar mengganjal, menghimpit dada. Sedih atau kasihan? Empati atau sekadar—entahlah.

Berupaya mengusir resah, Sen grasah-grusuh melangkah. Ia butuh kanal guna mencurahkan rahasia yang tak sengaja terbongkar. Juga, ia perlu menghindar. Di depan Rizqi, Sen khawatir tak mampu mengendalikan mimik wajah. Maka, ia pergi ke rumah seberang.

Pintu rumah bercat biru itu dalam kondisi terbuka. Arseno masuk dengan tergesa dan salam sekenanya. Di dalam, dua bocah perempuan bermain bola bekel. Sementara yang sedang khusyuk di depan laptop, seorang anak lelaki—Sen ingat namanya Glen, bocah itu kerap mampir ke rumah—dan Dipta.

"Rina mana?" Itu pertanyaan pertama yang Sen lontarkan. Salah fokus.

Seorang anak perempuan dengan rambut pendek dikucir dua menimpali, "Di rumahku."

"Eh, kamu bukannya ada dua, ya?" Lagi-lagi, Seno salah fokus. Dalam ingatannya, wajah anak perempuan itu biasa muncul sepasang—kembar. Ia buru-buru meralat ucapannya yang ambigu. "Maksudku, kamu nggak sama kembaranmu?"

"Kembar nggak mesti bareng melulu, kali." Kali ini, anak itu menekuk wajah.

Seno memalingkan wajah dari si anak. "Ngapain Rina—"

"Kepo banget, sih," potong si anak. "Mas siapanya Mbak Rina?"

"Temannya."

"Yah, kena friendzone," ceplos Glen. "Kasihan, deh."

Seno tertohok. Ia merutuki betapa kurang ajarnya anak zaman sekarang. Sialnya, Dipta—alamat pertanyaannya sebelum diserobot anak-anak—justru tertawa, tampak dari bahunya yang terguncang.

"Heh, Mas, jangan malah ketawa!" seru Sen kesal.

"Ya, kamu, sih." Yang paling tua di ruangan itu menyahut santai, "Rina di rumah sebelah, minjem kompor buat masak."

Mendapati jawabannya tak cukup memuaskan rasa penasaran Seno, Dipta menoleh ke arah Glen, "Kamu aja yang jelasin."

Seno kontan menatap sinis—Dipta benar-benar seorang pemalas.

Glen mengalihkan pandang dari gim yang ia mainkan bersama Dipta. Dengan gayanya yang tengil, bocah itu berucap, "Jadi gini..."

-o0o-

Singkat cerita, setelah misi memasang elpiji gagal total, Rina dan Dipta kembali ke ruang depan dengan wajah lesu. Rupanya, anak-anak sedang bermain bola bekel di ruang tamu. Giliran Luki melempar bola tetapi Glen jahil mengambilnya sebelum Luki mengumpulkan seluruh biji bikkelen.

"Udah jadi, Mbak?" Fio mengalihkan fokus dari permainan dan bertanya antusias. Ekor matanya mencari-cari bakwan panas.

"Nggak. Nggak jadi," sahut Rina, seraya melempar tatapan sinis pada pemuda di sebelahnya. "Kita nggak tahu cara pasang gas."

"Yaah...." Fio bergumam kecewa; bertepatan dengan Luki yang gagal menangkap bola, mematikan gilirannya.

Di tengah suasana muram, Nilam mengajukan saran, "Minta tolong Papa aja."

Tentu saja, ide itu Rina tolak mentah-mentah. "Janganlah. Memang Papa kalian nggak sibuk?"

"Sibuk, sih," sahut Nilam.

"Di rumah terus, tapi megang laptop mulu," tambah Delima. "Eh, masak-masak di rumah kita aja, gimana?"

"Nggak enak lah," tolak Rina. "Nanti tunggu Mas Rizqi—teman Mas Dipta—datang saja. Kalian lanjutin aja mainnya. Atau ada yang mau tanya pelajaran?"

Kuliah, Kerja, NganggurCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang