[Periode II Lengkap]
Sebelumnya berjudul, "Panggil Aku Dik Saja."
Sebagai mahasiswa, Seno kerap mengalami masalah gara-gara: terlalu aktif berorganisasi, terlalu bebas bergaul, dan terlalu sering terbawa perasaan untuk ukuran seorang laki-laki.
Menj...
Akhirnya, setelah mulut Dipta berbuih menjelaskan konsep faktor bilangan, Fio paham. Anak dengan rambut lebat yang diikat sebagian itu mulai bekerja mencari pembagi dari 15. Dibuatnya sepuluh garis lurus berjajar, lalu dicoretnya per tiga garis. Ada lima coretan, maka gadis itu menulis, [15 : 3 = 5]. Selanjutnya, ia menulis, [3 x 5 = 15], dan menambahkan 3 dan 5 sebagai faktor dari 15. Fio menulis sepuluh garis lurus lagi, dicoretnya per tiga garis, sisa satu. Maka, dikeluarkannya angka 3 dari terduga faktor 10. Lanjut ke angka 4.
"Ribet amat," komentar Dipta dengan dahi mengkerut. Ia mencebik di balik maskernya. "Kamu nggak hafal perkalian, pembagian?"
Fio menjawab, "Kata Mbak Rina Matematika itu bukan hafalan, tapi pemahaman."
Dipta mengaminkan dalam hati, Benar, sih. Cara yang dilakukan Fio tadi pun—sepertinya Rina yang mengajarkan—sebenarnya genius. Itu metode yang tepat untuk mengenalkan konsep pembagian untuk anak yang baru belajar. Akan tetapi, Fio 'kan sudah kelas empat sekolah dasar.
"Hm ... Tapi, tadi kamu jawab spontan 10 dibagi 2 sama dengan 5."
"Yaa, lama-lama jadi hafal, sih."
Dipta lantas menguji, "20 bagi 2?"
"10," jawab Fio cepat.
"Nah, itu hafal," komentar sang pemuda. "Matematika memang bukan hafalan, tapi hafal itu memudahkan banyak hal. Kalau ada yang udah kamu hafal, pakai aja. Nggak selalu harus nguli dari awal."
"Nggak papa, nih?"
"Iya, nggak papa. Sambil lihat tabel perkalian juga nggak papa. Jangan-jangan buat hitung perkalian juga kamu pakai penjumlahan berulang? Atau hitung kotak?" selidik Dipta.
"Iya," ucap Fio lugas.
Sangar, nguli banget! batin pemuda berkumis itu seraya menyeringai di balik masker.
"Mulai sekarang enggak perlu. Yang penting 'kan kamu sudah paham konsepnya. Kalau sewaktu-waktu lupa, kepepet, tiba-tiba nge-blank, nggak punya tabel, baru deh balik ke konsep."
Lekas anak periang itu mengiyakan saran Dipta. Netranya kedap-kedip mengikuti kepalanya yang mengangguk-angguk. Dipta berfirasat, meskipun lemah memahami konsep, Fio sebetulnya punya memori yang kuat. Kelebihan itu harusnya dimanfaatkan sebaik mungkin untuk menutupi kekurangan. Anak yang dimaksud saat ini kembali bekerja, sepertinya sudah tidak butuh bantuan.
Sang pemuda mengalihkan tatap, kali ini mengintip Lukita dan pekerjaannya—yang rupanya sama-sama tentang Matematika. Luki dan Fio satu tingkat, harusnya materi mereka mirip-mirip. Namun, Dipta lihat, Luki lebih canggih. Ia sudah bisa membuat pohon faktor, menguraikan faktorisasi prima, mencari faktor persekutuan terbesar dan kelipatan persekutuan terkecil.
"Ah, gampang itu," gumam Dipta, yang—tak disangka—memancing reaksi Lukita.
Luki merengut menatap Dipta. Air mukanya yang keruh seakan berkata, maksudnya?
"Aku kayaknya pernah buat programnya, deh. Tinggal masukin, keluar angka. Mau lihat?" Lulusan informatika itu berancang-ancang membuka laptop.
Luki tampak tertarik. Keruh di wajahnya berganti jadi girah. Mata bundarnya berbinar melihat kombinasi huruf dan simbol warna-warni yang tak dimengertinya, di dalam kotakajaib yang bisa mengeluarkan faktorisasi prima dari sembarang bilangan.
"Mau nyari FPB, KPK? Lebih gampang lagi. Mau angka berapa?"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.